Kegagalan Awal Para Pengusaha Terkenal (Dan Apa yang Mereka Pelajari)
Every failure contains the seeds of your next success – Paul Allen
Ketika kita berpikir tentang legenda sejati dunia bisnis, sangat mudah untuk menempatkan mereka sebagai role model. Tentunya, kita sering berpikir, orang-orang yang menghasilkan kekayaan multi-billion dollar adalah jenis makhluk langka. Dan jarang gagal pada sesuatu. Namun ketika Anda melihat kembali pada sejarah kehidupan nyata para pengusaha ini, ada banyak kegagalan yang mereka hadapi sebelum sukses.
Bill Gates & Paul Allen, Founder Microsoft
Bill Gates selamanya akan diingat sebagai founder Microsoft, tapi ini sebenarnya bukan bisnis pertamanya. Sebelum mendirikan raksasa perangkat lunak di belakang Windows, Gates memimpin sebuah perusahaan yang disebut Traf-O-Data. Tujuannya? membuat laporan yang terkomputerisasi dari data mentah dari traffic jalan di Amerika. Mereka kemudian berencana untuk menjual data komputerisasi ini kepada pemerintah negara bagian dan lokal, namun gagal karena produk tersebut tidak dapat diterima.
Menurut Paul Allen, mereka tidak memiliki customer, Traf-O-Data adalah ide bagus tanpa sebuah bisnis model. Mereka tidak melakukan riset pasar dan tidak tahu bahwa ternyata sangat sulit untuk mendapatkan komitmen pendanaan. Antara tahun 1974 dan 1980, Traf-O-Data membukukan krugian $3,494 kemudian mereka menutupnya.
Traf-O-Data remains my favorite mistake because it confirmed to me that every failure contains the seeds of your next success – Paul Allen (Newsweek)
Kegagalan di Traf-O-Data justru memberikan mereka informasi bahwa komputer kecil bisa menjalankan program yang sama dengan komputer besar dengan beberapa perubahan, tetapi dengan biaya yang jauh lebih kecil. Hal ini menjadi langkah penting menuju personal computer yang bisa digunakan semua orang dan mengilhami kelahiran microsoft.
Jika ada sesuatu yang bisa dipelajari dari Traf-O-Data, itu adalah gagasan pertama seorang Entrepreneurs jarang merupakan ide yang terbaik. Untungnya bagi mereka, mereka tidak berkecil hati dengan penutupan Traf-O-Data dan membuat salah satu perusahaan paling sukses dalam sejarah bisnis, Microsoft.
Akio Morita & Masaru Ibuka, founder Sony
Hari ini, Anda tentu tahu Sony sebagai perusahaan elektronik kelas dunia. Tetapi Sony, di awal pendiriannya adalah perusahaan berteknologi rendah dibandingkan yang lain, seperti yang ditunjukkan oleh pendirinya Akio Morita dalam menjual rice cooker. Masalahnya, seperti disebutkan oleh SonyInsider.com, penanak nasi buatan sony lebih banyak membakar beras daripada memasaknya. SonyInsider juga Menyebut rice cooker ini sebagai “produk primitif”. Proyek ini menjadi “primitive product” untuk Morita dan Masaru Ibuka. Pada akhirnya, kurang dari 100 unit terjual kepada publik.
kata kata mutiara
Morita dan Ibuka memiliki wisdom yang kuat untuk tetap berjuang keras, setelah proyek rice cooker itu gagal. Seandainya mereka adalah orang keras kepala dan lemah yang terus menerus yakin dengan ide produk pertamanya atau memutuskan berhenti, mereka mungkin tidak akan pernah membangun kerajaan elektronik bernama Sony.
Entrepreneurs hari ini harus bisa mengingat pelajaran ini. Jangan pernah takut untuk mendapat kerugian di awal, karena Anda dapat bergerak dari ide pertama yang buruk ke situasi yang lebih baik.
