Sosok Entrepreneur Di Balik TjeFuk
Dengan “caranya”, TjeFuk terus meroket. Siapa sosok unik di balik ekspansi TjeFuk? Bagaimana ia mengembangkan bisnisnya?
“TjeFuk bikin kulit kita bersih. TjeFuk juga bebas merkuri lho, pasti aman,” demikian suara wanita berwajah mulus mengiklankan kosmetik TjeFuk di layar kaca. Sepintas orang pasti akan mengira bahwa produk itu berasal dari Cina, karena talenta dan namanya berbau Negeri Tirai Bambu.
Tidak benar, Saudara. TjeFuk merupakan produk asli Indonesia. “TjeFuk itu diambil dari nama saya, Tan Tje Fu (Tje Fu artinya: anak yang membawa keberuntungan),” ungkap Pranoto Widjojo. “Apalah arti sebuah nama. Saya pakai nama sendiri supaya di belakang hari tidak ada yang bisa mengklaim. Lha wong pakai nama saya sendiri,” tambahnya seolah-olah merendah.
Justru dari pertimbangan penamaan itu terlihat pemikiran maju Pranoto. Ia selain mengamankan mereknya, juga membentuk karakteristik pasar kosmetik tersendiri. Karena pasar kosmetik umumnya dipenuhi produk tradisional, atau malah produk kosmetik impor yang banyak kandungan kimianya.
Pranoto masuk pasar kosmetik dengan gayanya sendiri. Tidak peduli penampilan – hanya menggunakan kemeja kasual sangat sederhana dan kantor yang layaknya gudang di kawasan Mangga Dua – pria berusia 39 tahun ini mengendalikan bisnisnya sejak Mei 2004. Baginya, kemasan dan penampilan nomor dua. Yang penting, produknya diterima pasar dengan baik.
Ditemui di ruang kantornya yang penuh sesak dengan produk sampel, Pranoto mengatakan, keputusannya terjun di bisnis kosmetik, lantaran prihatin terhadap produk-produk kosmetik – khususnya perawatan wajah – yang beredar di Indonesia. “Hampir semua produk mengandung merkuri dan hidrokinon,” tuturnya seraya menjelaskan bahwa merkuri hanya memberi manfaat semu dalam mengatasi masalah flek wajah. Sebab, jika sudah tidak digunakan, flek itu akan kembali muncul. Selain itu, merkuri juga memiliki berbagai efek negatif terhadap kesehatan manusia.
Lantas, bersama ibunya (Kartika, 60 tahun) yang memang sudah malang melintang di bisnis kosmetik, Pranoto melakukan penelitian untuk memperoleh formula racikan yang pas dan tidak berbahaya. Dalam penelitian itu, dilibatkan pula empat orang tenaga ahli dari Pentapharm, perusahaan kimia asal Jepang. Kemudian, karena keterlibatan membuat formula ini sehingga ia hanya menaruh jabatan Manajer Riset Pasar & Pengembangan PT TjeFuKu Indonesia di kartu nama, bukan Presdir atau CEO? ”Ya iyalah, memang itu yang saya lakukan. Mengembangkan pasar dan melakukan pendekatan kepada konsumen wanita biar mereka puas dengan TjeFuk,” jawabnya santai saja.
Setelah menghabiskan waktu hingga empat tahun (2000-2004), akhirnya sulung dari tiga bersaudara ini merasa menemukan formula yang tepat. “Saya membuat puluhan ribu sampel (perangkat perawatan kulit wajah yang terdiri dari krim siang, krim malam dan sabun transparan) yang saya distribusikan melalui toko kosmetik di beberapa kota di Indonesia,” Pranoto menerangkan. “Kami posisikan TjeFuk sebagai produk pemutih dengan formula Jepang,” tambahnya.
Pranoto sangat yakin dengan formula racikannya. Karena itu, untuk membuktikan bahwa produknya tidak mengandung merkuri dan hidrokinon – sekalipun hidrokinon diperbolehkan dalam batas tertentu – ia tak keberatan ketika Balai Besar Kimia dan Kemasan (Centre for Chemical and Packaging), Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Perdagangan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia menguji dan menganalisis item-item produk TjeFuk.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) ikut pula menganalisis produk ini. Sayang, hasilnya kurang memuaskan Pranoto. Karena tak puas, pria yang sempat kuliah di Jurusan Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada ini pun melakukan studi banding sekaligus hendak melebarkan sayap ke Malaysia. Sayangnya lagi, badan otorita di negeri jiran pun meragukan reputasi TjeFuk, meski akhirnya beberapa agen di negara itu mau membuka pasar TjeFuk. Tak patah arang, Pranoto lalu terbang ke Singapura (Oktober 2005). Di Singapura, TjeFuk kembali dianalisis oleh Centre for Analytical Science, Health Sciences Authority (BPOM-nya Singapura).
Langkah yang sama dilakukan Pranoto di Hong Kong. Setelah produknya dianalisis Pemerintah Hong Kong, ia pun membuka cabang di negara itu. Sekarang TjeFuk sudah bisa dijumpai di beberapa negara seperti Hong Kong, Singapura, Nigeria dan di Jepang. Tahun lalu, TjeFuk juga berhasil memperoleh pengakuan dari lembaga paten di Jepang. “Bahkan, agen-agen kosmetik di Malaysia yang sebelumnya meragukan kami, sekarang mulai mengorder,” kata pengusaha yang percaya feng shui dalam menjalankan strategi bisnisnya ini.
Untuk memperkenalkan produknya, Pranoto pun menempuh cara lazim yang dilakukan oleh produk-produk lain, yaitu komunikasi above the line. Cuma, – lagi-lagi ini keunikannya – TjeFuk tidak nmempersoalkan kreativitas yang njlimet. Iklannya sangat sederhana atau malah cenderung norak. Tidak seperti iklan kosmetik lainnya yang mengutamakan citra, TjeFuk tampil lugas dan to the point. “Ya, kami akan terus membuatnya lebih baik lagi,” ucap Pranoto singkat.
Tak cukup hanya dengan beriklan di layar kaca, TjeFuk pun dengan gagah berani mensponsori berbagai acara yang tergolong cukup besar, seperti Ulang Tahun Extravaganza, SCTV Music Award, dan Konser Tunggal Agnes Monica. Selain itu, TjeFuk menempuh kegiatan promosi lainnya seperti trade promo, memasang billboard, standing banner, dan beriklan di sejumlah media cetak.
Tak sedikit biaya yang digelontorkan untuk kegiatan promosi tersebut. Untuk membangun merek TjeFuk, Pranoto sudah menggelontorkan uang sekitar Rp 180 miliar. “Tahun lalu belanja iklan kami mencapai Rp 34 miliar,” katanya seraya menyebut bahwa tahun 2008 ini pihaknya perlu mengerem bujet promosi di kisaran angka Rp 10 miliar.
Diakui Pranoto, hingga saat ini ia belum melihat efektivitas iklan terhadap penjualan TjeFuk. Tak heran, ia pun mulai mengencangkan ikat pinggang untuk urusan yang satu ini. “Yang kemarin-kemarin itu saya ikuti nafsu. Tahun ini saya harus lebih berhati-hati,” ucapnya sambil tertawa.
Pranoto menuturkan, pada awalnya TjeFuk sangat sulit menembus pasar. Bahkan, ia sendiri harus turun untuk bergerilya ke ritel-ritel mempromosikan TjeFuk dengan menyebarkan puluhan ribu paket sampel. Kendati berat menembus pasar, untuk soal harga TjeFuk sangat percaya diri. Ia dibanderol dengan harga yang cukup tinggi, yaitu mulai Rp 200 ribu per paket (berisi krim malam, krim siang dan sabun transparan). “Kini kami membuka tiga gerai di wilayah Jakarta,” tukasnya.
Selain cara-cara biasa, Pranoto juga menempuh cara yang cukup unik. Ia menyebar SMS tentang bahaya merkuri ke lebih dari 10 ribu pemilik nomor seluler yang database-nya ia kumpulkan dari berbagai sumber. Lewat layanan SMS Pranoto mencoba mengedukasi masyarakat. ”Setidaknya saya bisa mengedukasi konsumen Indonesia. Mereka jadi tahu apa itu merkuri dan apa bahayanya bagi kelangsungan hidup manusia,” ia berujar.
Gaya edukasi TjeFuk yang terkesan memojokkan produsen lain mengundang kontroversi. Sampai-sampai BPOM – karena banyak mendapat komplain dari pihak yang menganggap iklan TjeFuk terlalu menohok produsen kosmetik dan para dokter yang membuka klinik perawatan wajah – memberi teguran. Salah satu iklan TjeFuk diminta untuk dihentikan penayangannya. “Saya bilang, kenapa tidak boleh? Saya tidak pernah bilang dokter tidak boleh menggunakan hidrokinon,” ceritanya tentang isu penggunaan hidrokinon yang berbahaya.
Langkah edukasi Pranoto memang tidak selamanya diterima baik oleh BPOM. Bahkan ketika hendak melakukan presentasi hasil penelitian dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia mengenai bahaya merkuri dan hidrokinon, langsung dilarang. “Saya pernah bekerja sama dengan Universitas Indonesia untuk menyelenggarakan seminar dengan topik yang sama, iklan seminar itu sudah terpasang di banyak media bahkan di televisi, tapi BPOM melarangnya,” ujarnya kesal.
Untuk mendistribusikan produknya, Pranoto menunjuk empat perusahaan sebagai distributornya. Setiap distributor memiliki otoritas untuk beberapa wilayah. Distributor di Surabaya misalnya, saat ini menjalankan aktivitas distribusi TjeFuk di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan sekitarnya. Sementara untuk distributor Jakarta memiliki wewenang di wilayah Jabotabek sampai Banten.
Meningkatnya permintaan membuat Pranoto berani untuk melakukan perluasan usaha. Kini, ia sudah memiliki tiga pabrik yang berlokasi di Tangerang, Mangga Dua dan Tanjung Duren, dengan kapasitas total mencapai 100 karton/hari (per karton berisi 44 pieces).
Sekarang, TjeFuk sudah berhasil merangkul pasar yang cukup besar. Pemain sekelas Unilever, P&G ataupun Mustika Ratu tidak lagi bisa memandang TjeFuk dengan sebelah mata. Kendati demikian, Pranoto masih tidak mau terlalu jumawa. Dia mengatakan, untuk mencapai break even point, setidaknya ia membutuhkan waktu sekitar 6 tahun. Karena ia mempunyai mimpi untuk membesarkan merek TjeFuk, menjadikannya pemain nomor satu di kategori produk perawatan kulit wajah dan tubuh di Indonesia. “Ke depan, saya ingin menerapkan sistem dagang yang win-win solution. Tidak membohongi dan tidak mau sukses di atas penderitaan orang. Kalau itu sudah terlaksana, saya kira orang bisa menilai sendiri,” ujar pria yang kini sudah memiliki 70 karyawan ini, seraya memasang target bahwa di tahun 2010 TjeFuk sudah dapat diterima pasar nasional dan internasional.
Ke depan, Pranoto sudah menyiapkan stategi baru untuk membuat TjeFuk meraih cita-citanya. Salah satunya dengan mengembangkan Rumah TjeFuk yang akhir tahun lalu sudah dibuka di Batam. Hingga tahun 2010 rencananya akan dibangun sebanyak 27 gerai Rumah TjeFuk di 27 kota di Indonesia, dengan nilai investasi sebesar Rp 1,5 miliar setiap gerainya. Saat ini TjeFuk baru memiliki 6 gerai konter TjeFuk plus satu Rumah TjeFuk.
Kendati kondisi TjeFuk kini sudah jauh berbeda, Pranoto tak punya niat untuk memindahkan kantor yang sekaligus berfungsi sebagai pabrik di ruko Duta Pertiwi, Mangga Dua itu. Dia menyebutkan, di ruko lima lantai itulah keberuntungannya berada. “Saya belum mau pindah dari sini karena hoki saya bagus di kantor ini,” ia bertutur.
Menurut Kafi Kurnia, pengamat entrepreneurship, keberhasilan TjeFuk sangat disokong oleh keberadaan Pranoto. Dana besar yang digelontorkan TjeFuk bukanlah faktor utama yang membuat produknya dapat diterima konsumen. ”Tidak juga! Biaya iklan Starbucks satu tahun lebih murah dibandingkan dengan biaya iklan Coca-Cola selama sehari. Dalam pemasaran ada dua sisi, kita bisa mencapai titik A dengan cara ini atau dengan cara yang lain. Di Barat, orang yang sudah sukses selalu menulis tentang kehebatan dirinya. Sebab, para entrepreneur itu merasa bahwa I did it my way,” ungkapnya.
Kafi juga menilai, Pranoto bukan tidak mempunyai kalkulasi dalam menjalankan bisnisnya, karena berani menggelontorkan uang yang sangat besar untuk sebuah produk baru yang belum jelas masa depannya. “Dia punya kalkulasi, tetapi cara mengalkulasinya berbeda dari kita, misalnya,” ujar Kafi, dan menurutnya, proses pemikiran Pranoto terlihat holistik, tapi tidak akademis.
BOKS:
Dari Peternakan Burung Walet Hingga Bermain Saham
Entrepreneurship Pranoto Widjojo ternyata tidak hanya teruji di bisnis kosmetik. Sebelum terjun mengembangkan TjeFuk, Pranoto adalah pengusaha percetakan. Tahun 1996 ia mendirikan usaha percetakan dari nol. Mulai dengan berutang di toko kertas sampai kemudian kini mendatangkan profit besar. Dikatakannya, modalnya cuma kerja keras dan mempunyai banyak teman.
Tahun 2002 bisnis percetakan ia serahkan kepada adiknya, Tan Tje Luk. Namun tak lama, di tahun 2006 percetakannya dijual. Ia merasa tak punya waktu lagi menangani bisnis percetakan. Adiknya pun ditarik untuk bersama-sama mengembangkan TjeFuk.
Saat ini ia masih memiliki bisnis sampingan, yaitu peternakan burung walet. Ada sekitar 11 rumah walet yang dikelolanya di Jawa Tengah dan beberapa daerah lain di Indonesia. “Setiap empat bulan sekali hasilnya dijual. Jika sedang panen setiap harinya bisa mencapai 80 kg. Saat ini harga sarang walet Rp 14,5 juta/kg, jadi coba hitung sendiri,” ungkap Pranoto, yang sempat menunjukkan beberapa susunan sarang burung walet dari lemari lokernya.
Pranoto juga sedang kepincut bermain saham di Hang Seng. Meski sempat kalah hingga Rp 41 miliar, permainan ini cukup membuatnya senang. “Saya pernah satu hari untung Rp 6 miliar,” Pranoto mengakui, sambil menyebutkan bahwa dalam waktu dekat ia siap membangun perusahaan sekuritas dengan nama First State.
Spekulasi yang dilakukan Pranoto bukan itu saja. Ia juga memborong 70 unit apartemen di The 18Th Residence, Rasuna Said, Jakarta. “Saya beli Desember kemarin dan di bulan itu sudah terjual dua unit,” katanya seraya menyebut harga apartemennya yang berkisar Rp 480 juta-1 miliar. Setelah ini, apa lagi yang mau diburu Pranoto?
Pengusaha Sukses : Sandiaga Salahuddin Uno
Manis-pahit dunia kerja dikecap Sandiaga Uno pada usia muda. Mengawali karier sebagai karyawan, meraih puncak karier dalam waktu singkat, hingga diberhentikan dari pekerjaan nan mapan, mencipta arus balik hidup Sandiaga untuk menjadi pengusaha. Tahun 2008 ia dinobatkan menjadi ”Entrepreneur of The Year” dari Enterprise Asia untuk predikat pengusaha terbaik. Pencapaian itu adalah buah dari pergulatan panjang. Namun, pria yang akrab disapa Sandi itu menyebut dirinya sebagai ”pengusaha kecelakaan”. Itu karena kiprahnya di dunia usaha dimulai tatkala kondisi karier dan keuangannya sedang terpuruk pada 1998. Pria lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cumlaude itu mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Tahun 1991 ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif 4,00. Kariernya terus melesat. Pada tahun 1994 ia bergabung dengan MP Holding Limited Group sebagai investment manager. Pada 1995 ia hijrah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan. Namun, kariernya itu tak berlangsung lama. Krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Semua tabungan hasil jerih payahnya yang diinvestasikan ke pasar modal juga turut kandas akibat ambruknya bursa saham global.
