Mitos Terbang Dengan Pesawat

Pengakuan Pilot: Bongkar Mitos Terbesar tentang Perjalanan Udara

Patrick Smith adalah seorang pilot maskapai sekaligus pemilik situs web Askthepilot.com. Bukunya berjudul Cockpit Confidential: Everything You Need to Know About Air Travel menarik kembali tirai dalam industri penerbangan.

Penerbangan komersial telah lama menjadi tempat berkembang biaknya berbagai mitos, legenda dan banyaknya kesalahpahaman lama. Sebagian besar dari apa yang orang pikir tahu tentang penerbangan itu salah, dan beberapa mitos tertentu sepertinya tidak pernah mati. Berikut ini hanya beberapa dari kesalahan mitos tersebut.

Terbang itu mahal
Sebenarnya, ketika disesuaikan dengan inflasi, biaya rata-rata tiket pesawat telah menurun sekitar 50 persen dalam tiga dekade terakhir. Harganya naik sedikit dalam setahun terakhir, namun jauh lebih rendah dari harga 30 tahun lalu. Kenaikan tersebut terjadi setelah menggabungkan semua biaya tambahan, termasuk biaya di luar harga tiket, yang disukai maskapai dan sebaliknya tidak disukai penumpang.

Hal tersebut tidak diketahui oleh banyak orang AS, khususnya orang yang lebih muda, yang tampaknya tak menyadari bahwa di masa lalu hanya sebagian kecil warga AS yang mampu melakukan perjalanan udara. Pada generasi yang lebih tua, biaya perjalanan udara bisa mencapai ribuan dolar, dalam ukuran uang saat ini, untuk bisa pergi ke Eropa. Bahkan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain merupakan sesuatu yang mampu dilakukan oleh segelintir orang. Hari ini, ide perjalanan udara sebagai bentuk angkutan massal, dengan anak-anak kuliahan yang pulang dengan perjalanan udara untuk menikmati akhir pekan panjang atau ke Meksiko untuk liburan musim semi, merupakan sesuatu hal yang sangat baru.

Perjalanan udara adalah perjalanan yang cenderung berbahaya
Sejumlah kejadian yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, diselingi dengan tragedi pesawat MH370 dan MH17 Malaysia Airlines, memberi gagasan bahwa perjalanan udara menjadi kurang aman. Kenyataannya, perjalanan melalui udara jauh lebih aman daripada sebelumnya. Di seluruh dunia jumlah pesawat yang mengudara dua kali lebih banyak dibandingkan 25 tahun lalu, meski demikian tingkat kecelakaan fatal, per kilometer penerbangan, terus menurun. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) melaporkan bahwa setiap satu juta penerbangan, kemungkinan kecelakaan seperenam dari yang terjadi pada 1980. Secara global, 2013 adalah tahun yang paling aman dalam sejarah penerbangan komersial modern. Tahun ini akan menjadi tahun evaluasi, namun kami tidak dapat memperkirakan bahwa setiap tahun akan menjadi tahun yang paling aman, dan tren secara keseluruhan tidak akan terpengaruh.

Jet komersial modern sangat canggih sehingga tidak butuh pilot manusia
Ini adalah salah satu yang benar-benar membuat saya sedikit geram - sebagian karena kami mendengarnya begitu sering, dan karena itu benar-benar keliru.

Perbandingan antara terbang dan kedokteran mungkin jadi perbandingan terbaik: teknologi modern membantu seorang pilot untuk menerbangkan sebuah pesawat dibandingkan dengan cara teknologi dalam membantu dokter bedah melakukan operasi. Sebuah pesawat tak bisa “terbang sendiri” seperti alat operasi canggih yang tidak bisa menghilangkan tumor atau melakukan transplantasi organ “dengan sendirinya.”

