728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

      Dermawan Rahasia

      Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun 1910-an,
      ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan
      uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu
      mengembalikan uang itu.

      Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita
      yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar
      majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis.
      Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai
      ganti santap siang.Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat,
      masing-masing menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah
      seorang di antara anak-anak itu pincang.

      Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan ayahku tahu bahwa anak itu
      menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan menghentikan anak
      itu."Apakah kakimu membuatmu susah?" tanya orang itu kepada si anak."Ya,
      lariku memang terhambat karenanya," sahut anak itu."Dan aku harus memotong
      sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku sudah ketinggalan. Buat apa
      tanya-tanya? ""Hmm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah
      kamu mau?""Tentu saja," jawab anak itu.

      Anak itu senang tetapi agak bingung menjawab pertanyaan itu. Pengusaha
      sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil.
      Sementara itu,
      anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul teman-temannya. Setelah
      majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata, "Woody, anak yang pincang
      itu... namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana ia tinggal
      lalu catat nama dan alamat orang tuanya. " Ia menyerahkan kepada ayahku
      secarik kertas bertuliskan nama anak tadi. "Datangi orang tua anak itu
      siang ini juga dan lakukan yang terbaik untuk mendapatkan izin dari orang
      tuanya agar aku dapat mengusahakan operasinya.

      Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang menanggung
      seluruh biayanya."Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku
      mengantar majikannya ke pertemuan bisnis. Tidak sulit menemukan alamat
      rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat situ. Kebanyakan orang kenal
      dengan anak pincang itu.

      Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus di cat ulang
      dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling, ayahku
      melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di seutas tali
      di samping rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas tambang pula
      pada sebuah pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

      Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka
      pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya
      menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras."Selamat siang," ucap ayahku
      memberi salam. "Apakah Anda ibu Jimmy?"Wanita itu agak mengerutkan dahinya
      sebelum menyahut."Ya. Apakah ia bermasalah?" Matanya menyapu ke arah
      seragam ayahku yang bagus dan disetrika rapi.

      "Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin
      mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti
      teman-temannya. "
      "Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini.""Ini bukan
      main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada Anda dan suami
      Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya tahu ini
      mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga."Ia menatap
      ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia mempersilahkannya
      masuk.

      "Henry," serunya ke arah dapur, "Ke mari dan bicaralah dengan orang ini.
      Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki Jimmy."Selama hampir satu jam,
      ayahku menguraikan rencananya dan menjawab pertanyaan-pertanya an mereka.
      "Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani operasi," katanya, "Saya akan
      mengirimkan surat-suratnya untuk Anda tandatangani.

      Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya."Masih belum bebas
      dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang di antara mereka.
      Tampaknya mereka masih belum yakin."Ini kartu nama saya. Saya akan
      menyertakan sebuah surat kalau nanti saya mengirimkan dokumen-dokumen
      perizinan. Semua yang telah kita bicarakan akan saya tuliskan dalam surat
      itu. Andai kata masih ada pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat
      ini." Tampaknya sedikit banyak ini memberi mereka kepastian.

      Ayahku pergi. Tugasnya telah ia laksanakan. Belakangan, majikan ayahku
      menghubungi walikota, meminta agar seseorang dikirim ke rumah Jimmy untuk
      meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran tersebut tidak melanggar hukum.
      Tentu saja, nama sang dermawan tidak disebutkan.Tidak lama kemudian,
      dengan surat-surat perizinan yang telah ditandatangani, ayahku membawa
      Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di negara bagian lain untuk yang pertama
      dari lima operasi pada kakinya.

      Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para
      perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium
      seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah sakit
      itu.

      Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda syukur dan
      peduli mereka... sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus untuk kaki
      "baru"nya.Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali
      mengantarnya pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang
      terakhir, mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan
      diperbuat oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam
      ketika mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

      Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia
      melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki-lakinya berdiri
      berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu."Diam di sana , " seru Jimmy
      kepada mereka. Mereka memandang dengan takjub ketika Jimmy berjalan ke
      arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang lagi.

      Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang
      kakinya telah "dibetulkan" itu. Orang tuanya menggeleng-gelengka n
      kepalanya sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa
      percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang begitu
      banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga tidak
      dikenalnya.

      Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya
      ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu."Kerjakan
      satu hal lagi, " katanya, "Menjelang Natal, hubungi sebuah toko sepatu
      yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap anggota keluarga
      Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu yang mereka inginkan.
      Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka bahwa aku melakukan ini
      hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi tergantung kepadaku."

      Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa tahun
      yang lalu.Sepengetahuank u, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai
      operasi kakinya.
      Dermawannya, Mr, HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan berbuat
      sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya. "

      Ada kebahagiaan yang kita rasakan dari menolong orang lain" (Paul Newman)
      oleh: Woody McKay Jr
      • Blogger Comments
      • Facebook Comments

      0 komentar:

      Item Reviewed: Dermawan Rahasia Rating: 5 Reviewed By: Blogger