Kembali ke Indonesia
Sandi kembali ke Indonesia dan menumpang di rumah orangtuanya, Henk Uno dan Mien R Uno, karena tidak mampu membayar sewa rumah. Situasi sulit ini sempat membuat ayah dua anak itu hampir putus asa. Pergulatan batin dalam keterpurukan membuat Sandi berkeyakinan, menjadi karyawan membuat ia sulit memiliki kemandirian secara finansial. Pemikiran itu melandasi langkahnya untuk ”banting setir” dan menapaki dunia bisnis. ”Sebagai karyawan perusahaan, banyak hal dapat terjadi di luar kontrol kita. Apabila keadaan ekonomi memburuk, ada kemungkinan kita di-PHK (pemutusan hubungan kerja) meskipun kita memiliki prestasi di perusahaan itu,” tutur bungsu dari dua bersaudara itu. Pada tahun 1997 ia mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Ia mempelajari seluk-beluk bisnis, antara lain dari William Soeryadjaya. Pada 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usaha yang digarap meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan. Berbekal jejaring relasi dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi menjalankan bisnis itu. Usahanya menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu lantas dibenahi dan dikembangkan. Setelah pulih, aset perusahaan dijual dengan nilai tinggi. Ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih. Beberapa perusahaan telah dijual, antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics. Pada tahun 2007 Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS. Pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS. Sandi mengibaratkan dunia usaha seperti naik sepeda, yakni kerap jatuh-bangun. Hanya keberanian, optimisme dalam memandang masa depan yang membuka jalan untuk mendulang kesuksesan. Baginya, jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan. Dengan semangat itu, usaha yang digelutinya kini memiliki total karyawan 10.000 orang. ”Hidup harus punya target. Tanpa target, pencapaian akan sulit,” tutur pria yang menjabat Ketua Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu.
Dorong UMKM
Di bidang keorganisasian, pria penggemar olahraga basket ini pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2005-2008. Selama masa kepemimpinannya, jumlah pengusaha yang tergabung di Hipmi meningkat dari 25.000 orang menjadi 35.000 orang. Di mata koleganya, Sandi merupakan sosok inspirator bagi pengusaha muda yang minim pengalaman. Ketua Umum BPP Hipmi 2008-2011 Erwin Aksa menuturkan, Sandi gigih menanamkan prinsip bahwa pengusaha harus punya mimpi dan bekerja sepenuh hati. Sandi juga sibuk sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Ia mempunyai obsesi meningkatkan jumlah pengusaha Indonesia dari 0,18 persen menjadi 5 persen dari total penduduk pada 2025. Menurut ia, ada tiga masalah besar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM), akses pasar, dan pendanaan. Keprihatinan terbesarnya adalah nasib pengusaha kaki lima yang sering mengalami penggusuran hingga sulit meningkatkan kualitas SDM. UMKM selama ini dibiarkan tumbuh sendiri oleh pemerintah tanpa kebijakan yang berpihak. Namun, sektor itu mampu bertahan pada saat krisis dan menopang perekonomian negara selama sekitar 10 tahun. Belakangan, sektor UMKM menjadi pilar penciptaan lapangan kerja dengan kemampuan menyerap karyawan rata-rata 5-10 orang per unit usaha. ”Kebijakan yang diperlukan adalah memberi ruang bagi UMKM. Upaya menolong mereka bukan dengan menggusur, melainkan membuat pasar baru untuk berusaha dan membuka akses pasar,” kata Sandi. Meski senang berkecimpung dalam organisasi, ia mengaku belum tertarik untuk menduduki jabatan politik. Sandi menolak anggapan bahwa kesuksesannya saat ini merupakan jalan meretas karier politik. ”Yang diperlukan bangsa saat ini adalah pengusaha,” katanya.
Kembali ke Indonesia
Sandi kembali ke Indonesia dan menumpang di rumah orangtuanya, Henk Uno dan Mien R Uno, karena tidak mampu membayar sewa rumah. Situasi sulit ini sempat membuat ayah dua anak itu hampir putus asa. Pergulatan batin dalam keterpurukan membuat Sandi berkeyakinan, menjadi karyawan membuat ia sulit memiliki kemandirian secara finansial. Pemikiran itu melandasi langkahnya untuk ”banting setir” dan menapaki dunia bisnis. ”Sebagai karyawan perusahaan, banyak hal dapat terjadi di luar kontrol kita. Apabila keadaan ekonomi memburuk, ada kemungkinan kita di-PHK (pemutusan hubungan kerja) meskipun kita memiliki prestasi di perusahaan itu,” tutur bungsu dari dua bersaudara itu. Pada tahun 1997 ia mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Ia mempelajari seluk-beluk bisnis, antara lain dari William Soeryadjaya. Pada 1998 Sandi dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usaha yang digarap meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan. Berbekal jejaring relasi dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi menjalankan bisnis itu. Usahanya menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu lantas dibenahi dan dikembangkan. Setelah pulih, aset perusahaan dijual dengan nilai tinggi. Ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih. Beberapa perusahaan telah dijual, antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics. Pada tahun 2007 Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS. Pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS. Sandi mengibaratkan dunia usaha seperti naik sepeda, yakni kerap jatuh-bangun. Hanya keberanian, optimisme dalam memandang masa depan yang membuka jalan untuk mendulang kesuksesan. Baginya, jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan. Dengan semangat itu, usaha yang digelutinya kini memiliki total karyawan 10.000 orang. ”Hidup harus punya target. Tanpa target, pencapaian akan sulit,” tutur pria yang menjabat Ketua Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu.
Dorong UMKM
Di bidang keorganisasian, pria penggemar olahraga basket ini pernah menjabat Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2005-2008. Selama masa kepemimpinannya, jumlah pengusaha yang tergabung di Hipmi meningkat dari 25.000 orang menjadi 35.000 orang. Di mata koleganya, Sandi merupakan sosok inspirator bagi pengusaha muda yang minim pengalaman. Ketua Umum BPP Hipmi 2008-2011 Erwin Aksa menuturkan, Sandi gigih menanamkan prinsip bahwa pengusaha harus punya mimpi dan bekerja sepenuh hati. Sandi juga sibuk sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kamar Dagang dan Industri Indonesia. Ia mempunyai obsesi meningkatkan jumlah pengusaha Indonesia dari 0,18 persen menjadi 5 persen dari total penduduk pada 2025. Menurut ia, ada tiga masalah besar yang dihadapi pelaku UMKM saat ini, yaitu kualitas sumber daya manusia (SDM), akses pasar, dan pendanaan. Keprihatinan terbesarnya adalah nasib pengusaha kaki lima yang sering mengalami penggusuran hingga sulit meningkatkan kualitas SDM. UMKM selama ini dibiarkan tumbuh sendiri oleh pemerintah tanpa kebijakan yang berpihak. Namun, sektor itu mampu bertahan pada saat krisis dan menopang perekonomian negara selama sekitar 10 tahun. Belakangan, sektor UMKM menjadi pilar penciptaan lapangan kerja dengan kemampuan menyerap karyawan rata-rata 5-10 orang per unit usaha. ”Kebijakan yang diperlukan adalah memberi ruang bagi UMKM. Upaya menolong mereka bukan dengan menggusur, melainkan membuat pasar baru untuk berusaha dan membuka akses pasar,” kata Sandi. Meski senang berkecimpung dalam organisasi, ia mengaku belum tertarik untuk menduduki jabatan politik. Sandi menolak anggapan bahwa kesuksesannya saat ini merupakan jalan meretas karier politik. ”Yang diperlukan bangsa saat ini adalah pengusaha,” katanya.
10 Kisah Orang Sukses Yang Berawal Dari Kegagalan
1. Adam Khoo
Dia adalah orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.
Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas 4 SD, ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh 6 SMP terbaik di sana.
Akhirnya ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.
Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki 4 bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta. Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.
2. Albert Enstein
Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.
3. Aristotle Onassis
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya.
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.
4. Thomas Alva Edison
Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya pun membaca kertas tersebut yang berisi, “Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.” Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”
Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.
Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.
5. Chris Gardner
Sudah pernah nonton film atau baca buku “The Pursuit of Happyness”? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.
6. Ludwig Van Beethoven
Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil yang telah mempunyai 8 anak, 3 di antaranya tuli, 2 buta, 1 mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis termahsyur di dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
Ketika Beethoven berumur di ujung 20an, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.
7. Louis Braille
Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu supaya orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?
8. Abraham Lincoln
Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal.
Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.
Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun 1833.
Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun 1838.
Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.
Akhirnya pada tahun 1860, ia dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan menjadi salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.
9. Bill Gates
Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.
Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia dulunya DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy.
10. Mark Zuckerberg
Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang.
Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo sebesar 1 miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000).
Dia adalah orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.
Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas 4 SD, ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh 6 SMP terbaik di sana.
Akhirnya ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.
Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki 4 bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta. Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.
2. Albert Enstein
Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.
3. Aristotle Onassis
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya.
Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.
4. Thomas Alva Edison
Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. Ibunya pun membaca kertas tersebut yang berisi, “Tommy, anak ibu, sangat bodoh. Kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.” Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”anak saya Tommy, bukan anak bodoh. Saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”
Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.
Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.
5. Chris Gardner
Sudah pernah nonton film atau baca buku “The Pursuit of Happyness”? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olehnya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, tapi dia terus berusaha dan berjuang. Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis. Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.
6. Ludwig Van Beethoven
Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil yang telah mempunyai 8 anak, 3 di antaranya tuli, 2 buta, 1 mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis termahsyur di dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.
Ketika Beethoven berumur di ujung 20an, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.
7. Louis Braille
Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu supaya orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?
8. Abraham Lincoln
Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal.
Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.
Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.
Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun 1833.
Mengalami patah semangat pada tahun 1836.
Gagal memenangkan kontes pembicara pada tahun 1838.
Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.
Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.
Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.
Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.
Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.
Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.
Akhirnya pada tahun 1860, ia dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan menjadi salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.
9. Bill Gates
Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.
Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia dulunya DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy.
10. Mark Zuckerberg
Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang.
Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo sebesar 1 miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000).
Sembilan Naga Mafia Indonesia
Jaringan Sembilan Naga menembus berbagai daerah di Indonesia. Upeti untuk pejabat militer, kepolisian, atau pemda, membuat bisnis ini kian kuat. Jarum jam sudah bergerak ke angka 01.00 WIB, Sabtu dini hari. Malam pun kian larut dan menebar hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Namun, beberapa sudut Kota Jakarta tetap saja "panas" dan berdenyut. Sebuah siklus sosial yang tetap hidup. Jakarta memang tak pernah "mati" dari kehidupan malam, terutama bagi mereka yang doyan dengan dunia hiburan dan perjudian.
Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat. Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5 miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka, tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan. Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta.
Riwayatnnya memang sudah ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut ajaran agama tergolong haram jadah. Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi. Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari Yan Darmadi. Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa centeng amatir sampai jenderal profesional. Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap (togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah gesit. Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau per minggu. Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan, Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar, Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah, dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam. Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.
Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat, serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik Rp 10 miliar per malam. Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston, Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata, Arief, dan Cocong. Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul. Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang. Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam, Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di Markas Besar Polri. Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai sistem "kartu anggota".
Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi. Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5 miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya, bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran, Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.
Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki, adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu. Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang sekali disimpan di Indonesia.
"Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di Bursa Efek Jakarta. Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama (era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan. Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan Abah.
Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris generasi keempat. Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke mancanegara. Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja. Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang, Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido Star, yang bermarkas di Singapura.
Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia, bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara. Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?
Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak adalah dari sektor 303 ini.
Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303 ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak pernah makan duit judi," kata Anton. Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.
Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar. Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5 miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri. Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton, upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas, berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM. Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya. Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas. Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat banyak khususnya yg miskin.
Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga. Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan?????
Datanglah ke Kabuki, Hotel Prinsen Park, Kawasan Lokasari di Jakarta Barat. Lalu, Pelangi dan Raja Kota di Jalan Hayam Wuruk, termasuk Raja Mas di Kawasan Glodok, Jakarta Barat. Siapa pun bisa gambling dan mengadu nasib di tempat usaha milik Rudi atau kalangan penjudi sering memanggilnya dengan sebutan Rudi Raja Mas. Cukup dengan menitipkan Rp 1 juta di pintu masuk sebagai deposit, pengunjung bisa terlibat dalam kegiatan di dalam. Pernah menonton film God of Gamblers? Persis begitulah suasana di dalamnya. Ada puluhan meja rolet, kasino, dan ratusan mesin mickey mouse. Puluhan pekerja, dan ada juga puluhan penjaga berbadan tegap dengan rambut potongan cepak. Kabarnya, dari tiga lokasi perjudian itu, Rudi bisa menyedot Rp 5 miliar dana segar per malam. Hitung saja kalau di dikalikan 30 hari. Maka, tak kurang dari Rp 150 miliar per bulan. Hatta, berjudi bukanlah hal yang sulit di Jakarta.
Riwayatnnya memang sudah ada sejak zaman Belanda. Setelah Gubernur Ali Sadikin mengeluarkan izin judi pada pertengahan tahun 1967, berlombalah orang membuka bisnis yang menurut ajaran agama tergolong haram jadah. Ketika itu para penjudi alias junket sudah menghambur-hamburkan rupiah di beberapa lokasi perjudian. Misalnya di Petak IX, Copacobana, Jakarta Theatre, dan Lofto Fair Hailal. Muncullah beberapa pengusaha Indonesia keturunan Cina yang jadi primadona di bisnis ini. Sebut saja Yan Darmadi. Semasa Gubernur Ali Sadikin, Yan berhasil meraup Rp 1,5 miliar. Selain memiliki saham di empat lokasi perjudian tadi, Yan juga disebut-sebut membuka kasino di Surabaya pada tahun 1980. Konon, seperempat penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Buaya itu berasal dari Yan Darmadi. Tapi, kondisi tersebut tak lama bertahan. Setahun kemudian (1981), Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo mencabut kembali izin tersebut. Toh, jaringan mafia judi di Jakarta bukannya terputus, melainkan malah meluas ke seluruh Indonesia dalam konfigurasi Sembilan Naga. Jaringan ini mirip dengan Triad di Hong Kong dan Makau. Merekalah yang menguasai dan mengatur lokasi perjudian. Mereka membentuk satuan "pengamanan" yang mengikutsertakan jasa centeng amatir sampai jenderal profesional. Kini ada sedikitnya 44 lokasi perjudian di Jakarta (lihat tabel). Mulai dari kelas kakap hingga kelas teri. Dari yang terbuka, seperti toto gelap (togel), sampai yang tertutup (kasino dan rolet). Semua itu bertebaran di setiap sudut Jakarta. Sementara kota-kota besar lainnya, seperti Medan, Riau, Palembang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Manado, juga tak kalah gesit. Menurut mantan raja judi Anton Medan, tempat bermain judi terbesar di Jakarta kini ada di Gedung ITC Mangga Dua, Jakarta Barat. Di situ, beberapa bandar besar seperti Tomy Winata, Engsan, Yasmin, Chandra dan David berkolaborasi membangun usaha dan jaringan. Baik untuk wilayah Jakarta maupun seluruh Indonesia. Termasuk pengaturan upeti bagi sejumlah oknum pejabat tinggi TNI, Polri, Pemda DKI, ormas pemuda dan kemasyarakatan, serta wartawan. Dari lokasi itu, para bandar bisa meraup Rp 10 miliar-Rp 15 miliar per malam. Setelah dipotong modal pemilik saham, sisanya di bagikan ke seluruh jaringan pengamanan tadi. Ada yang per sepuluh hari, per bulan, atau per minggu. Untuk Jakarta, ada sejumlah nama dan kawasan perjudian potensial yang bisa disebut sebagai jaringan "Sembilan Naga" tadi. Selain Tomy Winata, Engsan, Yasmin dan David, masih ada Apow, pemilik rumah judi mickey mouse (MM) di Pancoran (Glodok), Jalan Boulevard (Kelapa Gading), Kasturi di Mangga Besar, Ruko Blok A di Green Garden serta di Jalan Kejayaan, Jakarta Barat. Nah, dari tiga lokasi itu, ia minimal meraup Rp 2 miliar setiap malam. Di beberapa lokasi lain, Apow juga membangun jaringan usaha sejenis dengan Juhua dan Ali Oan di Asemka, Jakarta Barat, serta di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.