Otomatisasi kokpit tak bisa menerbangkan pesawat. Tetapi pilot yang menerbangkan pesawat melalui otomatisasi tersebut. Kami masih perlu mengarahkan apa yang harus dilakukan, kapan, dan bagaimana melakukannya. Ada, contohnya, tak kurang dari enam cara climbing atau descending “otomatis” yang dapat saya atur pada Boeing yang saya terbangkan, tergantung keadaan. Dan Anda akan terkejut bagaimana sibuknya kondisi di ruang kokpit - ke titik saturasi bahkan saat autopilot menyala. Bahkan penerbangan yang paling rutin tergantung pada banyaknya kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya dan banyak masukan dari kru.

Sementara itu, lebih dari 99 persen pendaratan, dan 100 persen lepas landas, dilakukan dengan cara “lama” - dengan tangan.

Udara di dalam pesawat penuh dengan kuman
Studi menunjukkan bahwa udara di kabin lebih sedikit terdapat kuman dibandingkan ruang penuh sesak lainnya.

Penumpang dan awak bernapas dengan campuran udara segar dan disirkulasi ulang. Kombinasi tersebut, dibanding hanya menggunakan udara segar, memudahkan pesawat untuk mengatur suhu dan membantu menjaga sedikit kelembapan. Bagian yang disirkulasi ulang dikelola dengan filter berkualitas rumah sakit, yang menangkap sedikitnya 95 persen mikrobakteri di udara, dan total ada pergantian udara setiap dua atau tiga menit sekali - jauh lebih sering dari yang dilakukan di sejumlah bangunan.

Bagi orang-orang yang jatuh sakit karena terbang, itu mungkin bukan dari apa yang mereka hirup tetapi dari apa yang mereka sentuh. Gagang di pintu kloset, nampan, dan sandaran lengan yang terkontaminasi, dan sebagainya merupakan tempat bersarangnya banyak kuman, bukan di udara. Membawa pembersih tangan kecil lebih baik dibanding mengenakan masker yang terkadang dipakai penumpang.

Fakta tambahan: Faktor kecenderungan berlebihan penumpang
Ini adalah istilah saya untuk kebanyakan orang yang kerap membesar-besarkan sensasi penerbangan. Ketinggian, kecepatan dan sudut pandang yang Anda rasakan sering tidak sesuai dengan kenyataannya.

Saat terjadi turbulensi misalnya, banyak orang percaya bahwa pesawat jatuh ratusan meter, pada kenyataannya, bahkan dalam turbulensi yang relatif berat, perpindahannya jarang lebih dari 6,09 meter atau lebih – sebuah pergerakan kecil pada altimeter.

Hal tersebut mirip dengan sudut berbelok dan climbing. Sudut berbelok umumnya sekitar 15 derajat, dan belokan tajam dapat sebesar 25 derajat. Climbing tajam mengangkat hidung pesawat ke atas sekitar 20 derajat, dan bahkan proses descending secara cepat biasanya tidak lebih parah dari 5 - ya, 5 -  derajat ke bawah.

Saya sudah bisa mendengar komentar Anda: Anda akan memberitahu saya bahwa saya bohong dan bahwa pesawat naik pada 45 derajat serta berbelok pada 60 derajat.

Anda benar-benar salah. Saya harap saya bisa membawa Anda ke kokpit dan menunjukannya kepada Anda. Saya akan menunjukkan berapa derajat kenaikan yang sebenarnya terjadi. Itu akan membuat Anda benar-benar melihat yang sebenarnya terjadi. Pada belokan 60 derajat, gaya gravitasi akan begitu kuat sehingga Anda akan hampir tidak dapat mengangkat kaki dari lantai.

Ritual Tumbal Suku Maya

Aroma Kematian di Gua Lokasi Tumbal Manusia Suku Maya

San Ignacio - Jauh di belantara hutan Belize, Amerika Tengah, terdapat sebuah gua mengerikan. Di dalam liang itu berserakan tengkorak dan kerangka manusia yang berasal dari masa 1.000 tahun lalu. Mereka diyakini korban pengorbanan ritual. Menjadi tumbal.