Harland Sanders David, founder KFC
Harland Sanders David (lebih dikenal sebagai “Kolonel Sanders”) mengalami banyak kegagalan terberat di awal . Meskipun kita tahu sekarang ini dialah penemu resep ayam populer, tetapi tidak ada yang tahu pada awalnya penemuannya. Bahkan, Sanders mengalami penolakan lebih dari 1.000 kali sebelum akhirnya menemukan restoran yang bersedia bekerja dengannya. Kolonel Sanders membawa campuran rempah-rempah rahasia di dalam mobilnya untuk mencari mitra bisnis.
Kegagalan awal Kolonel Sanders adalah bukti kekuatan tekad. Ini akan menjadi terlalu mudah jika ia menyerah setelah ditolak seratus kali. Tapi Sanders tahu resep-nya memiliki nilai dan maju terus sampai ia menemukan seseorang yang setuju dengan ideanya. Mungkin tidak mengherankan founder Y Combinator, Paul Graham percaya determinasi adalah sesuatu yang paling penting untuk dimiliki seorang Entrepreneurs .
In most domains, talent is overrated compared to determination. I can’t think of any field in which determination is overrated. The simplest form of determination is sheer willfulness. When you want something, you must have it, no matter what. – Paul Graham
Henry Ford & Detroit Automobile Co
Perusahaan pertama Ford – Detroit Automobile Company – bangkrut pada tahun 1901 di tengah keluhan pelanggan kareana harga tinggi dan kualitas rendah, menurut Newsweek. Henry Ford Company (didirikan satu tahun kemudian) telah ditinggalkan karena konflik dengan partnernya, sementara perusahaan ketiga hampir runtuh karena angka penjualan yang rendah membuatnya tidak mungkin mengembalikan pendanaan dari investor. Pada akhirnya, angel investor menyelamatkan bisnisnya yang bermasalah dan membuat perusahaan baru dengan nama Ford Motor Co. yang pada tahun 2009 menghasilkan net income sebesar $2.7 billion.
Dalam kegagalan diatas, apa yang Henry Ford pelajari adalah “dengarkanlah market Anda!”. Ford Motor Company terfokus untuk memproduksi kendaraan secara massal yang pelanggan inginkan dan mampu untuk membeli. Tentunya, kita semua tahu tentang Ford Motor sementara hampir tidak ada orang yang ingat Detroit Automobile Co.
R.H. Macy, founder jaringan dept store Macy
RH Macy tidak mengalami sukses instan di bisnis ritel. Bahkan, empat lokasi toko pertama yang ia buka adalah kegagalan besar (termasuk toko Macy pertama di Massachusetts.) Antara 1843-1855, semua tokonya mati karena permintaan konsumen yang sedikit dan total penjualan yang loyo.
Tentunya ada pelajaran yang bisa diambil di hampir setiap kegagalan usaha yang ada, tentunya ini juga tidak berbeda untuk R.H. Macy. Pada akhirnya ia pun membuka jalan untuk sukses dengan membuka toko di lokasi utama (New York City) bukan di daerah dengan permintaan yang sedikit.
Macy mengalami kegagalan di awal dan akhirnya sadar dan menyerap semua pelajaran yang dia bisa ambil untuk menghindari kesalahan yang sama di kemudian hari.
JK Rowling, “founder” Harry Potter
Ketika J.K Rowling menulis paragraf pertama dari novel Harry Potter, dia dalam keadaan hampir bangkrut, seorang single mother yang berjuang dari depresi. Ketika ia menyelesaikan script pertamanya, ia ditolak oleh 12 publisher sebelum publishing house kecil di London menerimanya. Saat ini menurut Biography.com, ia lebih kaya dari Queen Elizabeth II.
I was set free because my greatest fear had been realized, and I still had a daughter who I adored, and I had an old typewriter and a big idea. And so rock bottom became a solid foundation on which I rebuilt my life. It is impossible to live without failing at something – JK Rowling
Evan Williams, Blogger
Ketika Evan Williams dan partnernya, Meg Hourihan, membangun Pyra Labs di tahun 1999, salah satu produknya adalah Blogger yang dilaunch pada 2001, awalnya Blogger sepenuhnya free dan tidak men-charge biaya dari user dan tidak memiliki revenue model, ketika dana seed perusahaan mengering, karyawannya terus bekerja tanpa bayaran selama beberapa minggu dan dalam beberapa kasus, sampai beberapa bulan, sampai kemudian Williams menghadapi “walk out” dari karyawannya, termasuk co foundernya, Meg Hourihan.
