Film Horor yang Diangkat dari Kisah Nyata

Lima Film Horor yang Diangkat dari Kisah Nyata

"The Conjuring"“Itu adalah film paling seram tahun ini”. Ah, bohong.

“Berdasarkan kisah nyata”. Ya ampun, itu baru seram.

Ada aturan tidak resmi untuk film horor: ketika sebuah film dibuat berdasarkan kisah nyata, maka kesan seram akan lebih terasa. Itulah mengapa para pembuat film senang mengubah kisah seram di dunia nyata menjadi sebuah film horor. Bukan bermaksud menghina, namun “Paranormal Actvity” tampak seperti film kartun jika dibandingkan dengan film horor berdasarkan kisah nyata.

Film terbaru yang diproduksi pada tahun ini adalah “The Conjuring” karya James Wan yang mendapat pujian. Dianggap sebagai film paling seram tahun ini, film tersebut menceritakan kisah Ed dan Lorraie Warren (diperankan oleh Patrick Wilson dan Vera Farmiga), dua peneliti paranormal yang dipanggil oleh keluarga Perron untuk menyelidiki aktivitas paranormal yang sedang terjadi di rumah baru mereka. Akan tetapi, tanpa diketahui oleh pasangan Warren, makhluk jahat yang berada di dalam rumah itu sekarang malah berbalik mengejar mereka.

Namun tentu saja, “The Conjuring” bukanlah satu-satunya film horor yang diangkat dari kejadian sebenarnya. Kita lihat lima film lain serupa:

1. The Amityville Horror (2005)

Salah satu film horor paling terkenal yang diangkat dari kisah nyata, “The Amityville Horror” dibuat berdasarkan buku yang ditulis oleh pasangan George dan Kathy Lutz.

Pada 1976, pasangan tersebut pindah ke sebuah rumah di Long Island yang merupakan tempat terjadinya pembunuhan massal mengerikan saat seorang pria secara brutal membunuh enam anggota keluarganya pada 1974. Tentu saja, hal-hal yang menyeramkan mulai terjadi saat keluarga Lutz pindah ke tempat itu; mereka mendengar suara-suara gaib pada siang hari, merasakan titik-titik dingin di seluruh bagian rumah, melihat penampakan menyeramkan dan bahkan menyaksikan dinding mereka “berdarah” dengan lendir hijau.

Ed dan Lorraine Warren yang asli, bintang film “The Conjuring”, diundang untuk menyelidiki rumah tersebut. Lorraine lantas mengklaim bahwa kejadian di rumah yang dihantui tersebut bukanlah kebohongan seperti yang diklaim oleh beberapa orang. Tempat itu sangat berhantu dan dengan kehadiran makhluk jahatnya terasa sangat kuat; pasangan tersebut pindah setelah hanya 28 hari tinggal di rumah itu.

2. The Exorcism of Emily Rose (2005)

Sejujurnya, film “The Exorcism of Emily Rose” merupakan sebuah film yang cukup menyeramkan, dan terasa sepuluh kali lebih menyeramkan ketika Anda mengetahui bahwa film tersebut dibuat berdasarkan cerita seorang gadis asal Jerman berusia 16 tahun bernama Anneliese Michel.

Pada 1968, remaja yang dulunya periang tersebut mulai memperlihatkan gejala-gejala kesurupan. Selama bertahun-tahun, Anneliese diklaim mendapat pendengaran suara-suara yang mengatakan bahwa dia “dikutuk” dan akan “disiksa di neraka.” Dia mulai berhenti makan dan menyiksa dirinya sendiri, dan pada 1975, saat orangtuanya yakin bahwa anaknya kesurupan beberapa mahkluk jahat, dua orang pendeta melakukan upacara pengusiran roh jahat selama periode 10 bulan.

Selama itu, Anneliese jarang makan dan pada Juli 1976 dia meninggal karena kelaparan. Kedua pendeta tersebut dan orangtua Anneliese disidangkan dan diputuskan bersalah atas tuntutan pembunuhan, dan dijatuhi hukuman enam bulan penjara.

3. The Haunting in Connecticut (2009)

Pada 1986, Carmen Snedeker dan suaminya menyewa sebuah tempat di Connecticut supaya lebih dekat dengan dokter spesialis yang merawat putra mereka Paul (14) yang mengidap kanker.

Keluarga tersebut kemudian mengetahui bahwa rumah itu dulunya digunakan sebagai rumah duka, dan tak lama kemudian, Paul memiliki penglihatan dan mulai bisa melihat makhluk halus. Keluarga Snedeker kemudian mulai mendengar suara-suara gaib dan melihat bayangan makhluk halus, dengan Carmen menggambarkan salah satu hantu tersebut “sangat kurus, dengan tulang pipi menonjol, rambut hitam panjang, dan mata yang sangat gelap.”

Semuanya semakin mengerikan ketika Paul dirasuki dan mulai menyerang anggota keluarganya. Ed dan Lorraine Warren dipanggil untuk melakukan penyelidikan dan setelah melakukan ritual pengusiran setan untuk membersihkan rumah itu dari makhluk halus, Lorraine mengatakan kepada para wartawan bahwa kejadian yang sesungguhnya “jauh lebih lebih mengerikan dari semua film yang ada.” Astaga! Seberapa mengerikan peristiwa itu?

4. The Entity (1982)

“The Entity” adalah salah satu film paling mengerikan yang pernah dibuat, dan kisah nyata yang diangkat menjadi film itu bahkan jauh lebih mengerikan. Digambarkan sebagai salah satu peristiwa paranormal paling mengganggu yang pernah ada, seorang perempuan bernama Doris Bither mengklaim ia disiksa dan diperkosa makhluk halus.

Setelah mengalami serangan makhluk halus yang tak terhitung jumlahnya, baik secara fisik maupun seksual, Doris meminta bantuan peneliti paranormal Kerry Gaynor dan Barry Taff pada 1974. Dan makhluk tersebut tidak mau diusik: Kerry dan Barry menyaksikan benda-benda bergerak di rumah Doris, bola cahaya melayang, dan bahkan mereka melihat penampakan, meskipun itu tidak menyerang Doris. Setelah melakukan banyak pertimbangan, Doris pindah dari rumahnya dan ia tak lagi dihantui.

5. The Exorcist (1973)

“The Exorcist” sudah cukup mengerikan, iya kan? Terutama ketika film itu dinobatkan sebagai film paling mengerikan sepanjang masa oleh beberapa majalah. Tapi, bagaimana reaksi Anda jika saya mengatakan bahwa film itu sebenarnya berdasarkan kisah nyata?

“The Exorcist” diadaptasi dari ritual pengusiran setan sesungguhnya yang dilakukan terhadap bocah laki-laki berusia 14 tahun pada 1949. Anak tersebut, yang nama samarannya dikenal sebagai Roland Doe, berusaha untuk berkomunikasi dengan bibinya beberapa hari setelah kematiannya, dengan menggunakan papan Ouija dan tak diragukan lagi, beberapa hal gaib mulai terjadi. Perabot mulai bergerak sendiri, suara garukan dan ketukan sering terdengar di malam hari dan tempat tidur Roland berguncang dengan keras dan bahkan melayang.

Tetangga Roland mulai menyadari bahwa hal-hal aneh terjadi di rumah itu, dan ketika perilaku bocah itu berubah drastis — ia menjauh dari benda-benda suci dan berbicara dengan suara setan — beberapa pendeta dipanggil untuk melakukan pengusiran setan.

Mereka dikabarkan melakukan lebih dari 30 ritual pengusiran setan terhadap Roland. Seorang pendeta mengatakan bahwa ia melihat kata “setan” dan “neraka” yang secara misterius muncul di tubuh bocah itu. Setelah ritual pengusiran setan selesai, dinyatakanlah bahwa Roland sudah kembali seperti semula. Tentu saja peristiwa kerasukan di film itu terlalu dilebih-lebihkan, namun cerita aslinya jauh lebih menakutkan.

Bukan Orang Tionghoa

Semestinya siapa identitas keklompokan kita sebagai keturunan Tionghoa-Indonesia?

Di Indonesia, kita Cina, dan Cino di Jawa. Meskipun Cina telah diterima dimana-mana disekitar kita seperti Malaysia, Filipina, India dan semua yang berbahasa Spanyol, tetapi kita masih minta dipanggil Tiongkok atau Tionghoa. karena Cina kedengarannya kurang enak kalau keluar dari mulut yang bukan Cina yang niru Cretin Jepang. Kecuali kalau dibilang Sines oleh orang Belanda, mantan cukong kita, OK sampai sekarang.

Dikalangan international, kita China, meski asal dari Cina, kita bisa menerimanya karena memang China telah dihormati sebagai bangsa yang kuat sekarang, dan kedengarannya lebih mantap, CHIN a, dari bibir bule. Dan Chin-a bukan asal dari Dinasti konyol yang pendek umur Qin, tetapi dari Sanskrita Cina-patta,yang artinya" pintalan sutra produk dari Cheng-du" sejak lebih dari 3 kilo tahun yang lalu. Hanya dari bule konyol yang memfomulirkan China asal Qin, dan diterima begitu saja sampai sekarang.

Ditanah leluhur kita, mereka bilang mereka adalah Hua-ren, orang Hua singkatan dari Tionghoa, tetapi kita bilang kita adalah Zhong-guo-ren, orang Tiongkok, namun mereka bilang "No", kamu adalah Hua-qiao yaitu Hoakiaw dalam mulut peranakan yang artinya "keturunan Hua dari perantauan seberang lautan", dan kelahiran Hoakiaw dibilang Qiao-sheng (jiao-seng).

Kita baru mengerti setelah di Inggriskan sebagai "Overseas Chinese". Sekali lagi kita tidak disebut orang Tiongkok maupun orang Tionghoa oleh orang Tiongkok, dan tetap sebagai orang Cina dimulut Barat. Chususnya orang Hokkian yang tidak perduli kita itu apa Hua-ren, Zhong-guo-ren, Tionghoa, Cina atau China, kita semua adalah TANG-Lang asal dari Tang-sua, keturunan Bangsa Tionghoa zaman Dinasti Tang yang jaya mulia dalam sejarah.

Orang Khanfu bilang kita Dong-yan, dan Hakka bilang kita adalah Thong-yin, dan peranakan sebut kita T'ng-lang secara persepakatan dari orang Tionghoa diperantauan diseluruh dunia. Sebelum bule bilang kampong kita adalah Chinatown, kita sudah bilang itu adalah lorong Tang-lang, yaitu Dong-yan-gai. Dan di Jawa adalah Pe-Cina-an.