Ditemukan pada tahun 1989, Actun Tunichil Muknal -- demikian penduduk lokal mengenal gua itu -- sama sekali tak mudah dijangkau. Seperti dikutip dari News.com.au, para pertualang harus menempuh perjalanan panjang, mengemudi dari San Ignacio, Belize, berjalan satu jam melalui sungai dangkal dan hutan, untuk mencapai mulut gua.

Dari situ, para pengunjung harus berenang menuju gua dan mengarungi sungai sepanjang 1 kilometer, melewati rintangan bebatuan besar dan kamar-kamar gua.

Di ujung dari lika-liku gua, di hamparan tanah basah yang dijuluki "The Cathedral", terdapat 14 kerangka manusia, korban ritual pengorbanan Suku Maya untuk dewa mereka.

Yang paling terkenal adalah kerangka gadis 18 tahun yang dijuluki "The Crystal Maiden". Ia dibaringkan di sebuah kamar gua, yang terpisah dengan jasad-jasad lainnya.

Diyakini, gadis malang tersebut tewas mengenaskan, diduga dihabisi dengan pentungan, di mana dua dari tulang punggung korban patah karenanya.

Jasadnya menyembul dari tanah dalam posisi unik dan mengeras oleh kapur, membentuk lapisan kalsit yang bersinar -- menginspirasi julukannya sebagai 'gadis kristal'.

Sementara itu, usia kerangka lainnya bervariasi, dari 1 tahun hingga diperkirakan 45 tahun. Mayoritas tewas akibat trauma fatal pada kepala. Bahkan ada yang terkoraknya hancur.

Empat dari mereka yang dikorbankan adalah bayi berusia antara 1 dan 3 tahun. Jasad-jasad mungil mereka dijejalkan di celah-celah gua, atau dimasukkan dalam liang yang berada di dekatnya.

Tembikar dan perangkat ritual di dalam gua memudahkan para arkeolog untuk memperkirakan saat ritual pengorbanan manusia itu. Dalam 2 dekade terakhir mereka telah menemukan lebih dari 1.400 fragmen dari masa 250 hingga 909 Masehi -- periode di mana kerajaan 'Maya Klasik' menguasai  Mesoamerika.

Benda-benda tersebut terekat kuat oleh kapur di lantai gua dan terawetkan oleh alam -- sama seperti ketika ditinggalkan di sana. Mangkuk-mangkuk kuno memiliki 'lubang pembunuh' yang diduga untuk mengeringkan darah atau memungkinkan roh melarikan diri dari sana.

Maya kuno adalah salah satu peradaban yang paling misterius di dunia. Mereka percaya dunia bawah tanah yang ada di gua-gua adalah rumah bagi para dewa yang mengendalikan hujan dan panen.

Anak-anak belia dan perempuan diyakini sebagai manusia yang murni dan paling diinginkan para dewa. Maka dari itulah mereka dijadikan tumbal untuk mendapatkan keberuntungan kolektif. Setidaknya 5 dari para korban berasal dari kelas bangsawan -- tengkorak mereka diikat dan diratakan, praktek populer di kalangan elit kala itu.

Sementara, gua secara tradisional diyakini sebagai pintu masuk ke neraka penuh dengan sungai darah dan kalajengking.

Kini, pengunjung bisa mengakses gua tapi harus didampingi pemandu. Sebuah perjalanan yang berharga ke masa lalu yang suram dan kejam.

"Kau berjalan kaki melalui hutan dan berenang di sungai untuk sampai ke gua, kemudian berjalan melalui sungai bawah tanah, lalu naik ke ruang raksasa di mana bangsa Maya meninggalkan persembahan," kata Jason Yaeger, dosen antropologi University of Texas,  San Antonio, seperti dikutip dari situs The Star.

"Pengorbanan manusia, persembahan makanan, tengkorak-tengkorak -- semua masih ada ada di altar, di posisi yang diletakkan Bangsa Maya," kata dia. "Dan Anda akan melihat ceruk kecil di mana seorang gadis dikorbankan 1.200 tahun yang lalu, dan ada kilau kristal seluruh tulang-tulangnya."