Setingkat Apow, ada Rudi Raja Mas. Nah, taipan ini tergolong hoki. Lokasi kasino, rolet serta MM-nya terletak di Stadium dan Pelangi di Kawasan Hayam Wuruk. Kabuki Hotel Prinsen Park di Lokasari, Jakarta Barat, serta di Jalan Kunir, Jakarta Utara, termasuk yang di Pulau Ayer, juga mulai membawa keuntungan besar baginya. Kabarnya, dari semua itu, ia bisa menarik Rp 10 miliar per malam. Rudi tak sendirian. Untuk usaha di Pulau Ayer misalnya, ia menggaet Haston, Arief, Cocong, Edi P. dan Umar. Sementara untuk lokasi di kompleks perjudian kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, Rudi bekerja sama dengan Tomy Winata, Arief, dan Cocong. Dibandingkan dengan lokasi perjudian lain di Jakarta, gedung berlantai dua di Jalan Kunir I ini relatif agak sulit ditembus, terutama bagi mereka yang belum akrab dengan "kaki tangan" pemilik lokasi itu. Selain ditutup dengan pagar seng, tempat usaha itu juga dikawal puluhan tukang pukul. Nah, dari sejumlah lokasi perjudian yang ditelusuri FORUM, permainan kasino memang relatif banyak diminati penjudi. Permainan ini menggunakan piringan berlubang-lubang kecil yang dapat diputar dan dilengkapi dengan sebuah bola kecil. Setiap pemain memasang koin di meja berangka 0-38, yang terbagi dalam tiga bagian berdasarkan kelipatan bayarannya. Bagi pemilik koin yang angkanya sama dengan tempat bola, ialah sang pemenang. Selain jaringan "Sembilan Naga" yang bermarkas di Jakarta tadi, di pentas judi nasional ada beberapa nama lainnya yang juga termasuk dalam jaringan tersebut. Misalnya Wang Ang (Bandung), Pepen (Manado), Dedi Handoko (Batam, Tanjung Pinang dan sekitarnya), Jhoni F. (Surabaya), Olo Panggabean (Medan dan Aceh), dan Firman (Semarang). "Mereka inilah yang menguasai jaringan mafia judi di beberapa titik di Indonesia. Bahkan, kabarnya sudah masuk dalam jaringan mafia judi Hong Kong dan Singapura," kata sumber FORUM di Markas Besar Polri. Pasar Atom, Andika Plaza, dan Darmo Park merupakan daerah perjudian elite di Kota Surabaya. Jenisnya kasino dan bola tangkas. Tapi, tak semua orang bisa masuk ke arena itu karena dijaga ekstra ketat. Salah satunya dengan memakai sistem "kartu anggota".
Selain Jhoni F., kabarnya YE alias W, yang dulu tak aktif, kini kambuh lagi. Malah, ia kembali menjalin hubungan dengan Rudi Raja Mas dan Chandra di Jakarta. Rata-rata per bulannya, omzet yang masuk minimal mencapai Rp 5 miliar. Sementara di beberapa kota besar di Sumatra, seperti Medan, Pekanbaru, Palembang dan Jambi, judi buntut sudah beroperasi selama puluhan tahun tanpa hambatan berarti dari aparat keamanan. Di Medan, misalnya, bisnis yang paling terkenal adalah kupon togel Singapura serta permainan judi KIM yang dikelola Olo Panggabean. Mereka mengedarkan kupon-kupon melalui agen setiap Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu. Dalam sekali putaran, Olo kabarnya menerima bersih sekitar Rp 2 miliar.
Operasi mereka berjalan lancar-lancar saja. Kalau pun ada gertakan dari pemerintah, biasanya tak lama kemudian akan "aman" lagi. Pernah sekali waktu, para bandar judi sempat kaget ketika pada Mei 2000, Preiden Abdurrahman Wahid--waktu itu masih berkuasa--menuding Tomy Winata sebagai dalang judi di atas kapal pesiar. Namun belakangan tudingan itu ditarik melalui Jaksa Agung Marzuki Darusman. Pemilik kapal itu, kata Marzuki, adalah Rudi Susanto. Ialah kabarnya yang menggelar perjudian di atas kapal pesiar di lepas pantai teluk Jakarta yang menghebohkan itu. Sumber FORUM menyebutkan, sekali berlabuh, usaha Rudi Susanto tadi bisa mencetak duit sedikitnya Rp 500 miliar bersih. Sayangnya, banjir rupiah yang didapat para bandar judi seperti Rudi Susanto dan kawan-kawannya, jarang sekali disimpan di Indonesia.
"Setelah itu, mereka beli dolar dan langsung mentransfer ke salah satu bank asing di luar negeri," kata sumber FORUM di Bursa Efek Jakarta. Maraknya praktek perjudian di Indonesia tentu tak terlepas dari sebuah riwayat hitam bangsa ini. Apiang Jinggo alias Yan Darmadi adalah pemilik Peta Sembilan dan Kopabana, dan boleh dibilang sebagai raja judi pertama (era Orde Lama). Apiang memang sempat berkibar beberapa tahun, saat Ali Sadikin melegalkan judi di Jakarta. Namun, setelah keluar kebijakan pemerintah yang melarang judi, bisnisnya kabarnya sempoyongan. Tapi, kondisi itu tak berlangsung lama. Meski ada larangan, operasi bawah tanah tetap saja jalan. Nah, generasi kedua, diwarisi Robert Siantar dan Abah.
Sedangkan Sie Hong Lie, Liem Engsan alias Hasan, Apyang alias Atang Latif, serta mendiang Nyo Beng Seng alias Darmansyah, termasuk Anton Medan sendiri, adalah generasi ketiga. "Waktu itu saya menguasai tujuh lokasi di Jakarta. Sisanya di Batam, Jambi dan Medan," kata Anton Medan. Sedangkan Tomy Winata, Rudi Raja Mas, dan sederet nama lainnya tadi adalah pewaris generasi keempat. Di luar nama-nama tadi, masih ada tokoh lain yang beroperasi sampai ke mancanegara. Sebut saja Sie Hong Lie, ia memiliki usaha judi Lotere Phom Penh di Kamboja. Juga peternakan, pacuan kuda, serta bukit timah di Singapura dan Penang, Malaysia. Selain itu, ia memiliki dua kapal pesiar, Delfin Star dan Lido Star, yang bermarkas di Singapura.
Ada lagi nama Apyang, selain mengelola judi di Chrismast Island, Australia, bersama Robby Sumampouw, ia juga membuka bank, properti, dan hotel di Jakarta. Sementara mendiang Nyo Beng Seng punya jaringan judi di Genting Highland (Malaysia), Las Vegas (AS), Macau dan Perth, Australia. Usaha di Indonesia adalah perusahaan rekaman Irama Tara. Mengapa mereka bisa begitu aman dan kuat?
Menurut Anton Medan, semua itu tak terlepas dari jaringan pengamanan alias beking yang dibangun. Biasanya, setiap pergantian pucuk pemimpin TNI, Polri atau Gubernur DKI, para gembong itu kerap mencari jalan masuk sebagai partner. Maklum sajalah, sebagai pemimpin, tentu mereka membutuhkan dana operasional yang tak sedikit. Nah, pundi yang paling aman dan sulit terlacak adalah dari sektor 303 ini.
Uang yang mirip-mirip dana nonbudgeter bagi para pemimpin TNI, Polri, Pemda DKI, tokoh ormas dan OKP, termasuk wartawan, itu justru ada di bandar 303 ini. Akses ke para petinggi itu tidaklah sulit. Sebab, begitu ada sinyal mau dipromosikan sebagai salah satu petinggi, para bandar itu langsung mengirimkan kurir sebagai salam perkenalan. Hubungan itu terus terjalin secara alamiah pula. "Makanya, mustahil kalau ada jenderal yang bilang tak pernah makan duit judi," kata Anton. Upeti yang disalurkan juga tergolong tak sedikit.
Untuk oknum perwira tinggi TNI dan Polri misalnya, perbulan Rp 15 miliar. Sementara setingkat di bawahnya Rp 10 miliar. Turun ke bawahnya lagi, Rp 5 miliar. Begitulah seterusnya. "Itu belum termasuk permohonan bantuan dalam bentuk barang seperti mobil dan komputer," ujar sumber di Mabes Polri. Begitu juga dengan pejabat tinggi di Pemda DKI Jakarta. Masih menurut Anton, upetinya bisa Rp 10 miliar per bulan. Sementara Ketua OKP dan ormas, berkisar Rp 200-500 juta per bulan. "Yang berat itu kan dari kalangan aparat. Mulai dari Polsek dan Koramil hingga jenderal. Dana operasionalnya lumayan besar," kata salah seorang bandar kepada FORUM. Makanya, unjuk rasa masyarakat antijudi tak pernah disambut selayaknya. Maka jangan pernah mimpi, masalah judi tuntas. Yang perlu dicermati Pemerintahan Megawati sebenarnya ialah, menegosiasikan Judi dengan tokoh agama. Daripada hasil judi masuk mulut setan-setan backing judi tadi (cukong, preman dan jenderal korup sebaiknya JUDI dilegalkan saja di Indonesia) Agar pemerintah mendapat tambahan income tak kunjung kering yg dapat membangun fasilitas sosial yang digunakan bagi kepentingan rakyat banyak khususnya yg miskin.
Kita tahu, semua orang ingin matinya masuk sorga. Nah yang tidak ingin masuk sorga silahkan main judi. Gampang kan?????
Detik-detik Terakhir Soekarno
Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir.
-
Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
-
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
-
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
-
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu
-
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
-
“Pak, Pak, ini Ega…”
-
Senyap.
-
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
-
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
-
Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
-
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
-
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
-
“Hatta.., kau di sini..?”
-
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
-
“Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”
-
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
-
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?
-
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
-
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
-
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
-
“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.
-
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
-
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
-
Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
-
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
-
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
-
Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
-
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
-
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
-
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.
-
Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
-
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
-
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa, dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
-
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu
-
Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang paling dicintainya ini.
-
“Pak, Pak, ini Ega…”
-
Senyap.
-
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
-
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar.
-
Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
-
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia coma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
-
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
-
“Hatta.., kau di sini..?”
-
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
-
“Ya, bagaimana keadaanmu, No ?”
-
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
-
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal. “Hoe gaat het met jou…?” Bagaimana keadaanmu?
-
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
-
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
-
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang tidak punya nurani.
-
“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.
-
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
-
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
-
Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis.
-
Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
-
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
-
Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
-
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
-
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
-
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi: Soekarno telah meninggal.
Manajemen Stres
Seorang dosen sedang memberikan kuliah tentang Manajemen Stres. Dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada mahasiswanya "Seberapa berat anda kira segelas air ini?"
Mahasiswa menjawab mulai dari 20 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat
absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya
sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat".
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya".
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya!!
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi hanya dapat dirasakan jauh di relung hati anda.
Mahasiswa menjawab mulai dari 20 gr sampai 500 gr. "Ini bukanlah masalah berat
absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya
sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat".
"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya".
"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi......
Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya!!
Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi hanya dapat dirasakan jauh di relung hati anda.
Saat Kau Merasa Lelah dan Tak Berdaya...
Tuhan Tahu
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Tuhan tahu berapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Tuhan sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu dengan begitu saja...
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelpon...
Tuhan selalu berada di sampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa pusing atau tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
TUHAN TAHU
AKU MENGHORMATI ENGKAU
Aku memperlakukanmu sebagaimana adamu Suatu pribadi yang unik seperti setiap kita memiliki keunikan masing-masing.
Aku menerimamu sebagaimana adamu dan mempersilahkan engkau berkembang seperti kehendak Allah untukmu.
Aku tak akan memperalatmu untuk keuntunganku sendiri.
Aku akan berusaha mengenalmu sedapat mungkin, sebab aku tahu bahwa komunikasi dan pengenalan yang semakin dalam akan menumbuhkan rasa hormatku padamu.
AKU MEMPERHATIKAN ENGKAU
Apa yang terjadi padamu, penting bagiku. Aku menaruh perhatian tentang diri dan pertumbuhanmu. Aku ingin mendukung apa yang kau minati, bahkan jika itu berarti mengorbankan minatku sendiri.
AKU BERTANGGUNG JAWAB ATASMU
Responku terhadapmu tak lahir sebagai kewajiban yang membebaniku, tetapi sebagai suatu kesukaan.
Kebutuhan-kebutuhan rohanimu mendorongku mendoakanmu.
Aku ingin melindungimu, tetapi tanpa bertindak berlebihan. Aku akan mengoreksimu dalam kasih, tetapi aku tidak akan mencari kesalahan-kesalahanmu. Aku tidak akan senang akan kelemahan dan kegagalanmu dan aku tidak akan mengingat-ingatnya pula. Dengan Anugerah Allah, aku akan sabar dan tak akan mengecewakanmu. ( I Kor 13 )
Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia...
Tuhan tahu berapa keras engkau sudah berusaha.
Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Tuhan sudah menghitung airmatamu.
Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu dengan begitu saja...
Tuhan sedang menunggu bersama denganmu.
Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelpon...
Tuhan selalu berada di sampingmu.
Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Tuhan punya jawabannya.
Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa pusing atau tertekan...
Tuhan dapat menenangkanmu.
Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Tuhan sedang berbisik kepadamu.
Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
Tuhan telah memberkatimu.
Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...
Tuhan telah tersenyum padamu.
Ketika kau memliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Tuhan sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.
Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
TUHAN TAHU
AKU MENGHORMATI ENGKAU
Aku memperlakukanmu sebagaimana adamu Suatu pribadi yang unik seperti setiap kita memiliki keunikan masing-masing.
Aku menerimamu sebagaimana adamu dan mempersilahkan engkau berkembang seperti kehendak Allah untukmu.
Aku tak akan memperalatmu untuk keuntunganku sendiri.
Aku akan berusaha mengenalmu sedapat mungkin, sebab aku tahu bahwa komunikasi dan pengenalan yang semakin dalam akan menumbuhkan rasa hormatku padamu.
AKU MEMPERHATIKAN ENGKAU
Apa yang terjadi padamu, penting bagiku. Aku menaruh perhatian tentang diri dan pertumbuhanmu. Aku ingin mendukung apa yang kau minati, bahkan jika itu berarti mengorbankan minatku sendiri.
AKU BERTANGGUNG JAWAB ATASMU
Responku terhadapmu tak lahir sebagai kewajiban yang membebaniku, tetapi sebagai suatu kesukaan.
Kebutuhan-kebutuhan rohanimu mendorongku mendoakanmu.
Aku ingin melindungimu, tetapi tanpa bertindak berlebihan. Aku akan mengoreksimu dalam kasih, tetapi aku tidak akan mencari kesalahan-kesalahanmu. Aku tidak akan senang akan kelemahan dan kegagalanmu dan aku tidak akan mengingat-ingatnya pula. Dengan Anugerah Allah, aku akan sabar dan tak akan mengecewakanmu. ( I Kor 13 )
Anda Bisa Melakukan Kalau Anda Pikir Anda Bisa!
Titik Es Dalam Hati
Di sebuah perusahaan rel kereta api ada seorang pegawai, namanya Nick. Dia sangat rajin bekerja, dan sangat bertannggung jawab,tetapi dia mempunyai satu kekurangan, yaitu dia tidak mempunyai harapan apapun terhadap hidupnya, dia melihat dunia ini dengan pandangan tanpa harapan sama sekali.
Pada suatu hari semua karyawan bergegas untuk merayakan ulang tahun bos mereka, semuanya pergi dengan cepat sekali. Yang paling tidak sengaja adalah, Nick terkunci di sebuah mobil pengangkut es yang belum sempat dibetulkan. Nick berteriak, memukul pintu dengan keras, semua orang di kantor sudah pergi merayakan ulang tahun bosnya, maka tidak ada yang mendengarnya.
Tangannya sudah merah kebengkak2an memukul pintu mobil itu, suaranya sudahserak akibat berteriak terus, tetapi tetap tidak ada orang yang mempedulikannya, akhirnya dia duduk di dalam sambil menghelakan nafas yang panjang.