Peranakan menyindir Tang-lang pendatang baru sebagai Totok, karena untuk kehidupan leluhur kita jualan makanan jalanan dengan men-tik-tok-kan potongan bambu untuk mencari perhatian pembeli, tetapi Totok menghormati peranakan sebagai Baba dari bahasa Urdu/Farsi yaitu Bapak, dari kebiasaan Tang-lang menyebut peranakan Semu (keturunan Arab-Persia) yang tarap kedudukan social mereka lebih tinggi di Hokkian. Tetapi dalam hati Totok, bukankah leluhurmu, suatu ketika juga Totok sebelum melahirkan kamu, Baba? What should we call who we are then? Sekarang cerita dilemma dalam hidup pribadi: Saya terlahir di Surabaya, Jawa, Indonesia dari keturunan pertama oleh kedua pendatang baru, ayah orang Quanzhou, Hokkian tulen, Tiongkok dan ibu keturunan marga Aisin Gioro, Tiongkok yang berkewarga-negaraan Inggris. Mereka merantau ke Surabaya karena menghindari perang disana, tetapi kebiadapan Jepang achirnya juga menjalar ke Nusantara. Saya terlahir dimasa itu di Jaman Pendudukan Jepang dan bersurat lahir dalam bahasa Jepang, tetapi sama sekali bukan dan refused dianggap orang Jepang. Maka semula berpendidikan Tionghoa sampai sekolahan ditutup sebagai warga tanpa kenegaraan (status stateless) dari orang tua. Untuk meneneruskan pendidikan dan menolak untuk "dipulangkan" ke Tiongkok, masuklah kewarga-negaraan Indonesia dalam katagori VI, tidak berbahasa Belanda tetapi berpendidikan lingua franca bahasa Inggris dan lulusan sekolah tinggi Indonesia,  tetapi dimana-mana masih tidak bisa diterima dan mendapat perlakuan sebagai seorang warga Negara Indonesia dibayangan ideology Bhinneka Tunggal Ika yang selayaknya, dan masih di-Cina-kan.

Mendapatkan kesempatan untuk merantau di Amerika, meski sudah WNA lagi tetapi masih merasa diri ini orang Tang-lang, hidup sehari-hari masih ke-Cina-an dan juga ke-Jawa-an, karena disinipun masih merasa menamu diantara Bule, sering pulang Tanah Air dan juga pergi Tiongkok, sehingga juga punya rumah kecil disana buat persiapan pensiun, suatu ketika pernah mengajukan diri sebagai warga Amerika untuk meminta permanent residensi di Guangzhou, kata immigrasi situ, "kamu bukan Hua-ren, kamu cuma Hua-yi D2-E1 kelahiran Yin-ni Hoa-qiao", saya dikembalikan "bukan orang Tionghoa" tetapi sebagai keturunan Indonesia lagi. Who am I really then? But I am sure I am not alone who confused about one own national identity that lost in this turmoil generation.Maka saya mengaku identitas diri sebagai: Diaspora Indonesia kelahiran Surabaya, keturuan Tanglang Hokkian. Tjio Hock Tong.( dituturkan dalam bahasa yang bisa dimengerti umum). 

Menikah dan Meninggal pada Hari yang Sama

Menikah 66 Tahun, Pasutri AS Meninggal pada Hari yang Sama

Sepasang suami istri lanjut usia asal Ohio, Amerika Serikat, meninggal hanya berselang 11 jam dari pasangannya setelah menikah selama hampir 66 tahun, tulis sebuah media AS.

Pasangan ini meninggal di rumah jompo yang mereka tempati bersama.

Harold dan Ruth Knapke, yang memulai pacaran melalui surat-menyurat pada saat Perang Dunia II, meninggal pada 11 Agustus lalu.

"Saya rasa kami semua setuju bahwa ini bukanlah suatu kebetulan," kata Carol Romie, salah satu dari enam orang anak pasangan ini, kepada ABC News.

Adalah sang istri, Ruth Knapke (89), yang pertama jatuh sakit. Tetapi, kemudian Harold (91) meninggal terlebih dulu. Mereka kemudian dikuburkan bersama.

Anak-anak mereka mengatakan kepada koran lokal Dayton Daily News bahwa ini adalah "tindakan akhir cinta mereka".

"Kami percaya ayah ingin menemani ibu dalam kehidupan selanjutnya, dan dia benar-benar melakukannya," kata Margaret Knapke.

Semasa mudanya, Harold adalah seorang guru, pelatih, dan direktur atletik di sekolah Fort Recovery, Ohio. Sementara Ruth Knapke bekerja sebagai sekretaris di sekolah yang sama setelah lama menjadi ibu rumah tangga untuk membesarkan anak-anak mereka, kata ABC News.

Prosesi pemakaman bersama ini diadakan di depan rumah tempat mereka pernah membesarkan keluarganya.

Pemilik rumah saat ini bahkan mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati pasangan ini.

Perayaan pernikahan yang ke-66 sedianya diadakan pada 20 Agustus lalu. Tetapi, pasangan ini memilih merayakannya di alam lain.

Kisah Penyelamatan Lima Cucu

Kakek-Nenek Berjuang demi Lima Cucu

Tim dan Tammy Holmes sedang dititipi cucu—lima anak dari putri mereka, yang berusia 2-11 tahun—ketika kebakaran hutan yang telah melahap lebih dari 100 rumah di Pulau Tasmania, Australia, bergerak ke arah rumah mereka di kota Dunalley, Jumat pekan lalu.

”Kami melihat tornado api bergerak ke arah kami dan tahu-tahu segala sesuatu terbakar, semua di sekeliling kami,” kata Tim Holmes kepada Australian Broadcasting Corporation.

”Tiga rumah kami terbakar habis dan pada saat itu saya menyuruh Tammy dan anak-anak untuk turun ke dermaga karena tidak ada lagi jalan keluar lain.”

Dengan dinding api dan asap tebal bergerak cepat ke mereka dari kedua arah, Holmes mengatakan mereka berhasil mencapai tepi laut dan berlindung di bawah dermaga, menggendong erat-erat tiga dari cucu mereka yang tidak bisa berenang.

”Kami benar-benar mengandalkan dermaga itu. Kesulitannya adalah, ada begitu banyak asap dan bara api dan hanya ada mungkin 20-30 sentimeter udara di atas air,” kata Holmes.

”Sehingga hanya kepala kami yang ada di atas permukaan air, dengan berusaha bernapas, karena udaranya sangat beracun,” kata sang kakek.

Holmes mengatakan, kebakaran pada akhir pekan lalu itu ”berkobar selama tiga jam”, hutan di daerah sekitarnya jadi kobaran api dan ”meledak di mana-mana” saat mereka menanti di air laut sampai ”neraka” itu mereda.

Ibu anak-anak itu, Bonnie Walker, sedang ke luar kota untuk menghadiri pemakaman. Walker mengatakan, ketika dia mendengar bahwa orangtuanya telah melarikan diri dan properti mereka dikelilingi kobaran api, dia bersiap akan kehilangan anak-anak dan orangtuanya.

Mengirim foto


Holmes kemudian mengirim sebuah SMS kepada Walker, meyakinkan dia bahwa mereka berhasil mencapai air. Pesan singkat itu disertai sebuah foto, yang menunjukkan lima anak kecil itu saling berpelukan di bawah dermaga, berendam air laut yang dingin hingga ke leher, dengan warna oranye kobaran api di latar belakang.

Holmes akhirnya bisa kembali ke pantai, mengambil sebuah perahu kecil untuk membawa keluarganya menjauhi udara berasap itu ke tempat aman.

Pasangan Holmes kehilangan tempat tinggalnya. Namun, putrinya sangat bersyukur dan mengatakan doanya dijawab bahwa orangtua dan kelima anaknya selamat.

Kebakaran hutan telah berkobar di Australia tenggara selama hampir sepekan. Dikobarkan oleh panas dan angin kencang, kebakaran itu telah membakar lebih dari 350.000 hektar lahan.

Walau banyak yang telah teratasi, 120 titik api masih berkobar dan sedikitnya 17 titik api masih tak terkontrol di Negara Bagian New South Wales. Suhu diperkirakan naik lagi di atas 40 derajat celsius, Jumat ini.

Kisah Tiga Kembar Siam Autis

Kisah Alejandro, Alvaro, dan Jaime, Kembar Tiga yang Sama-Sama Autis

Spanyol, Autisme bisa saja terjadi pada beberapa anak, begitu juga dengan anak kembar tiga ini di mana remaja laki-laki berusia 18 tahun ini semuanya lahir dengan gangguan neurologis kompleks yang sama.

Kembar tiga itu bernama Alejandro, Alvaro, dan Jaime Morillo Aguilar. Meski mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, tapi ikatan persaudaraan di antara ketiganya sangat kuat. Orang tua si kembar, Noelia dan Jaime mengatakan bahwa mereka melihat ada yang salah pada ketiga putranya saat melihat perbedaan mereka dengan anak seusianya.

Mereka mengatakan ketiga putranya tidak menanggapi panggilan dan tampak tidak tertarik dengan hal-hal yang seharusnya membuat mereka terpesona, misalnya gonggongan anjing, pesawat terbang, atau permen. Butuh waktu tiga tahun untuk melakukan tes hingga kembar tiga ini didiagnosis menderita autis.

"Baik Alejandro, Alvaro, dan Jaime tidak tuli serta tidak memiliki masalah neurologis atau genetik yang jelas. Ketika Anda tidak memiliki gejala tersebut, tapi ternyata Anda memiliki autisme, " kata Noelia.

Di antara kembar tiga itu, Alvaro lah yang mengalami kesulitan belajar paling parah karena ia sempat mengalami cedera otak saat kanak-kanak. Oleh karena itu, ia rutin datang ke pusat khusus autisme. Namun, dua saudaranya, Alejandro dan Jaime tetap menghadiri sekolah lokal setempat yang menawarkan kelas khusus untuk membantu mereka bersosialisasi dengan anak yang tidak menderita autisme.

Tiga saudara kembar itu sama seperti anak lainnya yang memiliki rutinitas. Mereka suka menonton TV, mencuci piring, dan suka makan yoghurt rasa kelapa serta bermain nintendo. Setiap jumat, Alejando dan dua saudaranya pergi ke perpustakaan kota untuk menyewa film.

Mereka juga datang ke tempat rekreasi setempat untuk bersosialisasi dengan anak autis lainnya. Alejandro memiliki hobi bermain puzzle. Di usia enam tahun, ia mampu menyusun 1.000 keping puzzle dalam waktu satu jam.

Sedangkan Alvaro, selalu membawa apa yang ia sebut dengan 'penemuan', yakni benda-benda seperti mainan tanah liat atau alat rumah tangga seperti gunting, pensil, dan sisir. Dibanding Alejandro dan Alvaro, Jaime-lah yang paling berkompeten sehingga saat berinteraksi dan berbicara dengan orang lain, ia kerap menjadi juru bicara bagi saudaranya.

Jaime memiliki memori yang luar biasa. Jika Anda melakukan sesuatu di satu hari, ia akan ingat hari itu terletak di minggu ke berapa dan tahun berapa. Meskipun usia mereka sudah 18 tahun, orang-orang sekitar sering memperlakukannya seperti anak kecil baik dari segi kebutuhan maupun pemahaman mereka tentang dunia sekitar.

"Saya berharap di usia mereka saat ini, mereka bisa mewujudkan impiannya. Mungkin mereka bisa pergi ke Karibia atau bekerja di pabrik di Murcia dengan sepupu mereka, Laura," kata Noelia, demikian ditulis Daily Mail.

"Banyak orang autis yang memiliki masalah dalam berkomunikasi dan bahasa sehingga mereka tidak mengerti arti kebohongan, sarkasme. Kami bukan hanya keluarga, tapi kami adalah tim," imbuh Noelia.

Interaksi tiga saudara kembar yang sama-sama menderita autis ini menarik perhatian seorang fotografer bernama Jose Antonio de Lamadrid (50) dari Sevilla. Ia merasa tersentuh dan ingin mengabadikan momen-momen kegiatan tiga saudara kembar itu.

Pasalnya, Lamadrid juga mempunyai pengalaman ketika keponakannya mengalami kondisi yang sama dengan si kembar. Lamadrid berharap foto-fotonya akan menimbulkan dukungan yang lebih besar dari pemerintah Spanyol dan organisasi autisme seperti Aguillars Morillo.