Williams menjalankan perusahaannya seorang diri dari rumahnya sampai berhasil mendapatkan pendanaan Trelix dan kemudian diakuisisi oleh Google pada tahun 2003.
“When you’re obsessing about one thing, you can reach insights about how to solve hard problems. If you have too many things to think about, you’ll get to the superficial solution, not the brilliant one.” – Evan Williams
Ketika Cinta Mengubah Segalanya
Silvana Paternostro: Jurnalis Feminis, Tapi Akhirnya Jatuh Cinta pada Lelaki Berbudaya Patriark
Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.
Buku keduanya, My Colombian War: A Journey Through the Country I Left Behind, diterbitkan tahun 2007. Kali ini, Silvana membahas perang saudara di Kolombia yang berlangsung tak kurang dari 40 tahun, termasuk mengenai keterlibatan AS di dalamnya. Karya-karyanya rutin diterjemahkan dan dicetak berulangkali, terutama di Amerika Latin. Kecintaannya pada dunia jurnalistik membawa Silvana menempati posisi kontributor sekaligus editor di majalah Bomb, salah satu majalah budaya terkemuka New York yang berisi wawancara dengan para seniman, penulis, aktor, hingga musisi. Dia pun pernah menjadi associate producer film The Argentine and Guerrilla, yang dibuat berdasarkan kisah hidup Che Guevara, disutradarai Steven Soderbergh dan dibintangi Benicio del Toro.
Cukup berbincang tentang sejumlah prestasinya, yang hingga kini masih terus bertambah seiring dengan jumlah karya besarnya. Yang lebih menarik dan menginspirasi, adalah kisah asmara Silvana dengan seorang laki-laki. Kisah itu dimulai ketika Silvana menyetujui ide temannya merancang pertemuan antara dia dan seorang bankir sukses yang aktif memproduksi teater, Daniel Pastor. Umurnya matang, dan dia benar-benar (terdengar seperti) pasangan yang sempurna. Sayang, dia laki-laki Amerika Latin.
Amerika Latin seolah menjadi “kesalahan terbesar”. Ya, laki-laki itu berasal dari tempat kelahiran Silvana, sekaligus tempatnya melihat fakta bahwa perempuan tak mendapat persamaan hak. Dia, sudah pasti anti terhadap laki-laki produk budaya tanah kelahirannya, yang bertolak belakang dengan misinya mengkritik “budaya diskriminasi” tersebut. Men told women what to do, what to say, how to dress, and when to do all three, tulis Silvana dalam majalah Vogue edisi Februari ini.
Tiap Minggu, Silvana menyaksikan bagaimana tradisi makan siang bersama di rumah kakek-neneknya menjadi “mimpi buruk” bagi seluruh anggota keluarga perempuan. Bagaimana laki-laki bicara keras sementara istri-istri mereka diam seribu bahasa, memastikan makanan dan minuman dihidangkan dengan sangat baik dan sesuai dengan selera pasangan mereka, karena ketika ada sedikit saja kesalahan—seperti salad yang terlalu banyak di piring—bisa jadi masalah besar.
Silvana sendiri merasakan langsung dominasi laki-laki dalam hidup perempuan. Di umur 15 tahun, Silvana memiliki kekasih yang membuktikan cinta lewat bunga, cokelat, rekaman lagu-lagu cinta, hingga kalung berliontin berlian mungil bentuk hati. Sangat manis memang, sayang, di waktu yang sama kekasihnya itu mengatur cara berpakaian Silvana, kapan dia harus pulang, bahkan mengatur buku apa saja yang boleh Silvana baca. Beruntung, orangtua Silvana mengirimnya ke sekolah perempuan Bloomfields Hills, di Michigan. Itulah titik balik hidup Silvana. Meninggalkan segala bentuk dominasi yang dia lihat dan alami di tanah kelahirannya.