Semakin dia berpikir semakin dia merasa takut, dalam hatinya dia berpikir: dalam mobil pengangkut es suhunya pasti di bawah 0 derajat, kalau dia tidak segera keluar dari situ, pasti akan mati kedinginan. Dia terpaksa dengan tangan yang gemetar, mencari secarik kertas dan sebuah bolpen, menuliskan surat wasiatnya.
Keesokkan harinya, semua karyawan pun datang bekerja. mereka membuka pintu mobil pengangkut es tersebut, dan sangat terkejut menemukan Nick yang terbaring di dalam. Mereka segera mengantarkan Nick untuk ditolong, tetapi dia sudah tidak bernyawa lagi.
Tetapi yang paling mereka kagetkan adalah, listrik mobil untuk menghidupkan mesin itu tidak dibuka, dalam mobil yang besar itu juga ada cukup oksigen untuknya, yang paling mereka herankan adalah suhu dalam mobil itu hanya 28 derajat saja, Tetapi Nick malah mati "kedinginan"!!~~
Nick bukanlah mati karena suhu dalam mobil terlalu rendah, dia mati dalam titik es di dalam hatinya.Dia sudah menghakimi dirinya sebuah hukuman mati, Bagaimana dapat hidup terus?
Percaya pada diri sendiri adalah sebuah perasaan hati. Orang yang mempunyai rasa percayaan diri tidak akan langsung putus asa begitu saja, dia tidak akan langsung berubah sedih terhadap keadaan hidupnya yang jalan kurang lancar.
Tanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sendiri sering langsung memutuskan bahwa kita tidak mampu untuk mengerjakan suatu hal, sehingga kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi sukses? Kehilangan banyak kesempatan untuk belajar mandiri? untuk jadi lebih mengerti kehidupan ini?
Yang mempengaruhi semangat kamu bukanlah faktor-faktor dari luar, melainkan hatimu sendiri. Sebelum berusaha sudah dikalahkan oleh diri kita sendiri, biarpun ada banyak bantuan yang tertuju pada dirimu tetap tidak akan membantu..............
ANDA BISA MELAKUKAN KALAU ANDA PIKIR ANDA BISA
Kalau Anda berpikir Anda dikalahkan, Anda dikalahkan, Kalau Anda berpikir Anda tidak berani, Anda tidak berani.
Kalau Anda ingin menang tetapi Anda berpikir Anda tidak bisa, hampir bisa dipastikan, Anda tidak akan menang.
Kalau Anda berpikir Anda akan kalah, Anda kalah, sebab di dunia kita menemukan, SUKSES dimulai dengan KEHENDAK seseorang
Semua ada di dalam PIKIRAN.
Kalau Anda berpikir Anda berkelas rendah, Anda berkelas rendah, Anda harus berpikir tinggi, untuk meningkat.
Anda harus YAKIN dengan diri Anda, sebelum Anda bisa memenangkan hadiah.
Pertarungan di dunia tidak selalu dimenangkan oleh orang yang terkuat atau tercepat.
Tetapi cepat atau lambat, orang yang menang, adalah orang YANG BERPIKIR DIA BISA.
Di sebuah perusahaan rel kereta api ada seorang pegawai, namanya Nick. Dia sangat rajin bekerja, dan sangat bertannggung jawab,tetapi dia mempunyai satu kekurangan, yaitu dia tidak mempunyai harapan apapun terhadap hidupnya, dia melihat dunia ini dengan pandangan tanpa harapan sama sekali.
Pada suatu hari semua karyawan bergegas untuk merayakan ulang tahun bos mereka, semuanya pergi dengan cepat sekali. Yang paling tidak sengaja adalah, Nick terkunci di sebuah mobil pengangkut es yang belum sempat dibetulkan. Nick berteriak, memukul pintu dengan keras, semua orang di kantor sudah pergi merayakan ulang tahun bosnya, maka tidak ada yang mendengarnya.
Tangannya sudah merah kebengkak2an memukul pintu mobil itu, suaranya sudahserak akibat berteriak terus, tetapi tetap tidak ada orang yang mempedulikannya, akhirnya dia duduk di dalam sambil menghelakan nafas yang panjang.
Semakin dia berpikir semakin dia merasa takut, dalam hatinya dia berpikir: dalam mobil pengangkut es suhunya pasti di bawah 0 derajat, kalau dia tidak segera keluar dari situ, pasti akan mati kedinginan. Dia terpaksa dengan tangan yang gemetar, mencari secarik kertas dan sebuah bolpen, menuliskan surat wasiatnya.
Keesokkan harinya, semua karyawan pun datang bekerja. mereka membuka pintu mobil pengangkut es tersebut, dan sangat terkejut menemukan Nick yang terbaring di dalam. Mereka segera mengantarkan Nick untuk ditolong, tetapi dia sudah tidak bernyawa lagi.
Tetapi yang paling mereka kagetkan adalah, listrik mobil untuk menghidupkan mesin itu tidak dibuka, dalam mobil yang besar itu juga ada cukup oksigen untuknya, yang paling mereka herankan adalah suhu dalam mobil itu hanya 28 derajat saja, Tetapi Nick malah mati "kedinginan"!!~~
Nick bukanlah mati karena suhu dalam mobil terlalu rendah, dia mati dalam titik es di dalam hatinya.Dia sudah menghakimi dirinya sebuah hukuman mati, Bagaimana dapat hidup terus?
Percaya pada diri sendiri adalah sebuah perasaan hati. Orang yang mempunyai rasa percayaan diri tidak akan langsung putus asa begitu saja, dia tidak akan langsung berubah sedih terhadap keadaan hidupnya yang jalan kurang lancar.
Tanyalah pada diri kita sendiri, apakah kita sendiri sering langsung memutuskan bahwa kita tidak mampu untuk mengerjakan suatu hal, sehingga kita kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi sukses? Kehilangan banyak kesempatan untuk belajar mandiri? untuk jadi lebih mengerti kehidupan ini?
Yang mempengaruhi semangat kamu bukanlah faktor-faktor dari luar, melainkan hatimu sendiri. Sebelum berusaha sudah dikalahkan oleh diri kita sendiri, biarpun ada banyak bantuan yang tertuju pada dirimu tetap tidak akan membantu..............
ANDA BISA MELAKUKAN KALAU ANDA PIKIR ANDA BISA
Kalau Anda berpikir Anda dikalahkan, Anda dikalahkan, Kalau Anda berpikir Anda tidak berani, Anda tidak berani.
Kalau Anda ingin menang tetapi Anda berpikir Anda tidak bisa, hampir bisa dipastikan, Anda tidak akan menang.
Kalau Anda berpikir Anda akan kalah, Anda kalah, sebab di dunia kita menemukan, SUKSES dimulai dengan KEHENDAK seseorang
Semua ada di dalam PIKIRAN.
Kalau Anda berpikir Anda berkelas rendah, Anda berkelas rendah, Anda harus berpikir tinggi, untuk meningkat.
Anda harus YAKIN dengan diri Anda, sebelum Anda bisa memenangkan hadiah.
Pertarungan di dunia tidak selalu dimenangkan oleh orang yang terkuat atau tercepat.
Tetapi cepat atau lambat, orang yang menang, adalah orang YANG BERPIKIR DIA BISA.
Tuhan Takkan Pernah Tinggalkanmu....
Beberapa tahun yang lalu di sebuah musim panas di Florida bagian Selatan. Seorang anak kecil memutuskan untuk pergi berenang di sebuah danau di belakang rumahnya. Dengan tergesa-gesa dia berlari keluar pintu belakang sambil melepaskan sepatu, kaus kaki dan kaosnya, terjun ke air yang dingin. Dia berenang dan berenang terus tanpa disadarinya bahwa dia sudah berada di tengah-tengah danau.
Bersamaan dengan itu, seekor buaya besar juga sedang berenang ke arah yang sama. Ibunya dari dalam rumah memandang ke arah jendela dan melihat anaknya dan buaya tersebut semakin lama semakin mendekat satu dengan yang lain. Dengan ketakutan yang luar biasa, dia berlari ke dekat pinggir danau tersebut sambil berteriak kepada anaknya dengan sekuat tenaga. Ketika mendengar teriakan ibunya, anaknya sadar dan berbalik berenang ke arah ibunya. Namun terlambat sudah........
Buaya besar tersebut juga sudah berhasil menjangkau dia. Dari dermaga, ibu itu menggapai lengan anak lakinya bersamaan dengan buaya besar tersebut menyambar paha dari anaknya. Terjadilah tarik-menarik yang sangat mengerikan antara keduanya. Buaya besar tersebut jauh lebih kuat dari ibunya, namun demikian ibunya bertahan mati-matian untuk tidak menyerah dan membiarkan anaknya terlepas.
Seorang petani yang kebetulan lewat di sekitar lokasi mendengar teriakan ibu tersebut, bergegas turun dari mobilnya dan menembak buaya besar itu.
Secara luar biasa setelah berminggu-minggu di rumah sakit, anak laki-laki tersebut berhasil diselamatkan dan disembuhkan. Pahanya penuh dengan bekas luka dari serangan buaya yang sangat ganas itu dan di bagian lengannya juga terdapat bekas luka cakaran dari kuku-kuku ibunya yang menancap pada daging lengannya sebagai usaha mempertahankan nyawa anaknya yang dikasihinya.
Setelah lewat masa-masa traumanya, seorang wartawan surat kabar yang mewawancarai anak laki-laki tersebut meminta dia untuk menunjukkan bekas luka-lika di pahanya. Anak tersebut kemudian mengangkat celananya, namun dia secara bangga juga berkata kepada si wartawan.." Lihat bekas luka-luka di tanganku yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut " Ini terjadi karena ibu saya tidak pernah menyerah..dan tidak mau melepaskan aku.
Saudara dan saya dengan mudah dapat mengenali anak laki-laki tersebut. Kita semua punya bekas luka-luka, bukan dari gigitan buaya atau dari satu peristiwa yang sangat dramatis. Tetapi bekas luka-luka dari masa lalu yang sangat menyakitkan. Beberapa dari bekas luka-luka tersebut tidak dapat dikenali dari luar tapi mengoreskan penyesalan yang sangat dalam bagi kita.
Namun, beberapa luka, saudaraku, adalah bekas-bekas luka karena Tuhan tidak mau menyerah atas kita ... Di tengah-tengah pergumulan anda, Dia terus bertahan untuk terus memegang anda. Firman Tuhan berkata bahwa Allah mengasihi saudara. Bilamana Yesus Kristus ada di dalam kehidupan anda, anda menjadi anakNya. Dia sangat rindu untuk memproteksi dan menyediakan kebutuhanmu dengan cara apapun juga. Tetapi seringkali kita secara bodoh melakukan perkara-perkara yang membahayakan diri kita sendiri. Kehidupan selayaknya sebuah danau tempat kita berenang, danau yang dipenuhi oleh berbagai bahaya dan kadang kala kita lupa bahwa musuh kita sedang menunggu untuk menyerang. Ketika peristiwa tarik-menarik terjadi, berbahagialah, bilamana anda memiliki bekas luka di lengan anda sebagai tanda KasihNya pada anda. Dia tidak pernah dan tidak akan sekali-kali menyerah dan membiarkan serta melepaskan anda pergi.....
Tuhan memberkati anda agar supaya anda dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Bersamaan dengan itu, seekor buaya besar juga sedang berenang ke arah yang sama. Ibunya dari dalam rumah memandang ke arah jendela dan melihat anaknya dan buaya tersebut semakin lama semakin mendekat satu dengan yang lain. Dengan ketakutan yang luar biasa, dia berlari ke dekat pinggir danau tersebut sambil berteriak kepada anaknya dengan sekuat tenaga. Ketika mendengar teriakan ibunya, anaknya sadar dan berbalik berenang ke arah ibunya. Namun terlambat sudah........
Buaya besar tersebut juga sudah berhasil menjangkau dia. Dari dermaga, ibu itu menggapai lengan anak lakinya bersamaan dengan buaya besar tersebut menyambar paha dari anaknya. Terjadilah tarik-menarik yang sangat mengerikan antara keduanya. Buaya besar tersebut jauh lebih kuat dari ibunya, namun demikian ibunya bertahan mati-matian untuk tidak menyerah dan membiarkan anaknya terlepas.
Seorang petani yang kebetulan lewat di sekitar lokasi mendengar teriakan ibu tersebut, bergegas turun dari mobilnya dan menembak buaya besar itu.
Secara luar biasa setelah berminggu-minggu di rumah sakit, anak laki-laki tersebut berhasil diselamatkan dan disembuhkan. Pahanya penuh dengan bekas luka dari serangan buaya yang sangat ganas itu dan di bagian lengannya juga terdapat bekas luka cakaran dari kuku-kuku ibunya yang menancap pada daging lengannya sebagai usaha mempertahankan nyawa anaknya yang dikasihinya.
Setelah lewat masa-masa traumanya, seorang wartawan surat kabar yang mewawancarai anak laki-laki tersebut meminta dia untuk menunjukkan bekas luka-lika di pahanya. Anak tersebut kemudian mengangkat celananya, namun dia secara bangga juga berkata kepada si wartawan.." Lihat bekas luka-luka di tanganku yang diakibatkan oleh peristiwa tersebut " Ini terjadi karena ibu saya tidak pernah menyerah..dan tidak mau melepaskan aku.
Saudara dan saya dengan mudah dapat mengenali anak laki-laki tersebut. Kita semua punya bekas luka-luka, bukan dari gigitan buaya atau dari satu peristiwa yang sangat dramatis. Tetapi bekas luka-luka dari masa lalu yang sangat menyakitkan. Beberapa dari bekas luka-luka tersebut tidak dapat dikenali dari luar tapi mengoreskan penyesalan yang sangat dalam bagi kita.
Namun, beberapa luka, saudaraku, adalah bekas-bekas luka karena Tuhan tidak mau menyerah atas kita ... Di tengah-tengah pergumulan anda, Dia terus bertahan untuk terus memegang anda. Firman Tuhan berkata bahwa Allah mengasihi saudara. Bilamana Yesus Kristus ada di dalam kehidupan anda, anda menjadi anakNya. Dia sangat rindu untuk memproteksi dan menyediakan kebutuhanmu dengan cara apapun juga. Tetapi seringkali kita secara bodoh melakukan perkara-perkara yang membahayakan diri kita sendiri. Kehidupan selayaknya sebuah danau tempat kita berenang, danau yang dipenuhi oleh berbagai bahaya dan kadang kala kita lupa bahwa musuh kita sedang menunggu untuk menyerang. Ketika peristiwa tarik-menarik terjadi, berbahagialah, bilamana anda memiliki bekas luka di lengan anda sebagai tanda KasihNya pada anda. Dia tidak pernah dan tidak akan sekali-kali menyerah dan membiarkan serta melepaskan anda pergi.....
Tuhan memberkati anda agar supaya anda dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Imlek Dan Keharmonisan "BABAH-ABAH"
Oleh Ibn Ghifarie
Diakui atau tidak, akulturasi antara etnis Tionghoa dan Sunda adalah kegairahan yang tak pernah usai. Itu karena kedua keturunan ini menyakini sekaligus mewujud pada sosok Sunan Gunung Djati. Apalagi, saat Syarif Hidayatullah (Ki Sunda) menikahi Putri Ong Tin Nio (China). Sungguh keharmonisan di antara kedua golongan ini tak terpisahkan lagi.
Ini terlihat dari sajian makanan (Babah ke Abah) seperti capcay, somay (siomay). Kehadiran kain samping (sarung) dan ritual menabur bunga rampe setiap Jumat pun melekat pada kehidupan keturunan China di Parahyangan ini.
Soeria Disastra, budayawan Tionghoa, mengakui, warga Tionghoa yang lahir dan besar di Bandung pada umumnya memiliki dua bahasa ibu (Tionghoa dan Sunda). "Kebudayaan Sunda dan Tionghoa saling memengaruhi."
Kini, warga keturunan Tionghoa dapat hidup berdampingan dalam suasana aman, damai, dan toleran dengan urang Sunda kendati harus rela berdesak-desakan.
Jejak
Kehadiran Imlek 2561 yang jatuh pada 14 Februari 2010 diharapkan menjadi momentum awal dalam menjaga keharmonisan antaretnis sekaligus membangun kerukunan di Tatar Sunda ini.