"Meski kondisinya seperti itu, keluarga ini sangat bahagia. Setiap hari terasa cukup sulit bagi mereka tapi mereka bisa tidur dengan bahagia," ujar Lamadrid.

Jangan Ajari Kami Cara Mendukung Tim Kami

"Politik adalah panglima!" kata eks tokoh PKI, Njoto. Sejarah mencatat, politik yang keliru bisa membuat sepakbola menjadi muram, bahkan berdarah-darah.

Njoto (1925-1965) dengan lantang menyebut bahwa segala sesuatu terhubung dengan politik. Termasuk sepakbola. Jika kita menengok kembali ke beberapa dasawarsa silam, politik memang kerap kali hadir ke dalam labirin sepakbola.

Pada medio 1950-an, Real Madrid pernah menjadi klub "kesayangan" Jendral Franco demi memuluskan politik diktatorialnya di Spanyol. Silvio Berlusconni tanpa tedeng aling-aling menyatakan bahwa AC Milan memang alat politiknya untuk meraih simpati massa agar terpilih menjadi perdana menteri Italia.

Tendangan Zvonimir Boban ke arah dada polisi Serbia menjadi daya picu meledaknya kemarahan rakyat Kroasia terhadap kesewenang-wenangan Serbia saat Dinamo Zagreb, yang menjadi representasi etnis Kroasia dengan Partizan Beograd yang menjadi klub kebanggaan etnis Serbia, bertarung di kejuaraan Piala Yugoslavia.

Di Indonesia, carut marut sepakbola karena politik juga kerapkali menerpa. Tentu kita semua tahu bagaimana pertikaian antara Nurdin Halid dengan Arifin Panigoro yang sibuk mempolitisasi sepakbola Indonesia hingga meninggalkan kekacauan sampai detik ini. Dan daftar benang merah antara sepakbola dengan politik ini masih bisa diperpanjang lagi hingga berlembar-lembar. Tak usah heran jika sepakbola yang kerap diracuni politik selalu berakhir kelam.

Port Said Stadium, Mesir, Rabu, 1 Februari 2012 yang lalu, 74 orang meninggal dan 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter seusai pertandingan antara Al Masry melawan Al Ahly. Banyak orang menyangsikan bahwa kericuhan ini murni hanya kericuhan "ideologis" ala fanatisme suporter, tanpa ada latar belakang politik dibaliknya. Dan kesangsian tersebut benar adanya: Ultras Al Ahly ternyata adalah mayoritas yang mendukung pencopotan Presiden Mubarak. Sementara ultras Al Masry sendiri adalah "musuh" politiknya: mereka sekumpulan orang yang menjadi tameng (pendukung) Mubarak.

Sepanjang tahun 2011 otoritas sepakbola Mesir, EFA, mendapat banyak sorotan karena selalu gagal menangani serangkaian insiden di lapangan hijau. Pada bulan April 2011, misalnya, ratusan polisi di Stadion Internasional Kairo tak dapat berkutik tatkala ribuan pendukung Zamalek tumpah ke lapangan saat menjamu klub dari Tunisia, Africain, di Liga Champions Afrika.

Insiden kembali berlanjut di bulan November. Kali ini melibatkan Al Ahly dan Zamalek karena ketika kedua tim bertanding, perang petasan dan kembang api antar kedua suporter mewarnai jalannya pertandingan. Alhasil EFA memberi sangsi terhadap kedua klub untuk bermain di stadion tanpa penonton. Masih di bulan yang sama, Ismaily mendapat sanksi yang sama karena baku hantam saat melawan Al-Ittihad. Juga Al-Masry karena penontonnya melempari lawan dengan botol air minum.

Dan semua konflik perseteruan antarsuporter klub sepakbola di Mesir mencapai klimak yang paling brutal ketika Al Masry menjamu Al Ahly dengan korban tewas hingga mencapai 74 orang. Perdana Menteri Kamal Al Ganzouri sampai-sampai memberi keputusan mengejutkan yang akan dikenang seluruh rakyat Mesir: pembubaran Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) di bawah kepemimpinan Samir Zaher.

Sepakbola memang kerap menjadi representasi kondisi psikososial masyarakat. Hanya perlu sedikit dorongan, maka kemarahan yang selama ini disimpan akan mencapai titik ledaknya yang paling eksplosif. Masyarakat Kroasia, misalnya, yang telah lama mengeram dendam terhadap Serbia tetap akan meledakkan amarahnya meski ada atau tidak adanya tendangan Boban kearah polisi Serbia.

Rakyat Argentina tetap akan membenci Inggris sekalipun Maradona tidak pernah mempermalukan mereka dengan gol "Tangan Tuhan"-nya karena insiden Malvinas. Dan dendam antisemit sejak Perang Dunia ke-II antara Belanda-Jerman akan kerap mewarnai hari-hari kedua negeri tersebut meski Johan Cruyff dan Franz Beckenbauer tak pernah lahir sebagai "dewa" sepakbola mereka. Dari sana, setiap momen akan menghadirkan simbol yang akan dikenang, dirawat, dan dijadikan teladan yang suci dan nyaris tanpa salah.

Memori tentang sepakbola adalah memori kolektif yang paradoks. Bagi ultras Al Masry dan Al Ahly, pertikaian mereka yang memakan korban sangat banyak bukanlah sebuah soal -- meski tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian dari mereka mengutuk keras kejadian tersebut --, karena racun politik (negara) telah menjadi tameng mereka. Seperti bagaimana rakyat Catalan -- yang pada zaman Franco berkuasa menjadi basis komunis Spanyol --, yang menganggap Real Madrid adalah musuh abadi karena sepakbola telah dijadikan alat politik praktis.

Sepakbola, dalam konteks tersebut, telah "dipaksa" keluar dari habitatnya sebagai sebuah permainan. Bukan lagi soal siapa pencetak gol, tim mana yang menang dan menguasai bola lebih banyak, kenapa pemain A cedera dan sebagainya. Ada semacam pemberhalaan ideologis untuk memberi pasokan kebencian sepanjang hayat dalam konteks sepakbola yang diseraki politik.

Anehnya, pemberhalaan tersebut selalu berada dalam memori kolektif suporter (penonton), bukan di dalam memori pemain (praktisi) yang notabene benar-benar bertarung di atas lapangan. Perjuangan melawan kekalahan, bagi suporter adalah perjuangan melawan lupa. Rakyat Kolombia akan sangat sulit memaafkan kiper mereka di Piala Dunia 1990, Rene Higuita, saat bola yang digiringnya hingga jauh dari gawang berhasil direbut Roger Milla. Dan sebaliknya: rakyat Kamerun seakan tak pernah merasa perlu Christiano Ronaldo karena mereka punya Roger Milla yang membuat dunia tertawa dengan tariannya saat berhasil menjebol gawang Kolombia.

Piala atau sederet prestasi lainnya bukanlah hadir dari logika para suporter. Hal-hal tersebut hadir dalam riak bisnis dan industri yang dikemas sedemikian rupa. Mereka, para suporter, hanya menyoal gairah, kesenangan, adrenalin yang terpompa, lagu-lagu yang dinyanyikan di sudut stadion, bagaimana kemudian sepakbola dapat mempererat mereka dalam keberagaman. Atau dalam kata-kata Socrates, salah satu pesepakbola kenamaan Brazil: "Keindahanlah yang pertama, kemenangan cuma sampingan. Pangkalnya pada kegembiraan."

Dalam banyak hal, politik memang diperlukan. Akan tetapi, jika politik dipergunakan segelintir orang untuk mengendalikan kesenangan dan gairah orang banyak agar tujuannya tercapai, masih adakah nilai guna politik di sana? Saya kira, pertanyaan ini telah dijawab oleh ultras Al Ahly yang membentangkan spanduk saat pertandingan melawan Al Masry yang bertuliskan: "Jangan Ajari Kami Cara Mendukung Tim Kami".

Belajar Kreatif dari Negeri Belanda

 Totalitas Total Football

Total Football bagi saya adalah sistem permainan sepakbola yang paling menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang saya duga. Berulangkali membaca berbagai literatur dan artikel sepakbola, susah menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana Total Football muncul. Hanya dengan memahami mengapa dan bagaimana, kita bisa memahami esensi sesuatu.

Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.

Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".

Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.

Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.

Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.

Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.

Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.

Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.

Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.

Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.

Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.

Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?

Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.

Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.

Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.

Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.

Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.

Lalu apa yang dilakukan?

Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.

Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.

Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.

Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.

Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.

Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.

Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.

Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.

Matahari Terbit di Tanah Nazi

Matahari Terbit di Bundesliga

Bundesliga Jerman memberi banyak kesempatan pada para pemain Jepang untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemain berkualitas. Sudah lama memang sepakbola Jerman "menampung" para pemain Asia, tapi belakangan Jepang yang terlihat paling menonjol.

Kedua negara ini belakangan memang menjadi dua kekuatan ekonomi yang menonjol. Di Asia, Jepang sudah lama menjadi kekuatan yang berpengaruh secara ekonomi. Hal sama juga terjadi di Jerman. Saat krisis ekonomi melanda Eropa pada 2008, dan buntutnya masih terasakan sampai sekarang, Jerman relatif yang paling cepat mampu memulihkan dirinya.

Jika J-League, kompetisi di Jepang, menjadi salah satu yang paling sehat di Asia, hal sama juga terjadi di Bundesliga. Belakangan ini Bundesliga malah jadi bahan pembicaraan, bukan semata karena prestasi klub-klubnya, tapi juga kekuatan finansial, juga rasionalitas klub-klubnya dalam mengelola neraca keuangan.

Etos kerja, disiplin, dan kebanggaan terhadap kemampuan sendiri jadi ciri menonjol dua bangsa ini.

Di Jepang, ada istilah ganbaru, istilah yang bisa menggambarkan bagaimana kultur Jepang terbiasa memaksa setiap orang untuk mengeluarkan semua kemampuannya sampai batas yang terjauh. "Der Sieg is Alles [Kemenangan adalah segala-galanya]," begitu ucap orang Jerman, yang mencerminkan dengan benderang semangat untuk selalu unggul dalam bidang apa pun. Kerap kali itu dimengerti sebagai kesombongan atau kebanggaan yang berlebihan, tapi begitulah memang kesan yang sering terlihat jika berbicara dan mengenal orang Jerman.

Jerman dan Jepang memang memiliki kesepahaman soal arti kata rajin, disiplin, teroganisir, dan efisien. Tanpa nilai-nilai itu semua, Volkswagen, Mercedez Benz, Honda, dan Toyota tak akan menguasai pasar otomotif dunia. Tanpa itu juga, Jerman dan Jepang tak akan menguasai Eropa dan Asia dalam soal urusan sepakbola.

Kanselir sepakbola di Eropa bukan Italia, Spanyol, Prancis atau Inggris, melainkan Jerman. Jerman sudah 3 kali menggondol Piala Dunia dan 3 kali pula membawa pulang gelara juara Piala Eropa. Kombinasi dua catatan di Piala Dunia dan Piala Eropa itu belum mampu mampu dipecahkan negara Eropa lainnya.

Di Asia, kini Jepang juga menjadi raja. Raja berusia muda yang angkuh duduk di tampuk tertinggi. Pasca revolusi sepakbola yang dilakukan di akhir 1980-an, belum sampai 30 tahun, Jepang kini menikmati statusnya sebagai kaisar sepakbola di Asia. Sejak tahun 1992, raihan 4 kali juara Piala Asia, plus selalu lolos ke Piala Dunia 5 kali berturut-turut sejak 1998, membuat Jepang lebih baik ketimbang tetangganya Korea Selatan, Iran atau Arab Saudi.

