Ini 5 Keluarga Terkaya dari Indonesia
Dari 'pedagang' rokok hingga 'penjual' mie instan.
Terlahir
di keluarga kaya bisa dikatakan bonus tetapi juga ujian. Mungkin saja
mereka tidak pernah merasakan kelaparan atau bingung melanjutkan
pendidikan, tetapi mereka harus memutar otak mereka menjaga
keberlangsungan bisnis keluarga.
Bukan perkara mudah karena semua pihak menyorot sepak terjang mereka menjaga pundi-pundi keuangan keluarganya.
Rupanya
tidak hanya di luar negeri, keluarga konglomerat pun tersebar di tanah
air. Uniknya, mereka bukanlah pengusaha di sektor besar, tapi bisa
membesarkan sektor kecil.
Mereka dari 'pedagang' rokok hingga
'penjual' mie instan, tapi bisnisnya mampu meraup laba yang tidak
sedikit dan kekayaannya kini bisa diturunkan untuk generasi-generasi
selanjutnya
Inilah 5 keluarga konglomerat Indonesia yang masuk jajaran keluarga terkaya se-Asia versi Forbes:
1. Keluarga Hartono
Berada
pada posisi 12 keluarga terkaya se-Asia, pemilik perusahaan Djarum ini
menyimpan kekayaan US$ 12,7 miliar atau setara Rp 165 triliun. Kini,
bisnis rokok keluarga Hartono dipegang oleh R. Budi Hartono, Michael
Hartono, dan Oei Hong Leong.
Pada 1950, perusahaan Djarum milik
Oei Wie Gwan hampir mengalami kebankrutan. Anaknya, Robert Budi dan
Michael Hartono mengambil alih perusahaan yang berada di Kudus itu
setelah Oie meninggal tahun 1963.
Saat ini, anak tertua Budi,
Victor Hartono menjadi COO Djarum dan mampu menjadi perusahaan rokok
terbesar. Tidak hanya itu, kini keluarga Hartono juga menjadi pemegang
47% saham bank swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia melalui
Farindo Investment.
2. Keluarga Widjaja
Keluarga Widjaja
dengan perusahaan keluarga miliknya, Sinarmas Group berada di posisi 28
keluarga terkaya se-Asia. Total kekayaan mereka sebesar US$ 5,8 miliar
atau setara Rp 75 triliun.
Bisnis keluarga Widjadja dimulai
ketika Eka Tjipta Widjaja pindah dari China ke Indonesia sejak muda. Dia
mulai menjual biskuit pada usia 17 tahun dan kemudian mulai membangun
Sinar Mas pada tahun 1962.
Sekarang, keluarga ini menjadi
konglomerat setelah melakukan ekspansi bisnis ke sektor kertas,
pertanian dan makanan, pengembang real estate, keuangan, energi dan
infrastruktur, serta terelkomunikasi.
Sebagian besar bisnis dari keluarga Widjaja ini dipegang anak laki-laki Eka, Franky Widjaja.
3. Keluarga Lohia
Tidak
semua konglomerat Indonesia keturunan China. Keluarga asal India,
Lohia, merupakan keluarga terkaya se-Asia versi Forbes. Dengan bisnis
tekstilnya, Indorama Corporation, keluarga ini berhasil menduduki
peringkat 31 dengan total kekayaan US$ 5,4 miliar atau Rp 70,2 triliun.
Bisnis
keluarga Lohia dimulai ketika Mohan Lal Lohia, seorang pedagang kain,
dan anaknya Sri Prakash Lohia pindah ke Indonesia tahun 1973 dan
membangun Indorama Synthetics.
Demi mengembangkan usahanya, keluarga ini melakukan diversifikasi produk dan masuk ke sektor petrochemicals.
Memasuki
usia 60, Mohan memutuskan untuk mundur dari segala urusan bisnisnya.
Namun, ketiga anak lelakinya telah siap melanjutkan apa yang telah
dirintis bapaknya. Bisnisnya kini tersebar hampir ke semua benua.
4. Keluarga Wonowidjodjo
Lagi,
pengusaha rokok asal Indonesia masuk jajaran keluarga terkaya se-Asia.
Keluarga pemilik perusahaan Gudang Garam, Wonowidjojo berada di posisi
32 daftar tersebut dengan kekayaan US$ 4,9 miliar atau Rp 64 triliun.
Klan
Wonowidjojo pindah dari China tahun 1927. Surya mulai melanjutkan
bisnis tembakau pamannya, dan menciptakan rokok cengkeh atau kretek
buatan Gudang Garam pada 1958.
Anak laki-laki tertuanya, Rachman
Halim mengambil alih perusahaannya . Kemudian, setelah Rachman meninggal
pada tahun 2008, perusahaan dipegang oleh adikan Susilo Wonowidjojo dan
menjadi penghasil rokok kretek terbesar di Indonesia.
5. Keluarga Salim
Dengan
kekayaan mencapai US$ 4,1 miliar atau Rp 53 triliun, Keluarga Salim
berada di posisi 37 keluarga terkaya se-Asia versi Forbes.
Anthoni
Salim memimpin perusahaan Salim Grup yang bergerak di sektor makanan,
tanaman, otomotif, telekomunikasi, properti, retail, dan bank.
Ayahnya,
Liem Sioe Liong, migrasi ke Indonesia pada tahun 1983 dari Fujian,
China, dan memulai bisnisnya dengan menjual pakaian dari pintu ke pintu.
Liem bertemu Soeharto sebelum Soeharto menjadi Presiden RI. Mereka menjalin hubungan yang saling menguntungkan bertahun-tahun.
Ketika
Soeharto turun pada tahun 1998, menggoyahkan kerajaan Salim. Namun,
mereka bertahan dan membangun kembali perusahaan. Kini, anak Anthoni,
Axton memimpin Indofood Sukses Makmur, perusahaan mie instan terbesar di
dunia.
No comments:
Post a Comment