Paling tidak ada beberapa kedamaian yang telah mendarah daging pada aktivitas keseharian Tionghoa-Sunda, di antaranya pertama, pecinan atau perkampungan China. Menurut Kuncen Bandung, Haryoto Kunto, dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung saat meletus Perang Diponegoro (1825). Setiba di Bandung, mereka tinggal (menetap dan mencari nafkah) di Kampung Suniaraja dan Jalan Pecinan lama.
Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jalan Kelenteng. Tahun 1905 pecinan berkembang pesat di sekitar Pasar Baru. Kios jamu Babah Kuya milik Tan Sioe How di Jalan Belakang Pasar (1910) merupakan salah satu perintis toko (dagangan) di kawasan ini. Tahun 1914 mereka di Citepus. Pascatragedi Bandung Lautan Api (1946) warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegallega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi.
Ingat, setiap pecinan dipimpin oleh wijkmeester. Kawasan Suniaraja dipimpin Thung Pek Koey dan Citepus oleh Tan Nyim Coy. Setiap wijkmeester dipimpin seorang luitennant der chineeschen. Tan Djoen Liong adalah luitennant-nya urang Bandung (H Buning, 1914). Hingga kini daerah pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jalan Pasar Baru, Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Gardu Jati, Jalan Cibadak, dan Jalan Pecinan.
Kedua, Masjid Lautze 2 di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung. Keberadaan Masjid Lautze 2 ini tidak lepas dari peran Yayasan Haji Karim Oei (1991).
Masjid Lautze 2 merupakan cabang dari Masjid Lautze 1 (Jakarta). Penamaan Yayasan Haji Karim Oei diambil dari seorang tokoh Islam keturunan China yang pernah menjadi konsul Muhammadiyah di Bengkulu tahun 1930.
Mengingat jumlah warga Muslim keturunan China di Kota Bandung cukup banyak, tetapi belum ada wadah untuk menyambung tali silaturahim di antara mereka, dibentuklah Sekretariat Yayasan Haji Karim Oei Bandung di sebuah bangunan bertingkat yang disewa lantai bawahnya semata.
Kendati mengontrak, semangat menyambung tali silaturahim di di antara Muslim keturunan China tak menjadi halangan dalam memakmurkan Masjid Lautze 2 ini.
Ketiga, kelenteng. Sekitar 00 kelenteng tersebar di kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Wihara Satya Budhi (Yayasan Satya Budhi) di Jalan Kelenteng, Kota Bandung, merupakan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung yang dibangun pada 1865 (Kompas, 15/01/09)
Harus diakui, dari tempat ibadah ini terpancar sikap keterbukaan, toleransi, dan keragaman. Sebutan Tri Dharma (Tiga Ajaran Kebajikan) pun melekat pada tempat peribadatan Tionghoa sekaligus upaya memelihara dan menjunjung nilai-nilai ajaran yang telah disampaikan Kongzu, terlepas dari apakah mereka dikategoritan beragama Buddha, Tao, atau Konghucu. Yang jelas mereka keturunan Konzi dan harus memelihara sekaligus menyebarluaskan ajaran kebaikan dan kebijaksanaan tersebut.
Keempat, barongsai. Me-nyunda-nya lion dance ini terlihat di Komunitas Barongsai Long Qing (baca: Lung Ching) di Gedung Winaya Sabha, Cibadak, Kota Bandung.
Uniknya, kebanyakan dari mereka saat berlatih (Senin, Selasa, Rabu Jumat) justru bukan keturunan Tionghoa. "Sembilan puluh persen malahan orang Sunda," tutur Tan Siauw Gie.
Meski terbuka dengan kultur dan kesenian lokal, barongsai tetap tidak kehilangan jati dirinya sebagai warisan budaya Tionghoa. Saat tampil, pemain wajib berpakaian khas mirip baju wushu. Ada juga kebiasaan pai atau hormat kepada penonton, ungkap penasihat Yayasan Sosial Priangan.
Bandung Santo Club, komunitas dragon lion dance, merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Widyatama. "Ini adalah satu-satunya UKM barongsai-liong di Bandung," kata Andreas, Presidium Bandung Santo Club.
Falsafah
Keturunan Tionghoa masih meyakini Lima Kebajikan (wung chang), ren (cinta kasih), ie (kebenaran), li (kesusilaan), ce (kebijaksanaan), dan sin (dapat dipercaya) dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, bijak, dan berbahagia.
Soal hubungan sosial-budaya, Nabi Kongzi mengajarkan kepada pengikutnya untuk memegang ajaran wu lun; hubungan antara pemimpin-bawahan, suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, kawan-sahabat.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, di masyarakat Sunda dikenal ungkapan Pindah cai pindah tampian. Ki Sunda harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru, baik tempat tinggal maupun tempat pekerjaan. Itu tak lain supaya tidak mudah terseret pada pertengkaran dan agar disukai oleh lingkungan baru.
Pun keturunan Babah, mereka kerap membumikan falsafah Tiocu, Jio Kang Sui Swan, Jip Koi Sui Nyak. Masuk ke sungai harus mengikuti adat yang berlaku di situ. Tentu, semboyan ini mirip dengan pemahaman Melayu: di mana bumi di pijak, di situ langit di jungjung.
Dengan demikian, akulturasi Tionghoa dengan Sunda semakin kokoh. Apalagi, konfusianisme menekankan bahwa tata cara manusia harus sesuai dengan aturan alam. Menurut Fung Yu Lan (1952), seorang manusia dengan manusia lain harus mengikuti tata cara kehidupan yang telah dibangun oleh para orang bijak kuno sesuai dengan tata cara semesta.
Ini merujuk kepada kutipan kitab Mengzu (Mengsusi), "Tinggal di dalam rumah besar dunia ini mempertahankan akan posisi yang betul dalam dunia dan mengikuti dao yang agung dari dunia ini."
Sejatinya, pandangan dan pikiran yang mengarah pada perdamaian dan keharmonisan serta kekuatan cinta kasih selalu memberi simpati yang bermuara pada kebahagiaan. Tentu, seseorang yang mengembangkan dan menyebarluaskan sikap ini akan memberikan keteduhan hati dan kemuliaan diri.
Inilah model keharmonisan, kesempurnaan, kesinambungan yang diajarkan Nabi Khongcu. Semoga keindahan dalam perbedaan mewujud di Sunda. Gong Xi Fa Cai. IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Diakui atau tidak, akulturasi antara etnis Tionghoa dan Sunda adalah kegairahan yang tak pernah usai. Itu karena kedua keturunan ini menyakini sekaligus mewujud pada sosok Sunan Gunung Djati. Apalagi, saat Syarif Hidayatullah (Ki Sunda) menikahi Putri Ong Tin Nio (China). Sungguh keharmonisan di antara kedua golongan ini tak terpisahkan lagi.
Ini terlihat dari sajian makanan (Babah ke Abah) seperti capcay, somay (siomay). Kehadiran kain samping (sarung) dan ritual menabur bunga rampe setiap Jumat pun melekat pada kehidupan keturunan China di Parahyangan ini.
Soeria Disastra, budayawan Tionghoa, mengakui, warga Tionghoa yang lahir dan besar di Bandung pada umumnya memiliki dua bahasa ibu (Tionghoa dan Sunda). "Kebudayaan Sunda dan Tionghoa saling memengaruhi."
Kini, warga keturunan Tionghoa dapat hidup berdampingan dalam suasana aman, damai, dan toleran dengan urang Sunda kendati harus rela berdesak-desakan.
Jejak
Kehadiran Imlek 2561 yang jatuh pada 14 Februari 2010 diharapkan menjadi momentum awal dalam menjaga keharmonisan antaretnis sekaligus membangun kerukunan di Tatar Sunda ini.
Paling tidak ada beberapa kedamaian yang telah mendarah daging pada aktivitas keseharian Tionghoa-Sunda, di antaranya pertama, pecinan atau perkampungan China. Menurut Kuncen Bandung, Haryoto Kunto, dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung saat meletus Perang Diponegoro (1825). Setiba di Bandung, mereka tinggal (menetap dan mencari nafkah) di Kampung Suniaraja dan Jalan Pecinan lama.
Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jalan Kelenteng. Tahun 1905 pecinan berkembang pesat di sekitar Pasar Baru. Kios jamu Babah Kuya milik Tan Sioe How di Jalan Belakang Pasar (1910) merupakan salah satu perintis toko (dagangan) di kawasan ini. Tahun 1914 mereka di Citepus. Pascatragedi Bandung Lautan Api (1946) warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegallega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi.
Ingat, setiap pecinan dipimpin oleh wijkmeester. Kawasan Suniaraja dipimpin Thung Pek Koey dan Citepus oleh Tan Nyim Coy. Setiap wijkmeester dipimpin seorang luitennant der chineeschen. Tan Djoen Liong adalah luitennant-nya urang Bandung (H Buning, 1914). Hingga kini daerah pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jalan Pasar Baru, Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Gardu Jati, Jalan Cibadak, dan Jalan Pecinan.
Kedua, Masjid Lautze 2 di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung. Keberadaan Masjid Lautze 2 ini tidak lepas dari peran Yayasan Haji Karim Oei (1991).
Masjid Lautze 2 merupakan cabang dari Masjid Lautze 1 (Jakarta). Penamaan Yayasan Haji Karim Oei diambil dari seorang tokoh Islam keturunan China yang pernah menjadi konsul Muhammadiyah di Bengkulu tahun 1930.
Mengingat jumlah warga Muslim keturunan China di Kota Bandung cukup banyak, tetapi belum ada wadah untuk menyambung tali silaturahim di antara mereka, dibentuklah Sekretariat Yayasan Haji Karim Oei Bandung di sebuah bangunan bertingkat yang disewa lantai bawahnya semata.
Kendati mengontrak, semangat menyambung tali silaturahim di di antara Muslim keturunan China tak menjadi halangan dalam memakmurkan Masjid Lautze 2 ini.
Ketiga, kelenteng. Sekitar 00 kelenteng tersebar di kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Wihara Satya Budhi (Yayasan Satya Budhi) di Jalan Kelenteng, Kota Bandung, merupakan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung yang dibangun pada 1865 (Kompas, 15/01/09)
Harus diakui, dari tempat ibadah ini terpancar sikap keterbukaan, toleransi, dan keragaman. Sebutan Tri Dharma (Tiga Ajaran Kebajikan) pun melekat pada tempat peribadatan Tionghoa sekaligus upaya memelihara dan menjunjung nilai-nilai ajaran yang telah disampaikan Kongzu, terlepas dari apakah mereka dikategoritan beragama Buddha, Tao, atau Konghucu. Yang jelas mereka keturunan Konzi dan harus memelihara sekaligus menyebarluaskan ajaran kebaikan dan kebijaksanaan tersebut.
Keempat, barongsai. Me-nyunda-nya lion dance ini terlihat di Komunitas Barongsai Long Qing (baca: Lung Ching) di Gedung Winaya Sabha, Cibadak, Kota Bandung.
Uniknya, kebanyakan dari mereka saat berlatih (Senin, Selasa, Rabu Jumat) justru bukan keturunan Tionghoa. "Sembilan puluh persen malahan orang Sunda," tutur Tan Siauw Gie.
Meski terbuka dengan kultur dan kesenian lokal, barongsai tetap tidak kehilangan jati dirinya sebagai warisan budaya Tionghoa. Saat tampil, pemain wajib berpakaian khas mirip baju wushu. Ada juga kebiasaan pai atau hormat kepada penonton, ungkap penasihat Yayasan Sosial Priangan.
Bandung Santo Club, komunitas dragon lion dance, merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Widyatama. "Ini adalah satu-satunya UKM barongsai-liong di Bandung," kata Andreas, Presidium Bandung Santo Club.
Falsafah
Keturunan Tionghoa masih meyakini Lima Kebajikan (wung chang), ren (cinta kasih), ie (kebenaran), li (kesusilaan), ce (kebijaksanaan), dan sin (dapat dipercaya) dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, bijak, dan berbahagia.
Soal hubungan sosial-budaya, Nabi Kongzi mengajarkan kepada pengikutnya untuk memegang ajaran wu lun; hubungan antara pemimpin-bawahan, suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, kawan-sahabat.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, di masyarakat Sunda dikenal ungkapan Pindah cai pindah tampian. Ki Sunda harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru, baik tempat tinggal maupun tempat pekerjaan. Itu tak lain supaya tidak mudah terseret pada pertengkaran dan agar disukai oleh lingkungan baru.
Pun keturunan Babah, mereka kerap membumikan falsafah Tiocu, Jio Kang Sui Swan, Jip Koi Sui Nyak. Masuk ke sungai harus mengikuti adat yang berlaku di situ. Tentu, semboyan ini mirip dengan pemahaman Melayu: di mana bumi di pijak, di situ langit di jungjung.
Dengan demikian, akulturasi Tionghoa dengan Sunda semakin kokoh. Apalagi, konfusianisme menekankan bahwa tata cara manusia harus sesuai dengan aturan alam. Menurut Fung Yu Lan (1952), seorang manusia dengan manusia lain harus mengikuti tata cara kehidupan yang telah dibangun oleh para orang bijak kuno sesuai dengan tata cara semesta.
Ini merujuk kepada kutipan kitab Mengzu (Mengsusi), "Tinggal di dalam rumah besar dunia ini mempertahankan akan posisi yang betul dalam dunia dan mengikuti dao yang agung dari dunia ini."
Sejatinya, pandangan dan pikiran yang mengarah pada perdamaian dan keharmonisan serta kekuatan cinta kasih selalu memberi simpati yang bermuara pada kebahagiaan. Tentu, seseorang yang mengembangkan dan menyebarluaskan sikap ini akan memberikan keteduhan hati dan kemuliaan diri.
Inilah model keharmonisan, kesempurnaan, kesinambungan yang diajarkan Nabi Khongcu. Semoga keindahan dalam perbedaan mewujud di Sunda. Gong Xi Fa Cai. IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Sejarah Patekoan dan Kapitein Gan Djie
Sejarah Patekoan dan Kapitein Gan Djie
Kisah awal Gan Djie
Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.
Setelah bermukim lama di Gresik, ia meminta izin kepada kakaknya untuk berjualan kelontong berkeliling di desa-desa. Ia biasa masuk ke pelosok-pelosok desa bersama kulinya seorang Jawa yang membantunya memikul barang dagangannya. Karena sikapnya yang baik dalam melayani pembeli, dalam waktu singkat ia memperoleh banyak pelanggan. Satu dua tahun kemudian ia menambah kulinya dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan modal.
Pada suatu sore, di sebuah desa, ia menginap di sebuah warung. Di warung itu sebelumnya telah tiba terlebih dulu dua tiga orang yang sikapnya tidak baik. Mereka juga menginap di warung tersebut. Di warung, Gan Djie mendapat sebuah kamar sebagai tempat tidurnya untuk melepas lelah.
Sorenya, tak kala Gan Djie berjalan-jalan, ia diikuti oleh seorang gadis, yang bekerja di warung itu, kerabat isteri pemilik warung. Sang gadis memberi isyarat ia mau bicara. Dengan suara berbisik-bisik sang gadis memberi tahu, di warung itu menginap dua tiga orang yang tampaknya bukan orang baik-baik. Didengarnya, salah seorang di antara mereka menyebut-nyebut diri si pedagang kelontong ketika mereka mengobrol. Maka sang gadis dengan suara bersungguh-sungguh menyarankan agar malam ini Gan Djie berjaga-jaga, bahkan kalau perlu tidak tidur.
Gan Djie merasa sangat berterima kasih atas nasihat itu. Malam itu ia tidak tidur, ia sengaja memasang pelita sembari membaca buku, sementara senjatanya siang hap to (sepasang golok kembar) diletakkan di sampingnya.
Keesokan harinya, sekembalinya ke Gresik, ia berangkat lebih siang. Dalam perjalanan ia diikuti oleh orang-orang yang dijumpainya di warung. Namun mereka tidak dapat turun tangan, sebab Gan Djie baru melanjutkan perjalanan kalau ada orang lain yang turut bersamanya.
Gan Djie merasa sangat berutang budi kepada sang gadis. Beberapa minggu kemudian, sewaktu datang lagi ke warung itu, ia menyatakan kepada pemilik warung bahwa ia ingin mengambil sang gadis sebagai istri, untuk membalas budinya.
Demikianlah sang gadis lalu dinikahinya serta diajak pindah ke Gresik. Dan atas anjuran istrinya, Gan Djie menghentikan berdagang keliling dan berjualan saja di ruamh sendiri.