Faktor Sejarah Hubungan Jerman-Jepang

Beberapa persinggungan dalam sejarah kedua negara, juga etos kerja yang sama-sama tinggi di antara dua kebudayaan itu, membuat fenomena pemain Jepang di Bundesliga akhirnya terlihat wajar dan bisa dipahami.

Jepang dan Jerman adalah dua raksasa yang pernah jadi simbol kekuatan poros barat dan timur. Keduanya memang sudah saling mengenal cukup lama, sejak pertengahan abad 18, saat Jepang masih dipimpin Shogun Takagawa dan negeri Jerman masih berada di bawah panji-panji Prussia.

Hubungan itu kian mesra saat Adolf Hitler menjadi Der Fuhrer yang memimpin Jerman Raya. Heinrich Himmler, tangan kanan Hitler, bahkan pernah menyebut bangsa Jepang sebagai etnis berbeda yang merupakan keturunan para dewa, sejalan dengan ras Arya yang dibanggakan sebagai ras terunggul di Eropa.

Hitler pun sepaham dengan Himmler. Dalam "kitab suci" Partai Nazi, Mein Kampf [Perjuanganku], Hiter begitu sering mengungkapkan rasa hormat dan kekagumannya terhadap orang Jepang ketimbang bangsa-bangsa Eropa tetanggnya. Di era Hitler itu, orang Jepang yang tinggal di Jerman  bahkan dianugerahi gelar kehormatan ras Arya. Pendeknya: Arya honoris causa.

Status kehormatan ini umumnya diberikan kepada darah non-Arya namun sangat berjasa bagi partai dan Jerman. Tetapi Jepang mendapatkan pengecualian. Kehormatan itu bukan hanya diberikan pada orang Jepang yang berjasa, tapi pada semua orang Jepang tanpa kecuali.

Memang benar bahwa Jerman dan Jepang di masa itu menjalin kerjasama politik, militer dan ideologi. Bersama Italia, dua negara ini menjadi poros terpenting dalam Perang Dunia II yang sanggup menjadi lawan sepadan negara-negara adidaya seperti Amerika, Uni Soviet, Inggris, dan Prancis. Tapi penghormatan Jerman kepada Jepang itu juga dipicu oleh kekaguman dan rasa hormat Hitler pada bangsa Jepang yang dianggapnya memeram ciri-ciri ras yang unggul.

Yasuhiko Okudera sebagai Tapal
Jerman memang banyak membantu perkembangan sepakbola Jepang. Sebelum Olimpiade Tokyo pada tahun 1964, timnas Jepang melakukan kunjungan ke Duisburg. Hampir sama dengan yang dilakukan PSSI ketika mengirim timnas ke Bremen.

Perbedaanya, bangsa yang dikenal visioner itu jalan-jalan ke Jerman tak sebatas bertanding bola seperti PSSI.  Jepang belajar dasar-dasar dari sistem olahraga sepakbola, khususnya untuk mempelajari bentuk dasar kompetisi dan pembinaan usia muda. Dalam perjalanan itu, Jepang menemukan inspirasi yang mereka perlukan untuk liga mereka sendiri yang saat itu masih amatiran. Inilah "restorasi meiji" di bidang sepakbola.

13 Tahun kemudian, sejarah pemain Asia di Bundesliga dimulai pada tahun 1977 saat pemain tengah Yasuhiko Okudera bergabung dengan FC Koeln. Oku yang bermain di klub amatir Furukawa Electric dikenalkan oleh manajer timnas Jepang, Hiroshi Nimomuya, kepada pelatih Koeln, Hennes Weisweiler.

Keputusan untuk berangkat ke Jerman tidak mudah diambil Oku. Dia sebenarnya takut kepergiannya ke Jerman akan berimbas kehilangan posisinya di perusahaan Furukawa Electric Ltd. Setelah dirayu oleh otoritas sepakbola Jepang dan jaminan bahwa ia dapat pekerjaan yang sama di perusahaan sekembalinya nanti, Oku pun akhirnya berangkat.

Selama empat tahun memperkuat Koeln [1977-1981], Oku menjadi legenda bagi klub. Ia adalah pemain tengah yang disegani kawan atau lawan. Golnya ke gawang Nottingham Forest di semifinal Liga Champions tahun 1979 jadi gol pertama yang dicetak orang Asia di ajang tertinggi sepakbola antar klub Eropa itu. Semua catatan yang diukirnya itu sedikit banyak ikut mempengaruhi stereotipe masyarakat Eropa terhadap pesepakbola Asia.

Sejak itu, Oku terus berkiprah di Jerman. Selain Koeln, dia juga sempat beredar di Herta Berlin dan Werder Bremen. Di Bremen, selama lima musim, ia menjadi bagian inti dari generasi emas Die Werderaner.

Pada tahun 1986, Oku pulang dari perantauan panjangnya dan kembali ke Jepang untuk bergabung dengan mantan klubnya, Furukawa Electric. Kehadirannya sebagai pemain pertama yang pernah mencicipi kompetisi professional menjadi kuda pacu bagi otoritas sepakbola Jepang untuk segera memulai profesionalisasi kompetisi di Jepang.

Etos Kerja Pemain Jepang di Bundesliga
Beberapa dekade setelah kedatangan Oku, "invasi" pemain Jepang ke Jerman pun jadi fenomena penting dalam perkembangan sepakbola Eropa. Media Jerman menyebutnya sebagai fenomena: "Die Nippon Connection".

Kesuksesan Shinji Kagawa bersama Dormund menjadi pemicu berdatangannya para pemandu bakat ke J-Leaque. "Biaya transfer dan gaji pemain muda yang sering relatif murah membuat Jepang lebih menarik bagi klub Jerman," ucap Takehiko Nakamura, General Manager agensi pemain Lead Off Sports Marketing kepada Associated Press.

Saat mendatangkan Kagawa, Dortmund hanya merogoh kocek 350 ribu Euro. Saat dilego ke Manchester United, Kagawa membuat Dortmund mendapat keuntungan 15 Juta Euro. Keberuntungan Dormund itu yang kini dicoba klub-klub lain di Jerman.

Pierre Littbarski, mantan pemain timnas Jerman dan pernah jadi pelatih Wolsburg, lagi-lagi mengungkapkan persepsi tentang bangsa Jepang yang telah lama berkembang di Jerman. Dia memuji memuji pemain Jepang yang tak banyak omong besar saat diwawancara wartawan. Littbarski menyebut, pemain Jepang lebih suka bekerja keras untuk membuktikan semuanya di atas lapangan.

"Orang Jepang adalah pekerja keras dan berorientasi pada target yang jelas," kata Guido Buchwald. Mantan pemain belakang Jerman itu melanjutkan bahwa para pemain muda Jepang yang tiba di Jerman hanya memiliki satu tujuan: untuk menjadi sukses. Buchwald, yang kini menjadi Direktur Sepakbola di Stuttgarter Kickers, juga menekankan bagaimana para pemain muda Jepang tidak seperti pemain muda yang tiba dari Amerika Selatan yang kerap membuat masalah.

Dalam soal taktik, mereka juga amat mudah dan terbuka untuk dikelola dan sering dapat bermain di berbagai posisi hingga memudahkan pelatih dalam merotasi pemain atau mengubah taktik permainan. "Orang Jepang memiliki kecepatan, teknik, disiplin, serta bermain layaknya pekerja keras dan taat terhadap tim, kelebihan itu membuat mereka selalu fokus bekerja untuk tim," puji Felix Magath yang pernah melatih Atsuto Uchida di Schalke dan Makoto Hasebe di Wolfsburg.

Di musim 2012/2013 tercatat 11 pemain berkenegaraan Jepang bermain di Bundesliga. Itu angka terbesar pemain dari negara Asia yang bermain di sebuah liga Eropa. Dari 28 orang anggota skuat timnas  yang berlaga di Piala Konfederasi kemarin, sembilan di antaranya berkiprah di Bundesliga.

Fans Schalke yakin bahwa full-back kanan, Atsuto Uchida, lebih baik ketimbang Phillip Lahm. Tergesernya Lahm dari skuad dream team Bundesliga musim lalu oleh Uchida seakan menegaskan keyakinan itu. Musim lalu memang jadi puncak karir Uchida. Dia bermain 24 kali untuk Schalke dan jadi instrumen penting yang membuat klub itu mengakhiri kompetisi di peringkat empat.

Belum lagi jika menilik catatan Hiroshi Kiyotake. Pemain yang mungkin akan jadi suksesor Kagawa sebagai bintang Jepang di pentas Bundesliga ini bukan hanya menyumbangkan 4 gol bagi FC Nurenberg, tapi dengan gemilang mencatatkan 11 assist. Inilah yang membuat Paul Lambert, manajer Aston Villa, tak henti-hentinya menggoda Nurenberg untuk melepas Hiro dengan tawaran transfer 10 Juta Euro.

Mengirim Pemandu Bakat, Bukan Direktur Pemasaran

Banjirnya pemain Jepang ke Bundesliga tentu meningkatkan profil Bundesliga di Jepang. Dengan mata sayup-sayup orang Jepang kini rela bangun tengah malam untuk menonton Bundesliga guna melihat saudara-saudara Jepang mereka berlaga. Pemberitaan Bundesliga selalu jadi sajian utama, terlebih berita soal pemain Jepang.

Ini pasar yang tentu saja tak luput dari pengamatan orang Jerman. Jangan heran jika pengelola Bundesliga membuat kanal khusus di situs resmi mereka yang tampil dalam bahasa dan huruf Jepang.

Stefan Bienkowsk, seorang kolumnis pengamat Bundesliga, meyakini bahwa Bundesliga masih akan mengandalkan pemain Jepang di masa-masa mendatang. Bundesliga seperti jadi antinomi bagi sepakbola Eropa. Di hadapan pasar sepakbola Asia, mereka datang bukan hanya menjual tetapi juga membeli. Asia yang dulunya dilihat sebagai peluang pemasaran kini berubah dilihat sebagai sumber bakat sepakbola.

Sayangnya hal itu belum berlaku untuk Asia Tenggara, apalagi Indonesia. Klub-klub luar datang ke mari dengan mengirimkan direktur pemasaran ketimbang para pencari bakat.

Bertemu Tuhan di Kokpit Pesawat

Kisah Penjaga Angkasa Indonesia

 Saat Pilot Tempur Bertemu Tuhan di Kokpit Pesawat

Jakarta - Delapan pesawat tempur Sukhoi dan enam F-16 bersiap di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta pada Sabtu pagi (17/8) lalu. Mereka tengah menunggu giliran beratraksi di langit Jakarta pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 68.

Tiga puluh menit menjelang pesawat tinggal landas, Mayor (Penerbang) Anton Pallaguna mengambil air wudhu. Bagi pria yang diterima di Akademi Angkatan Udara tahun 1997 itu, menerbangkan pesawat tempur adalah ibadah, sehingga harus dalam keadaan suci.

Sebelum terbang untuk berbagai misi khusus atau sekedar latihan rutin, ia selalu menyempatkan terlebih dulu mengambil air wudhu. Penerbang yang saat mengudara dipanggil dengan sebutan 'Sioux' itu mengaku dalam keadaan suci dia bisa tenang saat mengemudikan pesawat.

“Itu saja simple karena terbang adalah ibadah. Saya usahakan dalam keadaaan suci sebelum terbang,” kata Anton kepada detikcom, di Lapangan Udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta (17/8) lalu.