Lulus dari Bloomfields Hills, Silvana meneruskan kuliah di University of Michigan dan mulai sebebas-bebasnya melakukan apa yang dia mau, termasuk menentukan gaya berpakaian dan membaca buku sesuai minat. Masa muda yang dia lewati di Michigan, kemudian New York, membuatnya menemukan bagaimana seharusnya perempuan ditempatkan dan menempatkan diri: setara, seimbang, tanpa aturan yang membatasi ruang geraknya untuk berkembang.
Singkat cerita, penolakan Silvana tak mempan karena akhirnya dia benar-benar dipertemukan dengan si laki-laki Amerika Latin. Pertemuan pertama pun berlanjut dengan dinner, karena faktanya laki-laki itu jauh dari yang dia kira. He was funny, sure of himself, even cocky and verbose, but he was smart as a whip and more handsome than George Clooney. My confrontational side was not coming out with this macho man. In fact, I was quite taken with him, tulis Silvana kemudian. Hubungan itu berlanjut. Silvana bahkan menerima ajakan laki-laki Amerika Latin-nya untuk tinggal di Mexico. Silvana pun “hijrah” dengan membawa serta sebotol parfum warisan nenek, sebagai simbol yang terus mengingatkan dari mana dia berasal.
Saat ini Silvana harus rela bolak-balik New York-Meksiko demi si laki-laki Amerika Latin. Perhaps I’m now ready for some perfume, tutupnya. Ya, Silvana harus mencoba aroma parfum lain karena sejarah yang dulu akan diteruskan dengan sejarah baru, cerita baru, pemahaman baru. Silvana sadar, sewaktu-waktu hal yang dia hindari itu—dominasi—bisa saja menimpa siapa pun, termasuk dirinya, tapi apa yang dialami kembali ke diri sendiri, bagaimana perempuan menempatkan diri, menerima didominasi atau pilih bebas menentukan sikap.
Hidup bersama orang yang semula dia hindari, kini malah memberikan warna baru. Di waktu yang sama, Silvana merasa menemukan tempat nyaman yang berbeda jauh dari ingatan masa kecilnya tentang laki-laki Amerika Latin. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya, membukakan pemikiran dari yang semula hanya satu, menjadi banyak sudut pandang. Ini bukan bentuk ketidakkonsistenan Silvana. Dia hanya sedang jatuh cinta.
Perempuan asal Kolombia ini rutin menulis tentang Kuba, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, untuk berbagai media, seperti World Policy Journal, The Paris Review, New York Times,Newsweek Magazine, dan The New Republic. Dia pun pernah menulis buku tentang gender (perempuan) serta perannya dalam pemerintahan dan agama di Amerika Latin, In the Land of God and Man: A Latin Woman’s Journey (1998), yang kemudian masuk dalam nominasi PEN/Martha Abrams Award kategori First Nonfiction.
Buku keduanya, My Colombian War: A Journey Through the Country I Left Behind, diterbitkan tahun 2007. Kali ini, Silvana membahas perang saudara di Kolombia yang berlangsung tak kurang dari 40 tahun, termasuk mengenai keterlibatan AS di dalamnya. Karya-karyanya rutin diterjemahkan dan dicetak berulangkali, terutama di Amerika Latin. Kecintaannya pada dunia jurnalistik membawa Silvana menempati posisi kontributor sekaligus editor di majalah Bomb, salah satu majalah budaya terkemuka New York yang berisi wawancara dengan para seniman, penulis, aktor, hingga musisi. Dia pun pernah menjadi associate producer film The Argentine and Guerrilla, yang dibuat berdasarkan kisah hidup Che Guevara, disutradarai Steven Soderbergh dan dibintangi Benicio del Toro.
Cukup berbincang tentang sejumlah prestasinya, yang hingga kini masih terus bertambah seiring dengan jumlah karya besarnya. Yang lebih menarik dan menginspirasi, adalah kisah asmara Silvana dengan seorang laki-laki. Kisah itu dimulai ketika Silvana menyetujui ide temannya merancang pertemuan antara dia dan seorang bankir sukses yang aktif memproduksi teater, Daniel Pastor. Umurnya matang, dan dia benar-benar (terdengar seperti) pasangan yang sempurna. Sayang, dia laki-laki Amerika Latin.