Beberapa tahun kemudian Gan Djie menjadi saudagar besar di Gresik. Ia lalu pindah ke Batavia atas saran dari kerabatnya.
Pindah ke Batavia – Asal usul nama Patekoan
Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.
Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.
Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.
Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.
Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.
Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.
Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.
Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat. Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.
Nyai Gan Djie menjadi Wakil Kapitein
Pada tahun 1666, setelah memangku jabatannya selama tiga tahun, Kapitein Gan Djie wafat. Jenazahnya dimakamkan di Molenvliet Oost – kini Hayam Wuruk – dengan upacara yang cukup megah. Usahanya dilanjutkan oelh putranya Gan Hoo Hoat.
Lantaran sulit memperoleh penggantinya, maka pemerintah meminta Nyai Gan Djie menggantikan jabatan almarhum suaminya hingga nanti pemerintah mengangkat orang lain.
Dikisahkan, selama memangku jabatan Wakil Kapitein, banyak urusan rumah tangga warga masyarakat Tionghoa telah bisa diatur dan diselesaikan secara damai oleh nyonya itu.
Pada tahun 1678, setelah 12 tahun memangku jabatannya, karena merasa dirinya sudah tua, Nyai Gan Djie mengajukan surat pengunduran diri dari kedudukannya sebagai Waarnemend Kapitein Tionghoa. Pengunduran itu diterima baik oleh pemerintahan. Kepadanya diserahkan surat penghargaan dari pemerintah.
Sebagai gantinya pemerintah mengangkat Tjoa Hoan Giok sebagai Kapitein der Chineezen keempat (masa jabatan 1678-1685 ). Secara resmi ia mulai memangku jabatannya pada 14 Juni 1678.
David Kwa adalah seorang budayawan Indonesia yang pakar dibidang sejarah peranakan tionghoa.
Pindah ke Batavia – Asal usul nama Patekoan
Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.
Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.
Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.
Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.
Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.
Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.
Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.
Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat. Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.
Kisah awal Gan Djie
Gan Djie adalah seorang Kapitein der Chineezen yang mempunyai riwayat baik dan luar biasa. Ia adalah kapitein der Chineezen ketiga di Batavia, menggantikan Phoa Beng Gam. Istrinya adalah seorang perempuan Bali. Perempuan inilah yang kemudian menggantikan kedudukannya sebagai Kapitein der Chineezen selama 12 tahun setelah ia wafat.
Gan Djie adalah seorang Tionghoa totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Propinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dahulu datang ke Jawa dan kebetulan sedang pulang ke Cina dan henda kembali pula ke Jawa. Di Gresik, Ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi.
Gan Djie seorang yang jujur, ramah, dan bersemangat tinggi, sehingga disukai banyak orang. Ia rajin sembahyang dan di beberapa waktu ia juga suka melakukan pang-she ( melepaskan makhluk hidup yang tengah menderita ) – umumnya burung atau ikan – suatu perbuatan bajik dalam pandangan agama Budha.
Setelah bermukim lama di Gresik, ia meminta izin kepada kakaknya untuk berjualan kelontong berkeliling di desa-desa. Ia biasa masuk ke pelosok-pelosok desa bersama kulinya seorang Jawa yang membantunya memikul barang dagangannya. Karena sikapnya yang baik dalam melayani pembeli, dalam waktu singkat ia memperoleh banyak pelanggan. Satu dua tahun kemudian ia menambah kulinya dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan modal.
Pada suatu sore, di sebuah desa, ia menginap di sebuah warung. Di warung itu sebelumnya telah tiba terlebih dulu dua tiga orang yang sikapnya tidak baik. Mereka juga menginap di warung tersebut. Di warung, Gan Djie mendapat sebuah kamar sebagai tempat tidurnya untuk melepas lelah.
Sorenya, tak kala Gan Djie berjalan-jalan, ia diikuti oleh seorang gadis, yang bekerja di warung itu, kerabat isteri pemilik warung. Sang gadis memberi isyarat ia mau bicara. Dengan suara berbisik-bisik sang gadis memberi tahu, di warung itu menginap dua tiga orang yang tampaknya bukan orang baik-baik. Didengarnya, salah seorang di antara mereka menyebut-nyebut diri si pedagang kelontong ketika mereka mengobrol. Maka sang gadis dengan suara bersungguh-sungguh menyarankan agar malam ini Gan Djie berjaga-jaga, bahkan kalau perlu tidak tidur.
Gan Djie merasa sangat berterima kasih atas nasihat itu. Malam itu ia tidak tidur, ia sengaja memasang pelita sembari membaca buku, sementara senjatanya siang hap to (sepasang golok kembar) diletakkan di sampingnya.
Keesokan harinya, sekembalinya ke Gresik, ia berangkat lebih siang. Dalam perjalanan ia diikuti oleh orang-orang yang dijumpainya di warung. Namun mereka tidak dapat turun tangan, sebab Gan Djie baru melanjutkan perjalanan kalau ada orang lain yang turut bersamanya.
Gan Djie merasa sangat berutang budi kepada sang gadis. Beberapa minggu kemudian, sewaktu datang lagi ke warung itu, ia menyatakan kepada pemilik warung bahwa ia ingin mengambil sang gadis sebagai istri, untuk membalas budinya.
Demikianlah sang gadis lalu dinikahinya serta diajak pindah ke Gresik. Dan atas anjuran istrinya, Gan Djie menghentikan berdagang keliling dan berjualan saja di ruamh sendiri.
Beberapa tahun kemudian Gan Djie menjadi saudagar besar di Gresik. Ia lalu pindah ke Batavia atas saran dari kerabatnya.
Pindah ke Batavia – Asal usul nama Patekoan
Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.
Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.
Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.
Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.
Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.
Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.
Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.
Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat. Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.
Nyai Gan Djie menjadi Wakil Kapitein
Pada tahun 1666, setelah memangku jabatannya selama tiga tahun, Kapitein Gan Djie wafat. Jenazahnya dimakamkan di Molenvliet Oost – kini Hayam Wuruk – dengan upacara yang cukup megah. Usahanya dilanjutkan oelh putranya Gan Hoo Hoat.
Lantaran sulit memperoleh penggantinya, maka pemerintah meminta Nyai Gan Djie menggantikan jabatan almarhum suaminya hingga nanti pemerintah mengangkat orang lain.
Dikisahkan, selama memangku jabatan Wakil Kapitein, banyak urusan rumah tangga warga masyarakat Tionghoa telah bisa diatur dan diselesaikan secara damai oleh nyonya itu.
Pada tahun 1678, setelah 12 tahun memangku jabatannya, karena merasa dirinya sudah tua, Nyai Gan Djie mengajukan surat pengunduran diri dari kedudukannya sebagai Waarnemend Kapitein Tionghoa. Pengunduran itu diterima baik oleh pemerintahan. Kepadanya diserahkan surat penghargaan dari pemerintah.
Sebagai gantinya pemerintah mengangkat Tjoa Hoan Giok sebagai Kapitein der Chineezen keempat (masa jabatan 1678-1685 ). Secara resmi ia mulai memangku jabatannya pada 14 Juni 1678.
David Kwa adalah seorang budayawan Indonesia yang pakar dibidang sejarah peranakan tionghoa.
Pindah ke Batavia – Asal usul nama Patekoan
Kira-kira pada tahun 1659 Gan Djie pindah ke Batavia dan tinggal di sebuah rumah di se sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan. Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, maka dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di tempat pemungkimannya yang baru.
Berhubung dengan usianya yang sudah lanjut, pada tahun 1663 Kapitein der Chineezen Phoa Beng Gam, mengajukan pengunduran diri dari jabatannya kepada Gouverneur General Joan Maetsuyker. Sebagai penggantinya ia mengusulkan Gan Djie yang dikenalnya dengan baik. Usul itu diterima.
Pengangkatan Gan Djie sebagai Kapitein der Chineezen adalah karena jasanya menolong dan merawat anak Joan Maetsuyker yang terpisah secara tidak sengaja.
Tak disangka di kemudian hari Joan Maetsuyker diangkat menjadi Gouverneur General Hindia Belanda ( 1653 ). Sebagai balas budi terhadap tuan dan nyonya Gan Djie, kemudian dia mengangkat Gan Djie sebagai Kapitein “bangsa” Tionghoa.
Begitulah, sejak 10 April 1663 Gan Djie diangkat menjadi Kapitein der Chineezen ketiga. Karena kesibukannya, pekerjaan tersebut turut dibantu oleh istrinya.
Di depan kantor Kapitein, seringkali berteduh orang-orang yang berdagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan, maka pada waktu hawa udara begitu panas, orang yang melintas di jalan tersebut selalu sulit mendapat air untuk melepas dahaga.
Melihat hal itu istri Gan Djie ( Nyai Gan Djie ) mengusulkan kepada suaminya agar di depan kantor disediakan air the untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapitein Gan, tentu saja air the itu tidak ada artinya, tetapi bagi warga masyarakat yang “kekeringan” penting sekali. Kapitein Gan langssung menyetujui usal itu.
Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atas meja-meja itu setiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh itu mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka di situ disediakan delapan buah te-koan (teko/poci teh). Perbuatan baik dari Kapitein Gan membuatnya semakin disegani oleh masyarakat. Persediaan air teh itu pun akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan warga mencari lokasi kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat tekoan, di situlah tempat tinggalnya Kapitein Gan. Lambat laun jalan dimana officer Tionghoa itu bermungkim dinamakan Pat Te-Koan, dikemudian hari menjadi Patekoan.
Jadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.
Impian Seorang Mahasiswi Lansia 87
Tahun
Hari pertama kuliah di kampus, profesor
memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang
yang belum kami kenal. Saya berdiri dan
melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan
wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,
"Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? " Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,
"Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.
melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan
wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa,
"Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? " Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya,
"Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat.
"Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang
masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok.
Dengan bercanda dia menjawab,
"Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."
"Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."
"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat
ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di
usianya.
"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya! " katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor
senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab.
Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman
dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera
mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkan suasana.
"Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya! " katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor
senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab.
Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman
dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera
mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkan suasana.
Pada akhir semester kami mengundang Rose
untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan
pernah lupa apa yang diajarkannya pada
kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke
lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata,
"Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya
menyampaikan apa yang saya tahu."
kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke
lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata,
"Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya
menyampaikan apa yang saya tahu."
"Kita tidak pernah berhenti bermain karena
kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia
untuk tetap awet muda, tetap menemukan
humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang
mati namun mereka tak menyadarinya. "
humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang
mati namun mereka tak menyadarinya. "
"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan
menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di
tempat tidur selama satu tahun penuh,
tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama
satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian
atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."
tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama
satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian
atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."
"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua
seperti kami biasanya bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya,
tetapilebih menyesali apa yang tidak kami perbuat.
Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."
Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."
Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi
"The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan
menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih
dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa
tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.
Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih
dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa
tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.
Cheers!
24 Rekor Dunia yang sampai saat ini masih dipegang Indonesia
Disamping
beberapa kekurangan yang sering melekat di tanah air kita Indonesia,
namun ada puluhan rekor dunia yang patut kita banggakan sebagai warga
negara Indonesia karena sampai saat ini belum ada yang mampu memecahkan
rekor tersebut dari Indonesia.
Berikut daftar 24 rekor dunia yang dimiliki Indonesia.
- Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni) .
- Disini ada 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dgn luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2).
- Indonesia adalah Negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia.
- Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana sekitar 60% hampir penduduk Indonesia (sekitar 130 jt jiwa) tinggal di pulau yang luasnya hanya 7% dari seluruh wilayah RI.
- Indonesia merupakan Negara dengan suku bangsa yang terbanyak di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, dimana di Papua saja terdapat 270 suku.
- Negara dengan bahasa daerah yang terbanyak, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia . Bahasa nasional adalah bahasa Indonesia walaupun bahasa daerah dengan jumlah pemakai terbanyak di Indonesia adalah bahasa Jawa.
- Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia sekitar 216 juta jiwa atau 88% dari penduduk Indonesia . Juga memiliki jumlah masjid terbanyak dan Negara asal jamaah haji terbesar di dunia.
- Monumen Budha (candi) terbesar di dunia adalah Candi Borobudur di Jawa Tengah dengan tinggi 42 meter (10 tingkat) dan panjang relief lebih dari 1 km. Diperkirakan dibuat selama 40 tahun oleh Dinasti Syailendra pada masa kerajaan Mataram Kuno (750-850).
- Tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yaitu : Pithecanthropus Erectus'¬ yang diperkirakan berasal dari 1,8 juta tahun yang lalu.
- Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia.
- Indonesia adalah Negara pertama (hingga kini satu-satunya) yang pernah keluar dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tgl 7 Januari 1965. RI bergabung kembali ke dalam PBB pada tahun 1966.
- Tim bulutangkis Indonesia adalah yang terbanyak merebut lambang supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002).
- Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua.
- Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).
- Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.
- Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).
- Indonesia memiliki species ikan hiu terbanyak didunia yaitu 150 species.
- Biodiversity Anggrek terbeser didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua.
- Memiliki hutan bakau terbesar di dunia. Tanaman ini bermanfaat ntuk mencegah pengikisan air laut/abrasi.
- Binatang purba yang masih hidup : Komodo yang hanya terdapat di pulau Komodo, NTT adalah kadal terbesar di dunia. Panjangnya bias mencapai 3 meter dan beratnya 90 kg.
- Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera adalah bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter.
- Memiliki primata terkecil di dunia , yaitu Tarsier Pygmy (Tarsius Pumilus) atau disebut juga Tarsier Gunung yang panjangnya hanya 10 cm. Hewan yang mirip monyet dan hidupnya diatas pohon ini terdapat di Sulawesi.
- Tempat ditemukannya ular terpanjang di dunia yaitu, Python Reticulates sepanjang 10 meter di Sulawesi.
- Ikan terkecil di dunia yang ditemukan baru-baru ini di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.
Menghitung Hari
“Pelakunya ini perampok yang sangat cerdas dan bertampang santun”, demikian Abraham Samad, Ketua KPK, seperti dirilis KOMPAS dalam berita di halaman-3 Kamis 4 Oktober 2012, yang berjudul "KPK Bidik Pelaku Utama".
Publik pun tahu, partai mana yang ditengarai berprestasi merampok uang negara, yang memang top pimpinannya mempunyai ‘indikasi’ demikian. Cerdas, dapat dimaksudkan mempunyai predikat akademis yang tinggi. Santun, cara bertutur-katanya rapi sekalipun terkadang disisipi istilah asing yang belum tentu difahami oleh rakyat kebanyakan, terutama anak-anak. Justru karena sering memakai istilah yang tiada dapat dimengerti itulah mungkin publik menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang cerdas.
Besar kemungkinan, salah seorang dari yang berkriteria di atas sedang menyanyikan lagu Kris Dayanti, ‘Menghitung Hari’. Sekaligus menyanyikan lagu ‘Ku Yakin Sampai di Sana’, namun diplesetkan sebagai ‘Ku Yakin Sampai di MONAS’. Ini akibat supata-nya sendiri, yang sesumbar dengan jumawa: “satu rupiah saya memakan uang negara, saya bersedia digantung di Monas”. Bisa jadi dia sangat PD (seperti akronim partai yang dikomandaninya), sebagai Petinggi partai penguasa negeri, mana berani KPK menelusuri kasusnya. Terlebih lagi, dia sempat lolos dari jeratan kasus KPU beberapa tahun silam, karena cepat-cepat masuk ke dalam bunker partai penguasa.
Langkah-langkah pelemahan KPK pun telah dirancang dengan seksama, mengingat lembaga ini sudah berani kurang-ajar mengayunkan pedang terhadap jajaran perampok tinggi tinggi. Mulai dari kriminalisasi Ketuanya, kasus ‘cicak vs buaya’, pembintangan anggaran gedung instansi ini, sampai dengan yang terakhir rencana pengibirian KPK lewat perubahan Undang-Undang.
Namun para Jemaah Perampok ini lupa, bahwa era SANTUN, yang pernah HIT satu dekade lalu telah usang. Masyarakat telah capai menunggu janji-janji kesejahteraan yang dijanjikan oleh pesantun yang tiada kunjung tiba, malahan mereka disuguhi tontonan ‘hedonism’ para penjarah uang negara yang seakan tak kenal kenyang. PILKADA DKI baru-baru ini telah menjungkir-balikkan elite politik negeri ini.