Menurut Anton, pilot ibarat roh dalam pesawat yang sudah lengkap dengan peralatan teknologi software canggih. Pilot itu melengkapi jiwa raga pesawat untuk terbang.

Kendali otomatis dan tanggjung jawab ketika terbang di udara berada di tangan pilot. Pengalaman spiritual sering dia rasakan saat di Kokpit pesawat.

Peristiwa di luar logika ketika pilot yang hanya manusia tidak sanggup menghandle satu persoalan saat terbang, seperti pesawat terbakar atau ketika tergelincir saat hendak mendarat.

“Kemampuan secara utuh tidak bisa kita handle. Saya percaya ada pertolongan. Di balik kokpit itu Tuhan ada. Ini bukan pengalaman saya saja tapi para senior juga,” kata Anton.

Kini Anton sudah memiliki catatan 2500 jam terbang dari tujuh jenis pesawat tempur. Dua tahun sudah dia bergabung di armada pesawat tempur Sukhoi yang bermarkas di Skadron XI, Lanud Sultan Hasanudin, Makasar.

Menjadi seorang pilot sebenarnya jauh dari cita-cita Anton sejak kecil. Pria kelahiran Garut, 17 Mei 1979 ini mengaku tak pernah terpikir atau membayangkan untuk menjadi pilot.

Cita-citanya sederhana karena hanya berlatar belakang anak kampung. Jalan hidup berubah ketika Anton diterima di Akabri pada 1997. Selama proses seleksi dan berbagai tes, akhirnya ia diarahkan untuk masuk angkatan udara.

Peluang menjadi pilot adalah sebuah tantangan yang lebuh besar. Hal ini pula yang membuat Anton mengorbankan peluang kuliah di fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama.

“Saya benar tidak pernah terbayang sebelumnya. Ini dunia di luar jangkauan saya. Waktu kecil saya malah tahunya sopir delman karena jarang ada angkot di kampung saya,” kata Anton.

Tahun 2003 Anton bergabung dengan armada F-16 di Skuadron III Lapangan Udara Iswahjudi, Madiun. Selama lima tahun ayah empat anak ini menerbangkan F-16. Berbagai jenis misi khusus dan operasi penghadangan sering dilakukan Anton ketika mengawaki F-16.

Kemudian Anton mendapat tugas untuk menimba ilmu struktur pilot di Australia selama setahun. Kembali ke Tanah Air, Anton dan rekan-rekan sesama pilot pesawat tempur membentuk lagi Jupiter Aerobatic Team.

Tahun 2011 saat bergabung dengan Sukhoi, Anton dikirim belajar ke Rusia untuk berlatih. Menjadi pilot Shukoi adalah tantangan terbesar dalam karir pilotnya. “Alhamdulillah kesempatan itu ada sampai sekarang,” ujar pria berzodiak Taurus itu.

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa

Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, "Abang becak ...?"

Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. "Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan ...," gumamku.

Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan ... untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.

"mmm ..., Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu.

"Ya dik, saya muslim ..." jawabnya terengah sambil terus mengayuh

"Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa ..." deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.

"Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini."

Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,

"Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa," jelas bapak tukang becak itu.

"Maksud bapak?" mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.

"Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya ..."

"Jadi ...," belum sempat kuteruskan kalimatku,

"Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan ..."

"Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi..." kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.

Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar ...

Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?

"Wah, nggak ada kembaliannya dik..."

"hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya ..."

Selamat berpuasa utk saudara2 ku yg muslim.

Koh AHOK yang MENOHOK

Siapa Sebenarnya Basuki Tjahaja Purnama / Ahok

Basuki Tjahaja Purnama semakin banyak diberitakan baik di media maupun dari mulut ke mulut. Hal ini terjadi semenjak beliau menjadi wakil dari calon gubernur Joko Widodo/ Jokowi. Untuk itu inilah sekilas mengenai siapa sebenarnya Basuki Tjahaja Purnama yang biasa di panggil Ahok itu?

Akhir2 ini 3 hal yg menjadi black campaign adalah dia tionghoa, kristen, dan liberal. Untuk menjelaskan hal ini, sangat penting untuk menjelaskan trackrecord @basuki_btp. @basuki_btp dilahirkan 46 thn lalu, anak tertua dari keluarga Kim Nam, keluarga Tionghoa yg termasyhur namanya di pulau Belitung karena dermawan. Kim Nam adalah tokoh masyarakat Belitung . Pembela masyarakat miskin, bahkan mau berhutang pada org lain, untuk memberi uang pada orang susah. Kim Nam adalah nama Panggilan ayah Basuki, selayaknya Basuki dipanggil Ahok. Nama lengkapnya adalah Indera Tjahaja Purnama. Beliau sudah meninggal dunia.

Basuki dibesarkan dengan keras, dididik agar bisa kemudian berguna bagi masyarakat Belitung , tidak boleh sombong, inilah yang diajarkan Kim Nam. Basuki diwajibkan untuk selalu bersalaman dengan yg tua. Meski mereka kondisinya lebih berada di banding yang lain, Basuki harus bisa bergaul dengan teman-temannya. @basuki_btp tidak dididik sebagai orang Tionghoa, tapi sebagai anak indonesia dari Kampung Manggar. Kim Nam selalu tegaskan itu padanya.

Basuki tumbuh menjadi anak yang selalu ingin tahu. Temannya semuanya anak-anak Melayu dan dia bersekolah di SD negeri di desa laskar pelangi. Meski membaur, bukan berarti @basuki_btp bisa lepas dari tindakan diskriminasi karena dia adalah minoritas. Hal seperti ini tetap sering terjadi. Ketika SD , Basuki pernah dilarang menjadi pengerek bendera di sekolah ketika upacara karena warna kulitnya. Basuki kecewa, dia mengadukan hal tersebut pada ayahnya. Ayahnya, menyuruh Basuki bersabar. Saatnya akan tiba ketika orang terima kita, kata ayahnya. Basuki dilarang untuk berkecil hati, menurut ayahnya Basuki harus tetap berusaha terus. Tak boleh dendam.

Terkait agama, basuki juga sempat tidak di perbolehkan untuk masuk kelas agama islam, meski ia sangat ingin sekali. Semua teman-temannya bisa baca Alquran, Basuki pun ingin bisa. Namun ia disuruh pulang ketika datang ke TPA untuk belajar Alquran. Tetapi Basuki tetap tumbuh dan berkembang sebagai warga Belitung . Dia fasih berbahasa Belitung . Pergaulannya tidak menganggap dia orang lain.

Basuki adalah anak yang cerdas, dia selalu menjadi juara kelas. Tahun 1977 dia bersekolah di SMP Negeri di daerah Gantung. Menyadari potensi anaknya yang cerdas dan kondisi ekonomi yang baik, Kim Nam memutuskan untuk mengirim @basuki_btp bersekolah SMA ke Jakarta . Usaha keluarga Kim Nam memang sempat down ketika Basuki kecil, bahkan Ibunya sempat bekerja menjual kue. Harapan ayahnya, Basuki bisa bersekolah menjadi dokter karena di Belitung begitu banyak orang meninggal tidak mendapat akses kesehatan. Basuki bersekolah di SMA PSKD III itulah pertama kali Ia menginjak Jakarta 31 tahun lalu. @basuki_btp bukan orang baru di Jakarta .

Namun darah muda @basuki_btp memang bergolak, dia kabur kuliah dari pendidikan dokter UKI, kemudian pindah ke teknik geologi Trisakti. Waktu berlanjut sampai akhirnya Basuki menyelesaikan pendidikan S2 dan mendirikan perusahaan di Belitung . Perusahaan Basuki waktu itu akhirnya terpaksa ia tutup karena terbentur kebijakan korup pejabat. Basuki kecewa, dia akhirnya berniat mau meninggalkan negara ini untuk berkarir di luar negeri. Namun hal ini dilarang oleh ayahnya. Basuki disuruh bertahan, petuah ayahnya waktu itu. Basuki harus bersabar, kalau tidak setuju ubahlah sendiri, jangan lari. “Orang miskin jangan lawan orang kaya, orang kaya jangan lawan pejabat.” begitu kata ayahnya. Sebagus apapun orang kaya bisa menolong orang miskin, tapi yg bisa membantu mereka secara hakiki adalah pejabat melalui kebijakannya.

Namun setelah orang tuanya meninggal, Basuki baru masuk ke dunia politik. Dia memulai karir politik dari bawah dengan partai kecil. Basuki awalnya hanya anggota DPRD Belitung Timur. Namun setahun kemudian memenangkan pilkada Belitung Timur. Sejak menjadi bupati, namanya sebagai bupati mulai dikenal di tingkat nasional. Kebijakannya brilian dan Ia adalah bupati pertama beretnis Tionghoa. Karena kebijakannya sebagai bupati, @basuki_btp di daulat menjadi tokoh yg mengubah Indonesia oleh majalah Tempo. Dia letakkan hal-hal baru sebagai pejabat.

Meski hanya 1 tahun 4 bulan saja menjabat sebagai bupati Belitung, karena  harus mengundurkan diri sebagai cagub Prov. Babel, Basuki mewariskan peninggalan-peninggalan besar. @basuki_btp sukses mengasuransikan kesehatan semua warganya. Siapapun warga Beltim, tidak perlu lagi khawatir sakit, tinggal ke rumahsakit. Dia mengecek langsung semua kebutuhan masyarakat ke lapangan dan menggodok kebijakan dengan sistem yang keras terhadap birokrasinya.

Selama menjadi bupati, Basuki tidak pernah menutup kaca jendela ketika berada di dalam mobil. Dia tak menunggu warga mengulurkan tangan, dia selalu duluan mengulurkan tangannya. Namun peristiwa diskriminasi belum juga selesai meski @basuki_btp telah terpilih menjadi bupati. Masih banyak hal-hal yang tidak mengenakkan. Awal menjadi bupati, Ia dicegah untuk tidak menjadi pembina upacara. Masyarakat tidak mau hormat sama orang China , begitu isunya.

Namun @basuki_btp memaksa. Dia tidak mau diancam-ancam sebagai pemimpin. Ia tetap ngotot mau jadi pembina upacara. “Dulu ketika SD saya dilarang jadi pengerek bendera, sekarang sudah menjadi bupati masih juga tak boleh jadi pembina. Kamu tembak juga saya rela!” tukasnya.
Basuki Tjahaja Purnama / Ahok Bersama Istri

Ketika @basuki_btp menjadi bupati, bukan masyarakat muslim yang protes dengan kebijakannya sebagai bupati. Malah umat yang seagama dengannya. Basuki dituduh tidak memperhatikan pembangunan gereja, malah mempermudah dan menyumbang pembangunan masjid2. @basuki_btp berang,menurutnya gereja tidak perlu dibantu. “Kalian saweran aja, gereja udah jadi. Kalau masjid memang harus disokong.” Jelas Basuki. Masyarakat Muslim jumlahnya 93% dan masjid butuh banyak. Gereja cuma butuh sedikit dan umat kristen lebih baik ekonominya. Selain membangun mesjid, @basuki_btp juga menaik-hajikan ustad dan ulama-ulama yang belum bergelar haji. Lebih dari 100 orang dihajikan. @basuki_btp bahkan ikut safari ramadhan ketika bulan ramadhan tiba. Meski ia harus menunggu saja di parkiran sampai selesai.

Gubernur lah yang bolak-balik mesjid-parkiran untuk mengantarkan makanan. Tetapi @basuki_btp selalu bertahan dalam safari ramadhan.