Amerika Latin seolah menjadi “kesalahan terbesar”. Ya, laki-laki itu berasal dari tempat kelahiran Silvana, sekaligus tempatnya melihat fakta bahwa perempuan tak mendapat persamaan hak. Dia, sudah pasti anti terhadap laki-laki produk budaya tanah kelahirannya, yang bertolak belakang dengan misinya mengkritik “budaya diskriminasi” tersebut. Men told women what to do, what to say, how to dress, and when to do all three, tulis Silvana dalam majalah Vogue edisi Februari ini.
Tiap Minggu, Silvana menyaksikan bagaimana tradisi makan siang bersama di rumah kakek-neneknya menjadi “mimpi buruk” bagi seluruh anggota keluarga perempuan. Bagaimana laki-laki bicara keras sementara istri-istri mereka diam seribu bahasa, memastikan makanan dan minuman dihidangkan dengan sangat baik dan sesuai dengan selera pasangan mereka, karena ketika ada sedikit saja kesalahan—seperti salad yang terlalu banyak di piring—bisa jadi masalah besar.
Silvana sendiri merasakan langsung dominasi laki-laki dalam hidup perempuan. Di umur 15 tahun, Silvana memiliki kekasih yang membuktikan cinta lewat bunga, cokelat, rekaman lagu-lagu cinta, hingga kalung berliontin berlian mungil bentuk hati. Sangat manis memang, sayang, di waktu yang sama kekasihnya itu mengatur cara berpakaian Silvana, kapan dia harus pulang, bahkan mengatur buku apa saja yang boleh Silvana baca. Beruntung, orangtua Silvana mengirimnya ke sekolah perempuan Bloomfields Hills, di Michigan. Itulah titik balik hidup Silvana. Meninggalkan segala bentuk dominasi yang dia lihat dan alami di tanah kelahirannya.
Lulus dari Bloomfields Hills, Silvana meneruskan kuliah di University of Michigan dan mulai sebebas-bebasnya melakukan apa yang dia mau, termasuk menentukan gaya berpakaian dan membaca buku sesuai minat. Masa muda yang dia lewati di Michigan, kemudian New York, membuatnya menemukan bagaimana seharusnya perempuan ditempatkan dan menempatkan diri: setara, seimbang, tanpa aturan yang membatasi ruang geraknya untuk berkembang.
Singkat cerita, penolakan Silvana tak mempan karena akhirnya dia benar-benar dipertemukan dengan si laki-laki Amerika Latin. Pertemuan pertama pun berlanjut dengan dinner, karena faktanya laki-laki itu jauh dari yang dia kira. He was funny, sure of himself, even cocky and verbose, but he was smart as a whip and more handsome than George Clooney. My confrontational side was not coming out with this macho man. In fact, I was quite taken with him, tulis Silvana kemudian. Hubungan itu berlanjut. Silvana bahkan menerima ajakan laki-laki Amerika Latin-nya untuk tinggal di Mexico. Silvana pun “hijrah” dengan membawa serta sebotol parfum warisan nenek, sebagai simbol yang terus mengingatkan dari mana dia berasal.
Saat ini Silvana harus rela bolak-balik New York-Meksiko demi si laki-laki Amerika Latin. Perhaps I’m now ready for some perfume, tutupnya. Ya, Silvana harus mencoba aroma parfum lain karena sejarah yang dulu akan diteruskan dengan sejarah baru, cerita baru, pemahaman baru. Silvana sadar, sewaktu-waktu hal yang dia hindari itu—dominasi—bisa saja menimpa siapa pun, termasuk dirinya, tapi apa yang dialami kembali ke diri sendiri, bagaimana perempuan menempatkan diri, menerima didominasi atau pilih bebas menentukan sikap.
Hidup bersama orang yang semula dia hindari, kini malah memberikan warna baru. Di waktu yang sama, Silvana merasa menemukan tempat nyaman yang berbeda jauh dari ingatan masa kecilnya tentang laki-laki Amerika Latin. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya, membukakan pemikiran dari yang semula hanya satu, menjadi banyak sudut pandang. Ini bukan bentuk ketidakkonsistenan Silvana. Dia hanya sedang jatuh cinta.