Sekarang adalah era-nya pemimpin yang NYATA atau REAL, bukan seperti yang tersedia saat ini yang seakan MAYA, sekalipun ada bentuknya namun seakan tiada berwujud, karena hanya mewujudkan keinginannya sendiri sebagai pemimpin untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan negara demi kepentingan diri serta begundalnya. Bandingkan dengan ‘pasal-33 UUD’45’, yang intinya mengatakan bahwa “segala kekayaan seperti: air, tanah, hasil Bumi Indonesia dikuasai oleh Negara untuk Kesejahteraan Masyarakat.”
Publik pun tahu, partai mana yang ditengarai berprestasi merampok uang negara, yang memang top pimpinannya mempunyai ‘indikasi’ demikian. Cerdas, dapat dimaksudkan mempunyai predikat akademis yang tinggi. Santun, cara bertutur-katanya rapi sekalipun terkadang disisipi istilah asing yang belum tentu difahami oleh rakyat kebanyakan, terutama anak-anak. Justru karena sering memakai istilah yang tiada dapat dimengerti itulah mungkin publik menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang cerdas.
Besar kemungkinan, salah seorang dari yang berkriteria di atas sedang menyanyikan lagu Kris Dayanti, ‘Menghitung Hari’. Sekaligus menyanyikan lagu ‘Ku Yakin Sampai di Sana’, namun diplesetkan sebagai ‘Ku Yakin Sampai di MONAS’. Ini akibat supata-nya sendiri, yang sesumbar dengan jumawa: “satu rupiah saya memakan uang negara, saya bersedia digantung di Monas”. Bisa jadi dia sangat PD (seperti akronim partai yang dikomandaninya), sebagai Petinggi partai penguasa negeri, mana berani KPK menelusuri kasusnya. Terlebih lagi, dia sempat lolos dari jeratan kasus KPU beberapa tahun silam, karena cepat-cepat masuk ke dalam bunker partai penguasa.
Langkah-langkah pelemahan KPK pun telah dirancang dengan seksama, mengingat lembaga ini sudah berani kurang-ajar mengayunkan pedang terhadap jajaran perampok tinggi tinggi. Mulai dari kriminalisasi Ketuanya, kasus ‘cicak vs buaya’, pembintangan anggaran gedung instansi ini, sampai dengan yang terakhir rencana pengibirian KPK lewat perubahan Undang-Undang.
Namun para Jemaah Perampok ini lupa, bahwa era SANTUN, yang pernah HIT satu dekade lalu telah usang. Masyarakat telah capai menunggu janji-janji kesejahteraan yang dijanjikan oleh pesantun yang tiada kunjung tiba, malahan mereka disuguhi tontonan ‘hedonism’ para penjarah uang negara yang seakan tak kenal kenyang. PILKADA DKI baru-baru ini telah menjungkir-balikkan elite politik negeri ini.
Sekarang adalah era-nya pemimpin yang NYATA atau REAL, bukan seperti yang tersedia saat ini yang seakan MAYA, sekalipun ada bentuknya namun seakan tiada berwujud, karena hanya mewujudkan keinginannya sendiri sebagai pemimpin untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan negara demi kepentingan diri serta begundalnya. Bandingkan dengan ‘pasal-33 UUD’45’, yang intinya mengatakan bahwa “segala kekayaan seperti: air, tanah, hasil Bumi Indonesia dikuasai oleh Negara untuk Kesejahteraan Masyarakat.”
Kenapa Orang Indonesia dan Tionghoa Saling Benci
KENAPA HWANA DAN TEN-NANG(Teng-lang) SALING BENCI???
By Boston Max
Bangsa Cina mendarat di Indonesia pada abad ke 5, di pesisir pantai Jawa Timur. Mereka adalah pedagang yg berlayar untuk mencari rempah2, dan kemudian karena satu dan lain hal, mereka menetap di Indonesia dan berasimilasi dengan penduduk setempat. Para pedagang Cina ini juga diyakini sebagai yg membawa agama dan tradisi Islam masuk ke Indonesia, karena berkat Jalan Sutra, agama Islam yg berasal dari Arab, masuk ke Cina melalui India. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang dari Wali Songo adalah keturunan Cina seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Hal ini merupakan sesuatu yg ironis di masa pada jaman sekarang hanya sedikit orang Tionghoa yg memeluk agama Islam. Mengapa bisa demikian?
Ironically, though most of the present Chinese Indonesians are not Muslims, some of the earliest Islamic evangelists in Java (Wali Songo, or the Nine Ambassadors) were of Chinese ancestry. At least four of those nine were original Chinese or Chinese descendants: Sunan Ampel, Sunan Bonang (son of Ampel and a Chinese woman), Sunan Kalijaga, and Sunan Gunungjati
Pada jaman Kolonial Belanda, tahun 1680, para pedagang Tionghoa memegang peranan penting dalam perekonomian di Batavia. Bahkan usaha penjajah untuk memonopoli pun terhambat dan mereka terpaksa berbisnis dengan para pedagang Tionghoa tersebut. Akibatnya, penjajah merasa terancam karena keberadaan orang Tionghoa secara tidak langsung menyokong kehidupan pribumi di Indonesia, dan jika orang Tionghoa dan pribumi bersatu untuk melawan, para penjajah akan kewalahan. Karena itulah, para penjajah berusaha mengadu domba pribumi dan orang Tionghoa, dan mereka berhasil.
Pada tahun 1740, karena krisis ekonomi yg disebabkan oleh turunnya harga gula di pasar global, Belanda hendak mengikis upah gaji para pekerja dengan cara memindahkan para kuli, yg sebagian besar adalah pribumi, ke Afrika. Padahal maksud sebenarnya adalah mereka bermaksud membuang para kuli itu ke laut lepas diam2. Entah bagaimana caranya, isu tersebut tersebar dan para pedagang Tionghoa di Batavia, menggalang kekuatan untuk menyerbu kapal2 Belanda tersebut. Pertumpahan darah pun tidak dapat dielakkan.
Akibat perlawanan tersebut, Belanda mengeluarkan perintah untuk memeriksa dan melucuti para pedagang Tionghoa, namun yg terjadi sebenarnya adalah pembantaian besar2an di mana dalam 3 hari, 50.000-60.000 orang Tionghoa dibunuh. Belanda juga mengeluarkan dekrit bahwa orang Tionghoa lah yg berencana membunuh para kuli pribumi dan mereka seolah2 bertindak sebagai penyelamat bagi orang2 pribumi. Kemudian Belanda juga menjanjikan imbalan bagi setiap kepala orang Tionghoa yg berhasil dibunuh. Inilah awalnya perselisihan antara Tionghoa dan pribumi. Nama "Kali Angke" yg ada di daerah Jakarta Utara berasal dari kata "Sungai Merah" yg menggambarkan kejadian pembantaian saat itu di mana sungai2 menjadi warna merah oleh darah Tionghoa.
On October 9, 1740, the order was issued to search the houses of all the Chinese residents in Batavia. This soon degenerated into an all-out, three-day long massacre - with Chinese being massacred in their homes, and earlier captured Chinese being killed out of hand in prisons and hospitals. A preacher fanned the flames from the pulpit, declaring that the killing of Chinese was "God's Will", and the colonial government itself reportedly posted a bounty for decapitated Chinese heads. The number of victims in these three days is variously estimated at between five thousand and ten thousand. The name Kali Angke (traditional Chinese: ??; literally, "Red River") is said to date from that time, recalling the blood flowing into the river.
Pada jaman perang kemerdekaan, orang Tionghoa juga berperan penting dalam perjuangan melawan menjajah di mana dalam BPUPKI terdapat 6 orang Tionghoa yg berkontribusi dalam pembentukan UUD'45. Hanya sedikit orang Tionghoa yg terjun langsung pada konflik bersenjata karena pada saat itu jumlah mereka hanya sedikit. Pada jaman agresi militer, Belanda dan Jepang melakukan blokade terhadap impor barang2 kebutuhan seperti sabun dan peralatan memasak. Orang Tionghoa memegang peranan besar dalam menyelundupkan barang2 itu masuk ke dalam negeri. Namun karena situasi negara saat itu sedang kacau, tidak ada catatan jelas mengenai hal itu sehingga peranan Tionghoa dalam perjuangan meraih kemerdekaan menjadi blur.
During the Indonesian National Revolution following World War II, many Chinese Indonesians supported the Independence movement. BPUPKI's (Body for Investigating Preparation Attempts of Indonesia's Independence) membership included six ethnic Chinese members who contributed to the drafting of the Indonesian Constitution in 1945.[citation needed] The formation of all-Chinese Indonesian units in the Revolution was discussed,[13] similar to the formation of the all-Japanese American Nisei units in World War II. This suggestion was ultimately rejected, and the ethnic Chinese were advised to instead join their local pro-Independence groups. Due to the lack of such clearly-defined ethnic unit, the precise number of Chinese Indonesians who took part in the Indonesian National Revolution, and their percentage of the Chinese Indonesian community as a whole, remains disputed. It is a sensitive issue due to it sometimes being linked to the post-war status of Chinese Indonesians and their equal status (or lack of one) in the Indonesia created by that war.
During the 1945–1950 National Revolution to secure independence from the Dutch, few Chinese Indonesians were involved in the Indonesian Republican army. At that time, the economy plummeted and the taxes increased dramatically. Everyday goods, such as soap and cutlery, were rare; much and had been confiscated by the Japanese and Dutch for their own armies. Chinese Indonesians contributed in the smuggling of these goods
Tahun 1955-1965, perselisihan pun terjadi antara pribumi dan Tionghoa di mana Tionghoa dituduh "tidak patriotik" dan tidak ikut serta dalam perang meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu pun akhirnya mengeluarkan peraturan yg membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu menyebabkan orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan industri. Kemajuan para Tionghoa dalam perekonomian ternyata kembali menyebabkan perselisihan di mana para Tionghoa dituduh sebagai agen kolonial dan menerima suap. Pemerintah pun memerintahkan para pedagang Tionghoa untuk menutup usahanya di kota2 besar dan memindahkan mereka dengan paksa ke daerah2 seperti Kalimantan dan Palembang. Saat itu kurang lebih ratusan ribu orang Tionghoa "dibuang", dan 42.000 yg dituduh membangkang dibunuh.
Chinese Indonesians were accused of unpatriotic ways during the war (as they were rarely involved in armed conflicts). The fledgling Indonesian government forced many to relinquish acquired properties. This would be the first of many Chinese Indonesian restrictions on personal rights.
In 1959, President Soekarno approved PP 10/1959, a directive that forced Chinese Indonesians to close their businesses in rural areas and relocate to urban areas. Enforcement was brutal; in one 1967 incident in Western Kalimantan, 42,000 accused separatists were slaughtered.
Sebagai protes, banyak orang Tionghoa yg mencoba pulang kembali ke negara asalnya, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak diterima di sana karena dianggap sudah "tidak berdarah murni" Hal ini menyebabkan orang2 Tionghoa di Indonesia kehilangan jati diri, karena mereka bukan Indonesia dan juga bukan Cina. Akhirnya sebagian dari mereka pindah ke negara2 lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brazil.
In protest, many Cina Totoks returned to either mainland China, Hong Kong, or Taiwan, only to find that they were not welcomed there either. Ironically, they were not regarded as "pure Chinese", regardless of their effort of maintaining a "pure Chinese breed". The unfortunate news of the early migrants was widespread among the Chinese Indonesians. They soon found themselves as neither Indonesian nor Chinese. Some decided to move to some other places, like Singapore, Malaysia or even as far afield as Brazil.
Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yg sangat pedih karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga mereka. Segala tradisi yg berbau Cina diharamkan, dan bahasa Mandarin pun dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis. Di beberapa daerah juga hal ini disangkut pautkan dengan agama di mana orang Tionghoa dianggap tidak menghormati agama Islam dan tradisi muslim dan dibunuh. Pada periode 1965-1975, aparat dapat dengan seenaknya mengeksploitasi orang Cina dengan merampok dan memperkosa keluarga mereka. Cara satu2nya untuk survive pada masa itu adalah dengan menyogok.Bahkan para Tionghoa yg berjasa bagi Indonesia pun ditangkap, dipenjara, dan dibunuh, dan hal ini menyebabkan orang Tionghoa menjadi memisahkan diri dengan Indonesia. Mereka tidak senang disebut sebagai warga "Indonesia" Hal ini terjadi hingga hari ini. Walaupun generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi. Budaya mereka menjadi lebih kebarat-baratan, karena banyak orang tua Tionghoa memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke Amerika atau Eropa.
The Chinese-Indonesian were all forced to change their names to Indonesian sounding ones. This law is considered as one of the most humiliating ones to those in the Chinese community in Indonesia since by doing so, they are forced to lose their family name. Between 1965 and 1975, army and police officers were rampant in abusing Chinese Indonesians, such as openly robbing and raping their families. During this time, police could abuse any people using Chinese language. The only way to survive during this harsh period was by using bribes.
In addition, those who were considered as heroes of Indonesian independence, such as Siauw Giok Tjhan and Liem Koen Hian, were either brutally executed, exiled, or jailed. Those who protested were silently murdered. None of them were bestowed national hero status. It effectively discouraged any Chinese Indonesian of the time to dedicate their lives for Indonesia.
Since Chinese Indonesians were banned from all aspects of life except from the economy and industry, they concentrated their effort in those areas and became remarkably successful. It opened opportunities for government and military officers to levy bribes from Chinese Indonesian businessmen. Bribes and corruption soon became a norm. This widened the gap between them and pribumi. The pribumi accused Chinese Indonesians with colluding with the government and thereby poisoning the entire political system. On the other hand, Chinese Indonesians felt that they were treated unfairly and the government was much more lenient toward the pribumi.
Most Chinese Indonesians are not Muslim, further generating negative sentiments from the mostly Muslim natives. This is ironic in light of the fact that some of the earliest Muslim evangelists in Java (who were called the Wali Songo or 'The Nine Ambassadors') were of Chinese ancestry. A historical theory even suggests that the first people who brought Islamic faith to Indonesia were the Chinese traders, especially those who came to Semarang under the leadership of Sam Po Kong or Admiral Zheng He. Zheng He was not a Han, but a Muslim from a minority ethnic group in China.
Because of discrimination, most Chinese Indonesians were not politically active and could not lobby for legislation to protect their own interests, despite their economic affluence. The situation is different in neighboring Malaysia where the overseas Chinese have been both politically and economically active despite being a minority in a similar environment — better off economically in a Muslim majority country.
Despite laws and public opinion against the Chinese Indonesians, many have succeeded in fields other than business, most notably in the sport of badminton, the most popular competitive sport in Indonesia. Indonesian athletes dominated the sport from the 1960s to the 1990s. Many of the beloved players and coaches are Chinese Indonesians, such as Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata, Tjun Tjun, Johan Wahjudi, Ade Chandra, Liem Swie King, Ivana Lie, Verawaty, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, and Heryanto Arbi.
Pada kerusuhan 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi dan KKN di Indonesia karena mereka sering menggunakan sogokan untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Ratusan ribu orang Tionghoa di Indonesia, dibunuh, diperkosa, dan milik mereka dijarah massa. Hal ini menyebabkan banyak orang Tionghoa memutuskan untuk lari dari Indonesia, dan pindah ke negara2 tetangga seperti Australia dan New Zealand. Dan bahkan setelah reformasi, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia karena mereka menemukan bahwa negara2 barat lebih menghormati hak2 mereka ketimbang Indonesia.
Ada blog yg ngebahas soal kerusuhan Mei, untuk jelasnya mengenai situasi saat itu, baca aja di sini
As more and more discrimination and enmity accumulated, Chinese Indonesians increasingly identified themselves as a separate group and did not like to be referred to as "Indonesians". Although younger generations did not as strictly follow traditions as the older ones did, they still felt they were different from Indonesians.
During this era, younger generations adopted western culture more and more as they perceived it as being more superior. They were more aligned toward western countries such as the United States or the United Kingdom. The westernization became popular as many parents sent their children abroad to western countries.