Dalam setiap kampanyenya, @basuki_btp juga tidak pernah menggunakan sembako/bagi2 duit. Dia percaya dengan kartu nama, dan nomor hp nya. Menurut @basuki_btp yang dibutuhkan rakyat adalah nomor HP nya. Rakyat harus bisa menggapai dan mengakses pemimpinnya. Sebagian besar warga Belitung , mulai dari nelayan, pedagang, sampai PNS punya nomor HP Bupati. Semua hal bisa dilaporkan langsung.

Pernah ada nelayan yg melaporkan LSM yg menimbun solar subsidi di Manggar, @basuki_btp langsung turun ke lapangan dan mengganti LSM tersebut. Ada juga pungutan liar yg dilaporkan oleh murid SMA, @basuki_btp turun dan mengusut korupsi di sekolah itu. Basuki memegang hp nya sendiri dan Ia selalu mengusahakan membantu orang yang mengeluh. Disitu ia sadar kondisi sebenarnya dari kebijakannya. Pemimpin yang tau persis kebijakannya dirasakan rakyat atau tidak, itulah @basuki_btp. Semua bisa menggapainya.

Kampanye no HP ini tetap dipertahankan @basuki_btp di Jakarta . Yang pernah bertemu Basuki, pasti lihat dia agak “sibuk” sama hp nya. Jika masih ada yang mempertanyakan Pak @basuki_btp tidak akan adil karena berlatar belakang agama minoritas. Berarti dia belum mengenal siapa Basuki.

Nah, ada yg menarik lagi. Sebagian bilang ini kelebihan, sebagian ada yg bilang ini kekurangan. Yaitu, Pak @basuki_btp ini bicaranya ceplas-ceplos. Silahkan lihat Youtube Pak Basuki sebagai anggota DPR. Ucapannya cepat, tegas, dan emosional. Dia org yg tak sanggup menyembunyikan kegelisahannya. Namun seringkali karena kecepatannya itu, omongan Pak Basuki sering diputarbalikkan dan dipotong-potong sehingga salah arti. Masih ingat cerita tentang ayat-ayat konstitusi kemarin? Itu hasil putarbalikkan dari tetangga kita tercinta. Jika dilihat keseluruhan maksud Pak Basuki lebih dari itu. Harus diingat Pak @basuki_btp adalah seorang nasionalis sejati. Dia mengedepankan persatuan dan kepentingan nasional dan menepikan SARA.

Sebagai pejabat negara, pemimpin memang harus patuh kepada undang-undang/ ayat-ayat konstitusi. Dia harus berjalan dalam koridor hukum, harus bersih dan transparan. Karena ayat-ayat agama kedudukannya jauh lebih tinggi kedudukannya sehingga sudah seharusnya dijalankan. Kita tidak bisa memakai ayat-ayat agama dalam menjalankan hukum di negara oleh karena itu hukum konstitusi harus di tegakkan.

Inget waktu itu tim nya Foke mencoba merapat ke Ahok untuk dijadiin wakilnya. Gue blg “Aku gamau dukung bapak kalo jd wakilnya Foke”. Nono Sampono waktu itu juga merapat ke Ahok untuk dijadiin wakilnya. Karena Nono tau sekali track record Ahok kayak gimana. Namun Ahok menolak. Sebelumnya, calon Independen juga dukung Ahok maju gubernur dengan dukungan massanya. Tapi itu orang deklarasiin sendiri bareng anaknya alm. pelawak. Akhirnya ketika bertemu dengan Jokowi, Ahok merasa satu visi & track recordnya pun sama ketika di Belitung & Solo. Majulah mereka berdua. Perfect!

Oleh karena itu jangan pernah memandang sebelah mata wakilnya Jokowi ini, mereka sama-sama bagus dan egaliter. Insya Allah diamanatkan wujudkan Jakarta Baru. Untuk masalah agama, Ahok tidak pernah mempermasalahkan. Dia prioritaskan sesuatu sesuai dengan kondisi. Ahok sangat menghormati semua agama. Omongan Ahok mengenai ayat2 suci di pelintir banyak orang. Mereka nggak ngerti maksud Ahok itu apa. Yang nggak diinginkan Ahok adalah, ketika seorang pejabat disuruh bayar pajak dia berlindung pada ajaran agama tertentu. Dan ketika dipenjara berlindung pada konstitusi. Maka dari itu ayat2 suci tidak bisa digabungkan dengan konstitusi.

Percaya atau tidak, Ahok gak punya mobil. KPK pun tidak percaya. Itu kenapa? Karna Ahok lebih suka menolong orang dibanding beli untuk pribadinya. Mengenai kepemimpinan Ahok di Belitung, salah satu Kyai besar disana membandingkan Ahok dengan si “pengacara” dari babel juga. Inisial Y. Kyai itu bilang “Ahok biarpun Kristen, orang-orang Belitung pada dinaikin haji. Kalo si Y yg diberangkatin hanya keluarganya. Ahok sangat cinta rakyat!”

Ahok tidak membedakan orang, tim sukses lawan politiknya di Belitung ada yg memiliki kinerja bagus dijadikan bagian dari jajaran pemerintahannya. Teringat ketika gue ke Belitung , ada seorang pendeta yang datang menemui Ahok. Intinya ingin meminta sumbangan berupa mobil. Mobil itu konon katanya dipakai untuk antar jemput jemaat. Waktu itu pembicaraan Pak Ahok dan pendeta didepan saya. Ahok langsung menolaknya. Karena yang Kristen di desa Gantung (desa Ahok) hanya sedikit dan jaraknya sempit. Kalo tiap minggu ke gereja kata Ahok masih bisa jalan kaki. Si pendeta gak terima dan marah-marah ke Ahok sambil bilang “Kamu hanya sumbangkan ke masjid-masjid saja, agamamu tidak disumbang”. Ahok jawab ; “Aku sumbangkan gereja juga, Tapi tidak banyak karena di sini mayoritas lebih banyak yang memakai mesjid”. Pendeta pun pulang.

Besoknya saya dkk ijin sama Pak Ahok untuk wawancara masyarakat Belitung mengenai dia. Pak Ahok bilang “Kalau mau wawancara di tempat yang milih saya dikit. “Karna kalau kalian wawancara di tempat saya menang, pasti baik semua”. Akhirnya kita ke tempat yang sedikit pilih Ahok. Dalam perjalanan, gue berfikir pasti jelek-jelek nih yang bicara tentang Ahok. Dugaan gue meleset, semua mengakui Ahok padahal dulu gak nyoblos Ahok.

Beruntung, sekarang Jakarta dapat giliran berikutnya yang akan diubah oleh Ahok. DKI Jakarta jangan sampai hilang kesempatan emas ini. Saya ngetwit ini tidak dibayar, dikasih hadiah apalagi dijanjiin dikasih jabatan. Saya ingin negara ini berubah, keadilan sosial merata. Tiap hari bantu Ahok saya tidak dibayar, saya dkk simpati terhadap kinerjanya. Saya hanya bisa membantu dana untuk Ahok melalui jualan kemeja. Semua keuntungan saya serahkan untuk kampanye JB, walaupun capek tapi saya dkk puas menolong orang yang memang pantas ditolong. Pesan saya : Jika ada suatu kesempatan ikt serta dalam memperbaiki bangsa, buktikan! Mari wujudkan Jakarta Baru.

Jokowi No, Ahok Yes!

Aku bilang Jokowi no karena aku sudah kelewat jenuh dengan pujian dan sanjungan sambung menyambung yang disajikan media sehingga membutakan mata dan menulikan telinga, mematikan panca indra dan memunculkan sosok nabi baru. Bayangkan, mengeritik Jokowi saja akan menuai badai caci maki dari fanatismenya. Perhatikan saja, artikel-artikel yang berbau memojokan Jokowi akan banyak dilalap habis oleh para fanatisme dan dari para penikmat perang urat syaraf, serta sebagian dari yang kontra Jokowi karena memang dari awalnya tidak suka.

Sebagai penikmat berita saya sudah merasakan titik jenuh, karena yang muncul bukan lagi sebuah berita (menurut saya) namun sebuah parade atau festivalisasi seorang Jokowi wong ndeso, pro rakyat kecil, blusukan, dan senyum ramahnya.

Hemat saya, pemimpin yang handal bukan saja jujur, suka blusukan dan lain-lain, tapi adalah sebagai seorang PENGAMBIL RESIKO, meskipun itu layaknya sebuah gambling yang suatu saat bisa saja menenggelamkan namanya sendiri atau bahkan nyawanya. Peran itu telah diambil Ahok dalam episode Tanah Abang.

Terus terang, saya dan mungkin yang lainnya, tidak menyangka Ahok bertindak sekeras dan senekat itu. Selama ini saya belum pernah lihat seorang sekelas kepala daerah ngomong keras bahkan dengan bahasa preman. Diancam malah balik mengancam, diajak akrab menghindar, nunjuk balas nunjuk, dipelototi balas melotot, gila….! Sadarkah Ahok dengan resiko politik dan keselamatannya? Saya yakin Ahok bukan orang bodoh, dia berani karena dia yakin akan sebuah kebenaran dan dia yakin ada jutaan rakyat Jakarta dan Indonesia yang siap membelanya dari penebar ancaman.

Bravo Ahok, maju terus pantang menyerah untuk sebuah kebaikan dan kebenaran.

Cerita Ahok Pernah 'Ditodong' Rp 5 M agar Lolos Jadi Gubernur Babel


Jakarta - Ini cerita lain tentang politik uang yang diungkapkan Wakil Gubernur DKI Basuki T Purnama alias Ahok. Saat mengikuti Pilkada Bangka Belitung pada 2007 lalu, Ahok sempat ditodong membayar Rp 5 miliar agar bisa menang.

"Waktu itu ada oknum yang mengaku dari MA bisa meloloskan itu (gugatan hasil pilkada ke MA) gitu lho. Iya, menawarkan seperti itu (Rp 5 miliar). Terus turun, Rp 4 miliar, Rp 3 miliar. Saya katakan tidak," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Pria 47 tahun ini lantas mendapatkan nasihat dari koleganya, almarhum Dr Sjahrir saat itu. "Kalau kamu lakukan itu Ahok, kamu bukan Ahok lagi. Karena kita ini politik akal sehat. Untuk apa kamu lakukan untuk sekadar jadi gubernur? Kamu bukan jadi gubernur yang asli," tutur Ahok menirukan nasihat Sjahrir.

"Coba kalau saya lakukan, saya hari ini cuma jadi gubernur Babel (Bangka Belitung). Nggak jadi Wagub DKI, kalau di DKI uang operasional lebih gede kan," sindir Ahok setengah bercanda.

Ahok berpesan, sebagai manusia harus berani idealis. "Kalau mau menangkan suatu pemilukada, sekalipun ada tawaran macam-macam pun, benar tidak benar kan kita tidak tahu. Bukti tidak ada kan? Anda harus berani mengatakan  tidak," tegas dia.