Penjaga Tambal Ban Yang Go Internasional

Arfi’an dan Arie, dari Penjaga Tambal Ban hingga Wirausahawan yang Mendunia

Di ruang seluas 2,5 meter x 3 meter di Canden, Kota Salatiga, Jawa Tengah, kakak beradik Arfi’an Fuadi (28) dan M Arie Kurniawan (23) beserta timnya mendesain jet engine bracket, salah satu komponen pengangkat mesin pesawat. Desain ini keluar sebagai juara pertama dalam kompetisi desain tiga dimensi yang diadakan General Electric dan GrabCAD. Mereka mengalahkan kompetitor yang bertitel doktor dan lulusan universitas terkemuka dunia.

Ini adalah kali pertama dua putra dari pasangan Akhmad Sya’roni dan Arumi ini mengikuti lomba, tetapi tanpa diduga mereka keluar sebagai juara pertama. Mereka mengalahkan para peserta dari 56 negara dengan total 700 desain.

Arfi’an dan Arie dapat membuat desain yang jauh lebih ringan 84 persen, dari 2 kilogram pada komponen asli menjadi hanya 327 gram.

Namun, semua itu mereka raih bukan secara instan. Semuanya melalui perjuangan panjang mereka bergelut di dunia design engineering. Bertahun-tahun sebelum mengikuti lomba, mereka sudah dipercaya banyak perusahaan asing untuk mendesain berbagai produk. Salah satu desain yang mereka buat adalah pesawat ringan (ultralight aircraft) untuk sebuah perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat (AS).

Semua bermula ketika Arfi’an lulus dari SMK Negeri 7 Semarang tahun 2005 dan mencoba berwirausaha. Banyak hal dia lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari berjualan susu segar keliling Kota Semarang, menjaga tambal ban, menjaga bengkel, hingga menjadi tukang cetak foto. Hingga tahun 2009, dia bekerja di Kantor Pos sebagai penjaga malam.

"Walaupun saat itu hanya menjadi penjaga malam, saya punya mimpi yang besar. Saya tak mau hidup begini-begini saja. Saya ingin berbuat sesuatu yang bisa mengubah hidup saya dan keluarga," kata Arfi’an.

Gaji pertamanya di Kantor Pos digunakan untuk membeli komputer bekas senilai Rp 1,5 juta. Itu pun masih ditambah dari tabungan ayahnya dan kebaikan hati kerabatnya yang memberi hard disk bekas. Memiliki komputer saat itu adalah kemewahan baginya. Sebelumnya, Arfi’an belajar menggunakan komputer dengan meminjam komputer milik sepupunya.

Karena kerjanya bagus, dia mulai dipercaya menjadi petugas di loket pengiriman. Sambil bekerja, Arfi’an, yang menyenangi dunia desain sejak kecil, mencoba-coba mengakses situs freelance. Ada banyak proyek yang ditawarkan di situs tersebut. Dia mulai memberanikan diri menggarap proyek yang ditawarkan.

Fokus pada proyek

Seiring waktu, pekerjaan pun semakin banyak berdatangan. Arfi’an memberanikan diri untuk fokus pada pekerjaan barunya di dunia desain dan memutuskan keluar dari Kantor Pos.

Hampir semua proyek yang ditawarkan dia sanggupi. Mulai dari mendesain gantungan kunci, kaus tangan, anting-anting, sasis mobil, engine bracket, hingga pesawat ringan. Hingga kini, setidaknya 150 proyek sudah dia kerjakan bersama adiknya.

Arie, si adik, yang lulus dari SMK Negeri 2 Salatiga, juga tertarik mengikuti jejak kakaknya. Mereka mendirikan DTECH-ENGINEERING, usaha jasa desain dan engineering. Karena banyaknya proyek yang harus digarap, mereka lalu mempekerjakan dua orang untuk membantu proses riset dan desain.

Apa yang mereka alami tak selalu mulus. Tahun 2012, Arfi’an dan Arie ditipu seorang pemberi proyek dari AS. Proyek mereka diterima, tetapi pembayaran tidak juga dilakukan.

Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan langkah mereka. Tahun 2013, Arfi’an bekerja sama dengan warga AS menggarap proyek Coco Pen, pulpen eksklusif yang dibuat dari aluminium solid dan batok kelapa. Produksinya dilakukan di Salatiga.

Mereka menjual produk tersebut di www.kickstarter.com dalam jumlah terbatas. Target mereka hanya memproduksi 500 Coco Pen dan kini sekitar 300 Coco Pen sudah terjual ke seluruh penjuru dunia dengan harga 79-99 dollar AS per unit.

Selain itu, mereka juga membuat Puter Pen, pulpen dari titanium yang dibuka dengan cara diputar. Berbeda dengan Coco Pen, penutup Puter Pen tak akan dapat terlepas dari badannya. Keduanya merupakan produk kerajinan tangan dan eksklusif yang dibuat oleh dua tenaga kerja mereka.

Membangun rumah

Hasil kerja keras mereka sudah dirasakan dampaknya. Mereka bisa membangun rumah untuk orangtua yang sebelumnya berdinding kayu dan atapnya bocor. Mereka juga membeli mobil dan lahan untuk membangun kantor DTECH-ENGINEERING serta tempat untuk membuat Coco Pen, Puter Pen, dan produk lainnya.

"Awalnya, kami melakukan ini semua untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi kini uang bukan lagi yang utama. Saya tertantang mempelajari hal baru, membuat hal baru, dan mendapat informasi baru. Betapa banyak peluang dan kesempatan di pasar global yang bisa kita raih kalau mau berusaha," kata Arfi’an.

Dia mencontohkan saat sebuah perusahaan besar memintanya menggarap proyek. Mereka dapat mempelajari strategi perusahaan tersebut, bagaimana standar kualitas mereka, bagaimana kontrol mereka terhadap produknya, termasuk bagaimana mereka memandang konsumen.

”Kami belajar banyak sekali dari mereka. Perusahaan-perusahaan besar itu memiliki bagian riset dan pengembangan sendiri. Namun, mereka kadang ingin mendapat opini kedua dari pihak lain yang tidak terbelenggu rutinitas dan biasanya justru bisa menghasilkan sesuatu yang baru,” ujar Arfi’an.

Melalui apa yang mereka lakukan, mereka ingin membuka mata anak muda untuk mau berbuat sesuatu di luar kebiasaan. Kita bekerja tak harus di kantor dan mendapat gaji bulanan layaknya pegawai. Asalkan memiliki kemauan dan bekerja keras, mereka percaya apa pun dapat diraih.

"Modal kami awalnya hanya keras kepala, mau belajar, dan anti mainstream," kata Arie. Oleh karena itu, sejak tahun lalu, mereka membuka kelas gratis bagi siapa pun yang ingin belajar mengenai design engineering atau mengenai pasar global. Anak muda pun berdatangan ke rumah mereka.

Dari setiap proyek yang mereka garap, hanya satu proyek yang dibuat untuk perusahaan lokal. Arie mengatakan, perusahaan di Indonesia masih belum bisa menerima latar belakang mereka yang lulusan SMK, bukan perguruan tinggi.

Kini, uang tidak lagi menjadi masalah, tetapi mereka tetap ingin kuliah. Sekarang masalahnya justru waktu mereka yang habis untuk menggarap pesanan.

"Tidak apa-apa, mungkin jalan kami memang harus seperti ini. Oleh karena pasar lokal belum dapat menerima, kami harus go global. Setelah itu, kami percaya, pasar Indonesia akan mengikuti," ujar Arfi’an.

DTECH ENGINEERING M Arie Kurniawan (kiri) dan Arfi'an Fuadi, pendiri DTECH ENGINEERING, Salatiga. Foto kanan adalah desain jet engine bracket rancangan mereka yang menjadi juara dalam kompetisi desain yang diadakan oleh General Electric dan GrabCAD.