The Jakarta riot of 1998 targeted many Chinese Indonesians. The riot itself drew condemnations from Chinese speaking countries. Suharto was allegedly the mastermind of this riot, but it misfired. Suffering from lootings and arsons, many Chinese Indonesians fled from Indonesia. Ironically, they found western countries were more accepting than Indonesia, their country of birth. Even after the riot subsided, many of them did not want to return.
Setelah reformasi, pada masa pemerintahannya, Gus Dur mencabut larangan bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Kwik Kian Gie dijadikan menteri perekonomian. Gus Dur juga memberikan ijin bagi orang2 Tionghoa untuk menjalankan tradisinya tanpa harus meminta ijin kepada pemerintah. Pada masa pemerintahan Megawati, hari raya Imlek pun ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Setelah 45 tahun dilarang di Indonesia (sejak tahun 1965), pada tahun 2000, Metro TV menjadi stasiun TV pertama yg menggunakan bahasa mandarin. Pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan undang2 yg menghapus segala perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Dan pada tahun 2007, SBY meresmikan istilah "Tionghoa" sebagai nama bagi penduduk keturunan Cina di Indonesia.
---
So, setelah membaca uraian di atas, bisa kita lihat bahwa pada awal mulanya, orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Diskriminasi terjadi akibat usaha penjajah untuk memecah belah Indonesia. Berbagai usaha perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, namun luka yg telah mendarah daging selama berbagai generasi tidaklah semudah itu untuk dihapuskan.
Marilah kita sebagai generasi muda, belajar dari kesalahan pada leluhur kita, untuk bersikap kritis. Jangan mudah diadu domba oleh pihak2 yg tidak bertanggung jawab. Diskriminasi adalah sebuah hal yg menginjak2 martabat dan hak asasi manusia, dan perbedaan SARA adalah sebuah kekayaan budaya bangsa yg harus kita hargai. Satu nusa, satu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika.
And most of all, we are a children of the world, God's great big family, and love is all we need =)
By Boston Max
Bangsa Cina mendarat di Indonesia pada abad ke 5, di pesisir pantai Jawa Timur. Mereka adalah pedagang yg berlayar untuk mencari rempah2, dan kemudian karena satu dan lain hal, mereka menetap di Indonesia dan berasimilasi dengan penduduk setempat. Para pedagang Cina ini juga diyakini sebagai yg membawa agama dan tradisi Islam masuk ke Indonesia, karena berkat Jalan Sutra, agama Islam yg berasal dari Arab, masuk ke Cina melalui India. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang dari Wali Songo adalah keturunan Cina seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Hal ini merupakan sesuatu yg ironis di masa pada jaman sekarang hanya sedikit orang Tionghoa yg memeluk agama Islam. Mengapa bisa demikian?
Ironically, though most of the present Chinese Indonesians are not Muslims, some of the earliest Islamic evangelists in Java (Wali Songo, or the Nine Ambassadors) were of Chinese ancestry. At least four of those nine were original Chinese or Chinese descendants: Sunan Ampel, Sunan Bonang (son of Ampel and a Chinese woman), Sunan Kalijaga, and Sunan Gunungjati
Pada jaman Kolonial Belanda, tahun 1680, para pedagang Tionghoa memegang peranan penting dalam perekonomian di Batavia. Bahkan usaha penjajah untuk memonopoli pun terhambat dan mereka terpaksa berbisnis dengan para pedagang Tionghoa tersebut. Akibatnya, penjajah merasa terancam karena keberadaan orang Tionghoa secara tidak langsung menyokong kehidupan pribumi di Indonesia, dan jika orang Tionghoa dan pribumi bersatu untuk melawan, para penjajah akan kewalahan. Karena itulah, para penjajah berusaha mengadu domba pribumi dan orang Tionghoa, dan mereka berhasil.
Pada tahun 1740, karena krisis ekonomi yg disebabkan oleh turunnya harga gula di pasar global, Belanda hendak mengikis upah gaji para pekerja dengan cara memindahkan para kuli, yg sebagian besar adalah pribumi, ke Afrika. Padahal maksud sebenarnya adalah mereka bermaksud membuang para kuli itu ke laut lepas diam2. Entah bagaimana caranya, isu tersebut tersebar dan para pedagang Tionghoa di Batavia, menggalang kekuatan untuk menyerbu kapal2 Belanda tersebut. Pertumpahan darah pun tidak dapat dielakkan.
Akibat perlawanan tersebut, Belanda mengeluarkan perintah untuk memeriksa dan melucuti para pedagang Tionghoa, namun yg terjadi sebenarnya adalah pembantaian besar2an di mana dalam 3 hari, 50.000-60.000 orang Tionghoa dibunuh. Belanda juga mengeluarkan dekrit bahwa orang Tionghoa lah yg berencana membunuh para kuli pribumi dan mereka seolah2 bertindak sebagai penyelamat bagi orang2 pribumi. Kemudian Belanda juga menjanjikan imbalan bagi setiap kepala orang Tionghoa yg berhasil dibunuh. Inilah awalnya perselisihan antara Tionghoa dan pribumi. Nama "Kali Angke" yg ada di daerah Jakarta Utara berasal dari kata "Sungai Merah" yg menggambarkan kejadian pembantaian saat itu di mana sungai2 menjadi warna merah oleh darah Tionghoa.
On October 9, 1740, the order was issued to search the houses of all the Chinese residents in Batavia. This soon degenerated into an all-out, three-day long massacre - with Chinese being massacred in their homes, and earlier captured Chinese being killed out of hand in prisons and hospitals. A preacher fanned the flames from the pulpit, declaring that the killing of Chinese was "God's Will", and the colonial government itself reportedly posted a bounty for decapitated Chinese heads. The number of victims in these three days is variously estimated at between five thousand and ten thousand. The name Kali Angke (traditional Chinese: ??; literally, "Red River") is said to date from that time, recalling the blood flowing into the river.
Pada jaman perang kemerdekaan, orang Tionghoa juga berperan penting dalam perjuangan melawan menjajah di mana dalam BPUPKI terdapat 6 orang Tionghoa yg berkontribusi dalam pembentukan UUD'45. Hanya sedikit orang Tionghoa yg terjun langsung pada konflik bersenjata karena pada saat itu jumlah mereka hanya sedikit. Pada jaman agresi militer, Belanda dan Jepang melakukan blokade terhadap impor barang2 kebutuhan seperti sabun dan peralatan memasak. Orang Tionghoa memegang peranan besar dalam menyelundupkan barang2 itu masuk ke dalam negeri. Namun karena situasi negara saat itu sedang kacau, tidak ada catatan jelas mengenai hal itu sehingga peranan Tionghoa dalam perjuangan meraih kemerdekaan menjadi blur.
During the Indonesian National Revolution following World War II, many Chinese Indonesians supported the Independence movement. BPUPKI's (Body for Investigating Preparation Attempts of Indonesia's Independence) membership included six ethnic Chinese members who contributed to the drafting of the Indonesian Constitution in 1945.[citation needed] The formation of all-Chinese Indonesian units in the Revolution was discussed,[13] similar to the formation of the all-Japanese American Nisei units in World War II. This suggestion was ultimately rejected, and the ethnic Chinese were advised to instead join their local pro-Independence groups. Due to the lack of such clearly-defined ethnic unit, the precise number of Chinese Indonesians who took part in the Indonesian National Revolution, and their percentage of the Chinese Indonesian community as a whole, remains disputed. It is a sensitive issue due to it sometimes being linked to the post-war status of Chinese Indonesians and their equal status (or lack of one) in the Indonesia created by that war.
During the 1945–1950 National Revolution to secure independence from the Dutch, few Chinese Indonesians were involved in the Indonesian Republican army. At that time, the economy plummeted and the taxes increased dramatically. Everyday goods, such as soap and cutlery, were rare; much and had been confiscated by the Japanese and Dutch for their own armies. Chinese Indonesians contributed in the smuggling of these goods
Tahun 1955-1965, perselisihan pun terjadi antara pribumi dan Tionghoa di mana Tionghoa dituduh "tidak patriotik" dan tidak ikut serta dalam perang meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu pun akhirnya mengeluarkan peraturan yg membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu menyebabkan orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan industri. Kemajuan para Tionghoa dalam perekonomian ternyata kembali menyebabkan perselisihan di mana para Tionghoa dituduh sebagai agen kolonial dan menerima suap. Pemerintah pun memerintahkan para pedagang Tionghoa untuk menutup usahanya di kota2 besar dan memindahkan mereka dengan paksa ke daerah2 seperti Kalimantan dan Palembang. Saat itu kurang lebih ratusan ribu orang Tionghoa "dibuang", dan 42.000 yg dituduh membangkang dibunuh.
Chinese Indonesians were accused of unpatriotic ways during the war (as they were rarely involved in armed conflicts). The fledgling Indonesian government forced many to relinquish acquired properties. This would be the first of many Chinese Indonesian restrictions on personal rights.
In 1959, President Soekarno approved PP 10/1959, a directive that forced Chinese Indonesians to close their businesses in rural areas and relocate to urban areas. Enforcement was brutal; in one 1967 incident in Western Kalimantan, 42,000 accused separatists were slaughtered.
Sebagai protes, banyak orang Tionghoa yg mencoba pulang kembali ke negara asalnya, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak diterima di sana karena dianggap sudah "tidak berdarah murni" Hal ini menyebabkan orang2 Tionghoa di Indonesia kehilangan jati diri, karena mereka bukan Indonesia dan juga bukan Cina. Akhirnya sebagian dari mereka pindah ke negara2 lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brazil.
In protest, many Cina Totoks returned to either mainland China, Hong Kong, or Taiwan, only to find that they were not welcomed there either. Ironically, they were not regarded as "pure Chinese", regardless of their effort of maintaining a "pure Chinese breed". The unfortunate news of the early migrants was widespread among the Chinese Indonesians. They soon found themselves as neither Indonesian nor Chinese. Some decided to move to some other places, like Singapore, Malaysia or even as far afield as Brazil.
Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yg sangat pedih karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga mereka. Segala tradisi yg berbau Cina diharamkan, dan bahasa Mandarin pun dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis. Di beberapa daerah juga hal ini disangkut pautkan dengan agama di mana orang Tionghoa dianggap tidak menghormati agama Islam dan tradisi muslim dan dibunuh. Pada periode 1965-1975, aparat dapat dengan seenaknya mengeksploitasi orang Cina dengan merampok dan memperkosa keluarga mereka. Cara satu2nya untuk survive pada masa itu adalah dengan menyogok.Bahkan para Tionghoa yg berjasa bagi Indonesia pun ditangkap, dipenjara, dan dibunuh, dan hal ini menyebabkan orang Tionghoa menjadi memisahkan diri dengan Indonesia. Mereka tidak senang disebut sebagai warga "Indonesia" Hal ini terjadi hingga hari ini. Walaupun generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi. Budaya mereka menjadi lebih kebarat-baratan, karena banyak orang tua Tionghoa memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke Amerika atau Eropa.
The Chinese-Indonesian were all forced to change their names to Indonesian sounding ones. This law is considered as one of the most humiliating ones to those in the Chinese community in Indonesia since by doing so, they are forced to lose their family name. Between 1965 and 1975, army and police officers were rampant in abusing Chinese Indonesians, such as openly robbing and raping their families. During this time, police could abuse any people using Chinese language. The only way to survive during this harsh period was by using bribes.
In addition, those who were considered as heroes of Indonesian independence, such as Siauw Giok Tjhan and Liem Koen Hian, were either brutally executed, exiled, or jailed. Those who protested were silently murdered. None of them were bestowed national hero status. It effectively discouraged any Chinese Indonesian of the time to dedicate their lives for Indonesia.
Since Chinese Indonesians were banned from all aspects of life except from the economy and industry, they concentrated their effort in those areas and became remarkably successful. It opened opportunities for government and military officers to levy bribes from Chinese Indonesian businessmen. Bribes and corruption soon became a norm. This widened the gap between them and pribumi. The pribumi accused Chinese Indonesians with colluding with the government and thereby poisoning the entire political system. On the other hand, Chinese Indonesians felt that they were treated unfairly and the government was much more lenient toward the pribumi.
Most Chinese Indonesians are not Muslim, further generating negative sentiments from the mostly Muslim natives. This is ironic in light of the fact that some of the earliest Muslim evangelists in Java (who were called the Wali Songo or 'The Nine Ambassadors') were of Chinese ancestry. A historical theory even suggests that the first people who brought Islamic faith to Indonesia were the Chinese traders, especially those who came to Semarang under the leadership of Sam Po Kong or Admiral Zheng He. Zheng He was not a Han, but a Muslim from a minority ethnic group in China.
Because of discrimination, most Chinese Indonesians were not politically active and could not lobby for legislation to protect their own interests, despite their economic affluence. The situation is different in neighboring Malaysia where the overseas Chinese have been both politically and economically active despite being a minority in a similar environment — better off economically in a Muslim majority country.
Despite laws and public opinion against the Chinese Indonesians, many have succeeded in fields other than business, most notably in the sport of badminton, the most popular competitive sport in Indonesia. Indonesian athletes dominated the sport from the 1960s to the 1990s. Many of the beloved players and coaches are Chinese Indonesians, such as Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata, Tjun Tjun, Johan Wahjudi, Ade Chandra, Liem Swie King, Ivana Lie, Verawaty, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ardy Wiranata, and Heryanto Arbi.
Pada kerusuhan 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi dan KKN di Indonesia karena mereka sering menggunakan sogokan untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Ratusan ribu orang Tionghoa di Indonesia, dibunuh, diperkosa, dan milik mereka dijarah massa. Hal ini menyebabkan banyak orang Tionghoa memutuskan untuk lari dari Indonesia, dan pindah ke negara2 tetangga seperti Australia dan New Zealand. Dan bahkan setelah reformasi, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia karena mereka menemukan bahwa negara2 barat lebih menghormati hak2 mereka ketimbang Indonesia.
Ada blog yg ngebahas soal kerusuhan Mei, untuk jelasnya mengenai situasi saat itu, baca aja di sini
As more and more discrimination and enmity accumulated, Chinese Indonesians increasingly identified themselves as a separate group and did not like to be referred to as "Indonesians". Although younger generations did not as strictly follow traditions as the older ones did, they still felt they were different from Indonesians.
During this era, younger generations adopted western culture more and more as they perceived it as being more superior. They were more aligned toward western countries such as the United States or the United Kingdom. The westernization became popular as many parents sent their children abroad to western countries.
The Jakarta riot of 1998 targeted many Chinese Indonesians. The riot itself drew condemnations from Chinese speaking countries. Suharto was allegedly the mastermind of this riot, but it misfired. Suffering from lootings and arsons, many Chinese Indonesians fled from Indonesia. Ironically, they found western countries were more accepting than Indonesia, their country of birth. Even after the riot subsided, many of them did not want to return.
Setelah reformasi, pada masa pemerintahannya, Gus Dur mencabut larangan bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Kwik Kian Gie dijadikan menteri perekonomian. Gus Dur juga memberikan ijin bagi orang2 Tionghoa untuk menjalankan tradisinya tanpa harus meminta ijin kepada pemerintah. Pada masa pemerintahan Megawati, hari raya Imlek pun ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Setelah 45 tahun dilarang di Indonesia (sejak tahun 1965), pada tahun 2000, Metro TV menjadi stasiun TV pertama yg menggunakan bahasa mandarin. Pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan undang2 yg menghapus segala perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Dan pada tahun 2007, SBY meresmikan istilah "Tionghoa" sebagai nama bagi penduduk keturunan Cina di Indonesia.
---
So, setelah membaca uraian di atas, bisa kita lihat bahwa pada awal mulanya, orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Diskriminasi terjadi akibat usaha penjajah untuk memecah belah Indonesia. Berbagai usaha perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, namun luka yg telah mendarah daging selama berbagai generasi tidaklah semudah itu untuk dihapuskan.
Marilah kita sebagai generasi muda, belajar dari kesalahan pada leluhur kita, untuk bersikap kritis. Jangan mudah diadu domba oleh pihak2 yg tidak bertanggung jawab. Diskriminasi adalah sebuah hal yg menginjak2 martabat dan hak asasi manusia, dan perbedaan SARA adalah sebuah kekayaan budaya bangsa yg harus kita hargai. Satu nusa, satu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika.
And most of all, we are a children of the world, God's great big family, and love is all we need =)