Ahok Melejit, Tomy Winata Tiarap

Sama-sama berdarah keturunan, sama-sama cerdas, sama-sama pemberani, sama-sama berdarah dingin tak takut orang. Bedanya, Tomy Winata bermain cantik di Swasta, sedangkan Ahok bermain lincah di ruang lingkup birokrasi pemerintahan.
Siapa yang tak kenal Tomy Winata, Taipan yang paling disegani di negeri ini. Bahkan seorang Gus Dur pun ketika masih menjabat sebagai Presiden RI pernah memerintahkan untuk menangkap Tomy Winata, akan tetapi keinginannya itu tak pernah tercapai sampai hari ini. Betapa saktinya TW ini.
Pembaca masih ingat kasus “Ada Tomy di Tenabang”? Perseteruan antara TW dengan majalah Tempo lantaran tulisan wartawan Tempo yang mengupas tuntas secara gamblang dan terperinci aksi-aksi keterlibatan TW terkait kepentingan gurita bisnisnya di Tanah Abang, sehingga membuat TW berang dan murka.
Kantor Tempo pun diserbu ribuan preman Flores dari seantero Jabotabek yang dibayar Tomy Winata pada tahun 2003 lalu (penulis juga pada saat itu ikut kelompoknya Yoseph Mbira dari Kelapa Gading). Tomy Winata memang lebih percaya Preman orang Flores daripada Preman orang Ambon di Jakarta ini, karena nyali mereka paling tinggi dan tak banyak bicara ketika ekseskusi.
Salah satu eksekutor sekaligus tangan kanannya Tomy Winata memukul Bambang Harymurti, Pemred Majalah Tempo, dengan kotak Tissue di meja kantor sampai keningnya berdarah. Sang eksekutor itu lalu membentak Bambang Harymurti suruh lapor saja Polisi kalau bisa. Jangankan lu, lampu neon di ruangannya Kapolri saja gua yang beli.
TW akhirnya memenangkan kasus itu di Pengadilan dalam perseteruannya dengan Majalah Tempo itu. Sosok dan kiprahnya pun semakin disegani dan ditakuti. Hanya karena beberapa lembar halaman tulisan tentang “Ada Tomy di Tenabang” Majalah Tempo akhirnya terpaksa merogoh kantong membayar ganti rugi sebesar 500 juta Rupiah kepada TW, plus pukulan kotak Tissue di keningnya Pamred Majalah Tempo, Bambang Harymurti.
Akibatnya, sampai detik ini nyali Tempo pun ciut. Sampai hari ini Tempo sudah tak berani lagi memuat reportase pemberitaan yang miring tentang sepak terjang Tomy Winata dalam berbagai gurita bisnisnya yang melilit negeri ini di segala bidang.
Itu baru sebagian contoh kecil sadisnya sepak terjang TW, masih banyak rekam jejak TW di negeri ini, salah satu contohnya si Ariel itu. Play Boy cap kodok yang nahas itu terpaksa harus menelan akar kepahitan mendekam di hotel prodeo merasakan dinginnya jeruji besi, akibat terlalu berani meniduri wanita misteriusnya TW.
Pengusaha sekaliber James Riadi, Taipan Lippo Group, saja pernah dibentak TW lantaran masalah hutang piutang Al Azhar rekanannya TW dengan si James Riadi itu, sehingga dengan terpaksa hutang piutang berjumlah miliaran rupiah itu, mau tak mau, diputihkan James Riadi daripada urusannya jadi panjang.
TW memang dianggap sebagai Polisinya para Pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa di negeri ini. Ketika ada masalah krusial yang tak mampu mereka tangani, mereka akan mengadu ke TW untuk minta bantuan. Tapi paradigma ini tak berlaku bagi Ahok. Sekalipun mengalir darah Tionghoa ditubuhnya, nasionalismenya Ahok sangat tinggi melebihi para pecundang pribumi.
Kiprah Ahok di rimba belantara Jakarta ini memang luar biasa. Siapapun yang tak satu visi dan misi, ditindak tegas dan dihantam kata-kata berbisa yang sangat menyengat dan mematikan sehingga membuat para rivalnya meratap penuh kertak gigi.
Orang ini tak takut mati. Kecintaannya untuk merubah Jakarta menjadi lebih baik dari sebelumnya memang susah dibendung. Siapapun akan ditabrak dan dilibas, sekalipun dilaporkan ke Polda Metro Jaya, sekalipun disomasi, sekalipun diminta memeriksakan kesehatan jiwanya, Ahok tetap kepala batu mewujudkan impiannya menuju Jakarta baru.
Justru sepak terjang para rivalnya itu semakin mengibarkan nama Ahok, seorang mantan Bupati Belitung keturunan Tionghoa yang menggegerkan Ibukota negara ini dengan sepak terjangnya yang dasyat bagaikan puting beliung memporak-porandakan kesewenang-wenangan para kaum munafiqun di Jakarta ini.
Beda TW, ya beda Ahok. Ia tak segan-segan bertindak frontal, tak gentar mengeluarkan kata-kata sadis yang menghujam ulu hati sehingga membuat para rivalnya itu satu per satu tumbang terkaing-kaing rata dengan tanah dan tak mampu bangkit lagi.
Di mata Ahok, para penguasa di Tanah Abang adalah momoknya sarang Aliens, tempat berkumpulnya manusia jadi-jadian dari planet antah berantah, lalu muncul sosok pahlawan kesiangan si Haji Lulung itu bagaikan makhluk dari planet Neptunus yang merasa jumawa karena merasa dirinya itu jagoan Tanah Abang.
Sekalipun menghadapi seorang jago kandang seperti si Haji Lulung itu, Ahok sedikitpun tak pernah gentar. Ia justru menanggapi pendekar jago kandang itu dengan darah dingin karena Ahok paham betul mana ada Pendekar yang cuma jago kandang bisa menang melawan negara. Sikap Ahok Ini membuat si Haji Lulung itu meradang dan terbakar emosinya sampai ke ubun-ubun.
Ini karakter baja Ahok, bukan karena dibelakangnya ada Prabowo yang sudah siap sedia pasang badan, bukan karena dibelakangnya ada Kopassus yang siap menghabisi para penguasa Tanah Abang dengan AK-47 bilamana coba-coba bermain anarkis sehingga merusak sendi-sendi sistem pemerintahan DKI, tapi memang Ahok orangnya ya begitu itu, tak mau tahu “menginjak batang lehernya” para golongan kaum munafiqun pemegang kunci kerajaan Sorga yang semena-mena di Jakarta ini.
Nyalinya Ahok sudah teruji. Sekuat beton. Karakternya tahan banting berhadapan dengan orang-orang culas berhati srigala yang sok kritis harus begini dan harus begitu. Para golongan munafiqun di Jakarta ini memang kebiasaan busuk mereka selalu kritik membabi buta, akan tetapi ketika disentil Ahok sedikit saja, lantas menabuh genderang perang bertalu-talu.
Kiprah Ahok di Jakarta ini bikin orang-orang culas bermental keparat ketar-ketir khawatir kena libas Ahok. Sekali Ahok menyerah berhadapan dengan orang sakit jiwa macam si Haji Lulung itu, bakal akan muncul lagi manusia-manusia frustasi Pemburu Ahok lainnya yang membuat Jakarta ini jadi panas membara dengan perang mulut dan limbah opini.
Ahok ya tetap Ahok. Pejabat bernyali yang tak mempan intimidasi dan perang urat saraf murahan. Bahkan saat ini para Sopir ugal-ugalan Metromini rombeng pun mulai merana jiwa mereka karena Ahok akan tangkap dan kandangkan Metromini rombeng tak bersurat yang berkeliaran di jalanan Jakarta bikin macet dan buang polusi dimana-mana.
Jarang-jarang ada Pejabat di negeri ini seperti Ahok yang sebegitu hebohnya digunjingkan hari lepas hari, tak peduli apakah gunjingan-gunjingan itu bernada miring ataukah gunjingan-gunjingan itu bernada memuji.
Beda dengan TW yang seringkali menerapkan strategi pencitraan tiarap dibalik layar dengan mengerahkan para eksekutornya yang bermain lihai dilapangan ketika ada kasus yang menimpa dirinya. Dari dulu selalu begitu itu.
Ahok ini lebih frontal. Yang sembarangan ikut mau-maunya di Jakarta ini akan “ditikam” Ahok dengan kata-kata tajam bagaikan pisau belati yang menusuk jantung sampai tembus ke punggung, tanpa pandang bulu siapapun dalangnya yang coba-coba memainkan sandiwara hypocrisy dari balik layar.
Sekalipun kantornya diseruduk orang-orang bayarannya si jago kandang Haji Lulung itu, akan tetapi Ahok ini tak takut mati. Ahok paham betul bahwa para makhluk jadi-jadian itu adalah sekumpulan orang pengecut, banci kaleng bernyali kerdil yang cuma menang gertak saja. Ahok mengisi peluru sampai penuh dan menginstruksikan Damkar DKI menyiapkan bensin untuk membantai para preman kumal itu jika menyentuh dirinya.
Sejatinya Institusi Kepolisian harusnya malu, tak perlu menunggu Ahok turun gunung dulu menghajar si Haji Lulung itu, baru Polri menerjunkan Petugas Pemburu Preman merazia para preman compang-camping yang luntang lantung di Tanah Abang. Memang susah tipikal Institusi yang sudah lama dipasung Rezim Orba. Jadinya ya begitu itu, selalu muncul belakangan.
Haji Lulung ini adalah tipikal “Anak Harto”, bagian dari kelompok “cognoscenti”, yaitu orang-orang yang mondar mandir di pusat-pusat kekuasaan ibukota. Tipikal “anak Harto” yang begini ini cepat berganti rupa bagaikan bunglon, dan cepat menyabet kesempatan, seperti yang dijabarkan oleh Budiarto Shambazy di kolom politik koran Kompas.
Ahok tak akan mungkin jadi seorang Pejabat negara yang tangguh kalau jalannya terus lurus saja tanpa berliku. Sehebat apapun TW yang kesannya tiarap saat ini, aku lebih menaruh apresiasi yang tinggi terhadap sepak terjang sosok seorang Ahok di dunia persilatan rimba belantara ibukota Metropolitan ini.
Ada yang berani bantah?

Jadi Terpopuler, Basuki Berkisah tentang Nenek Tercebur

Basuki Tjahaja Purnama masuk tokoh yang paling banyak dibicarakan di jejaring sosial karena sikap tegasnya. Menanggapi itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut terkekeh. Dia pun mengibaratkan hal ini seperti kisah nenek tercebur.

"Ini ibarat cerita ada nenek naik kapal di tengah lautan, ada ombak, dan nenek itu kecebur. He-he-he," kata Basuki di Balaikota Jakarta.

Kemudian, tuturnya, nenek itu tak ada yang menolongnya. Basuki mengibaratkan dirinya turut berada di dalam cerita itu sebagai pemuda yang cuek dengan terceburnya si nenek itu. Tanpa disangka, ternyata ada seseorang yang sengaja mendorongnya sehingga ikut tercebur ke laut, dan mau tidak mau ia harus menyelamatkan nenek itu.

"Ketika si nenek dibawa naik ke kapal, semua orang bilang saya populer kan? Padahal ketika saya naik, saya tanya, siapa yang ceburin saya ke laut? Begitu lho," ungkap Basuki.

Analogi pemuda yang diceburkan oleh orang lain ini sama seperti yang telah terjadi pada Basuki untuk berpolitik, terutama untuk turun berpartisipasi memperbaiki pemerintahan Ibu Kota.

Menjadi seorang calon wakil gubernur dan pada akhirnya berhasil menjadi wakil gubernur, menurut Basuki; orang yang mendorongnya memimpin Jakarta adalah warga Jakarta, bukan partai politik atau oknum politik lain yang berada di belakang Basuki.

"Warga DKI-lah yang menceburkan saya sampai menjadi wagub," kata alumnus Universitas Trisakti. Dia mengucapkan terima kasih karena sudah didorong "tercebur".