+++

M Arie Kurniawan
Lahir: Salatiga, 11 Juli 1991
Pendidikan:
- SD Kutowinangun 12 Salatiga
- SMP Negeri 9 Salatiga
- SMK Negeri 2 Salatiga
Penghargaan: Juara I General Electric 3D Printing Challenge, Agustus 2013-April 2014

Arfi’an Fuadi
Lahir: Salatiga, Jawa Tengah, 2 Juni 1986
Pendidikan:
- SD Kutowinangun 12 Salatiga
- SMP Negeri 3 Salatiga
- SMK Negeri 7 Semarang

Pemuda Salatiga Lulusan SMA Kalahkan Insinyur Oxford di Lomba Desain Komponen Jet

JAKARTA – Bangsa Indonesia tak boleh kehilangan semangat sebagai bangsa yang kreatif dan inovatif. Lihatlah, pemuda lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan (SMA-SMK) asal Salatiga ini mampu mengalahkan insinyur-insinyur dunia. Sungguh, kekayaan bangsa ini tidak terletak pada sumber daya alamnya, tapi pada sumber daya manusiannya.

Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23), kakak beradik asal Salatiga, menyabet juara pertama dalam "3D Printing Challenge" yang diadakan General Electric (GE) tahun ini. Tidak cuma itu, dalam kompetisi tersebut, karya Arfian dan Arie berhasil mengalahkan karya insinyur lulusan universitas terkemuka dunia.

"Arfian dan Arie berhasil mendesain jet engine bracket  yaitu salah satu komponen untuk mengangkat mesin pesawat terbang yang paling ringan dari komponen serupa yang pernah dibuat di dunia. Bahkan, mereka berhasil mengalahkan peserta dengan gelar Ph.D dari Swedia yang menyabet peringkat kedua dan insinyur lulusan University of Oxford yang meraih juara ketiga," ujar Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia, Jakarta.

Dua pemuda lulusan SMA Negeri 7 Semarang dan SMK Negeri 2 Salatiga, Jawa Tengah, ini berhasil menyisihkan 700 karya dari 50 negara peserta yang mengikuti kompetisi tersebut.

Keunggulan jet engine bracket yang didesain Arfian dan Arie adalah komponennya yang hanya berbobot 327 gram atau 84 persen lebih ringan dari pascaproses pembuatan cetak biru atau prototipe Jet engine bracket saat ini yang seberat 2 kilogram.

Jualan Susu dan Tukang Tambal Ban

Apa yang dicapai Arfian dan Arie dalam kancah internasional tidak terjadi tiba-tiba. Sebelum berkecimpung di dunia desain engineering  mereka adalah pedagang susu dan tukang tambal ban.

Kehidupan ekonomi  keluarga yang tidak mencukupi membuat mereka harus bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan. 

“Rumah sudah hampir rubuh jadi kita butuh kerjaan. Dari kecil memang kita diwajibkan berwirausaha, bahkan pernah jualan susu, pernah juga jadi tukang tambal ban,” kata Arie kepada kompas.com.

Lucunya, kalau lah boleh dibilang begitu, baik Arfian dan Arie tak memiliki latar belakang akademis di dunia desain engineering. Arfian yang lahir pada 2 Juli 1986 lulusan SMA, sedang Arie yang lahir pada 11 Juli 1991 lulusan SMK jurusan otomotif.

Arfian lah yang pertama-tama tertarik dengan dunia ini. Ia semata-mata hobi, belajar sendiri dengan meminjam komputer milik sepupunya. Komputer adalah barang yang amat mewah yang tidak mungkin mereka miliki.

“Dulu ketika masih sekolah, sering pinjam komputer sepupu untuk belajar. Tapi minjem-nya kalau sepupu sudah tidur,” kata dia.

Arie mengenal desain engineering dari kakaknya. Arie mengaku secara akademis dirinya tidak cemerlang di bangku sekolah. Ia mengalami kesulitan memahami setiap pelajaran. Kata dia, materi pelajaran di sekolah kebanyak disampaikan dalam bentuk teori tanpa praktik. Siswa di kelas hanya membayangakan apa yang diajarkan oleh guru.