Basuki: Dalam Bernegara, Konstitusi Lebih Penting daripada Kitab Suci

JAKARTA — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, kitab suci merupakan sesuatu yang sangat penting. Namun dalam kehidupan bernegara, kata Basuki, Konstitusi harus tetap dikedepankan ketimbang kitab suci.

Menurutnya, Indonesia terdiri dari berbagai macam golongan. Jika kehidupan bernegara harus mengedepankan kitab suci dibanding konstitusi, maka sulit untuk menyatukan satu sama lain.

"Tidak akan ketemu-ketemu satu sama lain," ucapnya saat menjadi pembicara dalam acara Kanisius Education Fair di SMA Kolese Kanisius, Cikini, Jakarta Pusat.

Menurut Basuki, setiap golongan akan mempunyai tafsirnya masing-masing terkait kitab sucinya. Karena itu, menaati konstitusi merupakan cara yang paling tepat dalam kehidupan bernegara.

"Antara Kristen dan Katolik saja beda. Di Kristen sendiri, Advent sama Evangelis juga beda. Di Islam juga ada antara Sunni dan Syiah," jelasnya. 

Konspirasi: John F. Kennedy, Sukarno, Suharto dan Freeport

Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah "JFK, Indonesia, CIA and Freeport" .

Walau dominasi Freeport atas "gunung emas" di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.

Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun pada tahun 1959.

Lisa-PeaseSaat itu di Kuba, Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan.

Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, akhirnya terkena imbasnya. Maka terjadi ketegangan di Kuba.

Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.

Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jacques Dozy di tahun 1936.

Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda.

Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah.

Forbes Wilson,Direktur Freeport Sulphur 1959

Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah.

Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain.

Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.

Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!!

Forbes Wilson (kanan) bersama anggota geologist Freeport di Erstberg, 1967.

Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, hanya dalam waktu tiga tahun pasti sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat.

Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.

Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.

Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno.

Quote:
Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.

Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai emas yang ada di gunung tersebut.

Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar.

Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!

Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963.

Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.

Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya.

Presiden Sukarno pada lawatan kenegaraannya ke Amerika Serikat sedang memeriksa barisan tentara kehormatan Amerika setelah turun dari pesawat didampingi presiden AS, John F Kennedy

Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.

Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).

Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.

Lapangkanlah dada untuk menerima semuanya

Segenggam Garam Kehidupan

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal sholeh dan bijak. Di suatu pagi yang dingin, datanglah seorang lelaki muda yang sedang di sedang landa masalah. Dengan langkah gontai dan rambut kusut, ia tampak seperti orang yang tak pernah mengenal bahagia. Tanpa menunda waktu, ia mengungkapkan segala keresahannya. Impiannya yang gagal, karir, cinta, dan hidupnya yang tidak pernah berakhir bahagia. Bapak tua yang bijak itu hanya mendengarannya dengan teliti dan seksama. Tanpa berkata apa-apa, ia hanya mengambil segenggam garam dan memasukkannya ke segelas air, lalu mengaduknya dan berkata, “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya??”.

Dan pemuda itu pun meminum segelas air yang telah diberikan oleh pak tua. “Ahh.., asin sekali! Pahit pak!!”, jawab pemuda tersebut. Pak tua itu hanya tersenyum, lalu mengajak anak muda tersebut berjalan ke tepi telaga yang ada dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya sampailah mereka di tepi telaga yang tenang. Masih dengan mata yang tenang dan penuh dengan cinta, orang tua yang bijak itu menaburkan segenggam garam ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga yang membuat gelombang dan riak kecil.

Setelah air telaga tenang, ia pun berkata, “Anak muda, coba kamu cicipi air telaga tersebut, dan minumlah”. Setelah anak muda tersebut meneguk air telaga, pak tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya??”. “Mm.., ini baru segar sekali rasa airnya Pak tua”, jawab anak muda tersebut.
“Dan apakah kamu masih merasakan garam di dalam air tersebut?”, tanya pak tua. “Tidak, sepertinya tidak, sedikitpun aku tidak merasakan asin!”.

Mendengar hal itu, dengan bijak Pak tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga dan berkata, “Anak muda, pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam. Tidak lebih dan tidak kurang! Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki”

Keduanya lalu beranjak pulang, mereka sama-sama belajar dari hati. Dan Pak tua si orang bijak tersebut, kembali menyimpan segenggam garam, untuk anak muda yang lain yang sering datang padanya yang membawa keresahan jiwa.

Kepahitan itu selalu berasal dari bagaimana kita meletakkan segalanya. Dan itu tergantung pada hati kita. Jadi saat kita merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya satu hal yang boleh kita lakukan. Lapangkanlah dada untuk menerima semuanya, luaskan hati untuk menampung sebuah kepahitan tersebut, luaskan wadah pergaulan supaya kita mempunyai pandangan hidup yang luas. Maka, kita akan banyak belajar dari keleluasaan tersebut. Hati adalah wadah itu, perasaan adalah tempat itu, kamu adalah tempat menampung segalanya. Jadi jangan jadikan hati seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam semua kepahitan itu, dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.

Rahasia Jadi Miliader Lewat Melukis

Wow, Bocah 10 Tahun Jadi Miliader Lewat Lukisan

Memiliki bakat yang telah diketahui sejak masih kecil memang akan mempermudah orangtua untuk mengarahkannya. Bahkan bocah berusia 10 tahun yang bernama Kieron ini sukses menjadi miliader melalui lukisan-lukisannya.

Kieron Williamsom anak laki-laki ini suka dengan segala bentuk gambar dan seni lukis. Ia pun selalu mengasah keterampilannya sehingga ia juluki Monet kecil. Monet merupakan pelukis tahun 1900-an yang terkenal dengan lukisannya yang mendetail.

“Kieron suka sekali dengan warna-warna pastel dan tidak bisa berhenti menggambar, mewarnai" ucap Michelle, ibunda Kieron. Michelle pun membiarkan putranya itu berimajinasi, menggeluti dunia seni.

Dilansir dari Dailymail, Kieron yang berasal Norfolk, Inggris tersebut kemudian diberikan kuas, cat minyak, dan kanvas. Pada mulanya Kieron lebih banyak merusak kanvas, namun Keith, ayah Kieron tidak berhenti memberi dukungan kepada Kieron.

Hasilnya, saat ini ia telah memiliki kemampuan melukis setaraf dengan pelukis tingkat dunia. Bahkan lukisannya dianggap sebagai lukisan dengan nilai seni tinggi. Tak heran kalau lukisan sangat laku dan memiliki harga yang tinggi.

Bahkan, dari penjualan lukisannya, ia telah menghasilkan pendapatan Rp 15 miliar. Angka yang cukup tinggi dan sesuai dengan lukisan-lukisan indah yang ia hasilkan. Kieron suka melukis pemandangan dan objek hidup seperti tumbuhan.

Kini Kieron menjadi salah satu anak dengan penghasilan terbanyak di dunia. Empat tahun setelah memberanikan diri menjual hasil karyanya, Kieron mendapat pengakuan dari dunia bahwa dirinya bisa menjadi pelukis papan atas dan layak diperhitungkan.

Mengantri adalah Pelajaran Sederhana yang Banyak Sekali Mengandung Pelajaran Hidup Bagi Anak

Di negara kita Budaya Antri sptnya jadi barang mewah. Bagi yg suka main serobot. Coba baca renungan di bawah ini. Setelah baca coba bercermin dan introspeksi diri. Malukah kita? Kalau tidak punya malu dan cuek bebek ttg antri, kayaknya kita lebih pantas tinggal di hutan rimba. Coba baca deh!!!

Seorang guru di Australia pernah berkata
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Mengapa dan kok bisa begitu? Karena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya.

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain
dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Mari kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...!

Semoga Bermanfaat...

Kenanglah Saat Kamu Masih Balita

Kisah Nyata, Anak Durhaka Dari Negeri Singapura

Sebuah Kisah Nyata dari Negeri tetangga Singapura beberapa dekade lalu yang cukup menghebohkan hingga Perdana Menteri saat itu, Lee Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan dekrit tentang orang lansia di Singapura.

Dikisahkan ada orang kaya raya di sana mantan Pengusaha sukses yang mengundurkan diri dari dinia bisnis ketika istrinya meninggal dunia. Jadi ia single parent yang berusaha membesarkan dan mendidik dengan baik anak laki-laki satu-satunya hingga mampu mandiri dan menjadi seorang Sarjana.

Kemudian setelah anak tunggalnya tersebut menikah, ia minta ijin kepada ayahnya untuk tinggal bersama di apartemen Ayahnya yang mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang hati mengijinkan anak menantunya tinggal bersama-sama dengannya. Terbayang dibenak orangtua tersebut bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak akan sepi, terlebih jika ia mempunya cucu. Betapa bahagianya hati bapak tersebut bisa berkumpul dan membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya.

Pada mulanya terjadi komunikasi yang sangat baik antara Ayah-Anak-Menantu yang membuat Ayahnya yang sangat mencintai anak tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu mewariskankan seluruh harta kekayaan termasuk apartment yang mereka tinggali, dibaliknamakan ke anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana.

Tahun-tahun berlalu, seperti biasa, masalah klasik dalam rumah tangga, jika anak menantu tinggal seatap dengan orang tua, entah sebab mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat yang pada akhirnya, anaknya tega mengusir sang Ayah keluar dari apartment mereka yang ia warisi dari ayahnya.

Karena seluruh hartanya, Apartemen, Saham, Deposito, Emas dan uang tunai sudah diberikan kepada anaknya, maka mulai hari itu dia menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya mantan pebisnis yang cukup terkenal di Singapura tersebut, tiba-tiba menjadi pengemis!

Suatu hari, tanpa disengaja melintas mantan teman bisnisnya dulu dan memberikan sedekah, dia langsung mengenali si ayah ini dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya dulu. Tentu saja, si ayah malu danmenjawab tidak, mungkin Kamu salah orang, katanya. Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak ada kabar beritanya. Kemudian, temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi orang tersebut. Semua mantan sahabat karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu adalah Mantan pebisnis kaya yang dulu mereka kenal.

Dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Maka, terjadilah kegemparan ada, karena semua orangtua di sana merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.

Kegemparan berita tersebut akhirnya terdengar sampai ke telinga PM Lee Kwan Yew Senior.

PM Lee sangat marah dan langsung memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan PM Lee mengatakan "Sungguh sangat memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti kalian".

Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan saat itu juga surat warisan itu dibatalkan demi hukum! Dan surat warisan yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah diwariskan tersebut kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan sejal saat itu anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment ayahnya.



Mr Lee Kwan Yew ini ternyata terkenal sebagai orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para lanjut usia (lansia). Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee mengeluarkan Kebijakan / Dekrit yaitu "Larangan kepada para orangtua untuk tidak mengwariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal. Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan memiliki penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 tahun bekerja.

Anda tidak perlu heran jika Anda pergi ke Toilet di Changi Airport, Mall, Restaurant, Petugas cleaning service adalah para lansia. Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak. Satu lagi seperti di negara maju lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak-anak dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak-anak tsb dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya.

Sebaliknya, Anak di sana dididik menjadi bijak dan terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun kondisi orangtuanya.

Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk atau berdiri, atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.

Mereka, warganegara Singapura seolah diingatkan oleh PM Lee agar selalu mengenang saat mereka masih balita, orangtua merekalah yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk kotoran, juga yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan tangan mereka sendiri, dan menggendongnya kala mereka menangis meski dini hari dan merawatnya ketika mereka sakit.

Bagaimana dengan Indonesia?