Proyek pertama senilai Rp 90 ribu

Mereka bercerita, proyek pertama membuat desain dimulai dari seringnya mengunjungi salah satu situs tempat para klien mereka berkumpul dan berbincang di dunia maya.

Pada tahun 2005, proyek pertama yang mereka kerjakan adalah membuat jarum untuk alat ukur yang berfungsi sebagai alat medis. Pemesannya adalah perusahaan asal Jerman. Mereka mendapat honor perdana sebesar 10 dollar AS atau sekitar Rp 90 ribuan kala itu.

Sejak proyek pertama itu, mereka terus mendapat permintaan untuk membuat desain-desain alat-alat lain yang semakin canggih. Bahkan, mereka sempat ditawari membuat senjata namun mereka menolak karena senjata dapat digunakan untuk tindakan kriminal.

Selanjutnya, mereka juga pernah membuat desain pesawat ringan yang dipesan oleh perusahaan asal Amerika Serikat. Mereka mendapat bayaran ribuan dollar dari proyek itu.

Mereka kini adalah pemilik usaha Dtech Engineering, bisnis jasa desain yang mendunia. Mereka melayani pemesanan desain tiga dimensi dari seluruh penjuru bumi.

sumber:
kompas.com

Siapa Yang Menentukan Kesuksesan

Resep Kesuksesan: Kelilingi Diri Anda dengan Orang – Orang Sukses

Siapa yang Anda Kenal Menentukan Kesuksesan Anda. Setuju?

Kita semua ingin sukses, apalagi sebagai entrepreneur. Sedangkan kesuksesan sendiri merupakan hasil yang kompleks dari perpaduan banyak variabel seperti perencanaan, ketekunan, dan lain sebagainya. Akan tetapi seringkali saking senangnya kita dengan kerja keras, kita cenderung melupakan satu faktor berharga lain yang akan memacu kita pada kesuksesan. Yaitu sahabat, atau dengan siapa kita bergaul. Mengutip ungkapan terkenal dari Jim Rohn: “Anda adalah rata-rata dari 5 orang yang paling sering menghabiskan waktu dengan Anda”. Jadi, apa yang harus Anda lakukan?

3 Orang yang Penting Bagi Anda

Tidak peduli sebanyak dan sedekat apa orang-orang yang ada di jaringan Anda, ada 3 jenis orang yang akan mengantarkan Anda pada kesuksesan:

1. Orang yang lebih tua dan lebih sukses dimana Anda bisa belajar banyak darinya.

2. Orang yang setara dengan Anda dimana Anda dapat berbagi ide dengannya.

3. Orang di bawah Anda untuk Anda latih dan membuat Anda senantiasa bersemangat.

Tokoh ternama yang memegang teguh prinsip ini adalah Aristoteles. Ia belajar dari mentornya, Plato, bertukar ide dengan sesama filsuf Yunani di akademi tempatnya belajar, dan mengajarkan pemikirannya pada anak muda bernama Alexander, yang kemudian menjadi Alexander Agung.

Anda Akan Butuh Bantuan Kapan Saja

Sukses juga bergantung pada kemampuan Anda terhubung dengan orang-orang yang sudah lebih dulu merasakannya. Ada seorang pria bernama Ernest Hemingway, yang kini merupakan salah satu figur literatur dunia. Seorang penulis hebat seperti Hemingway tidak sukses sendirian. Ia bekerja di perusahaan koran dimana bosnya, Sherwood Anderson membantunya mempublikasi novel pertamanya. Dari sini, Hemingway kemudian terhubung dengan penulis-penulis lain seperti F. Scott Fitzgerald, Virginia Woolf, dan James Joyce. Komunitas penulis hebat inilah yang membantunya membentuk gaya menulisnya, dan memaksanya untuk menulis setiap hari sehingga ia menjadi salah satu penulis terhebat di generasinya. Hemingway adalah bukti bahwa bakat tidak selamanya berbanding lurus dengan kesuksesan. Sangat susah untuk menepati jadwal yang padat untuk meningkatkan diri Anda jika Anda tidak mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

Membuat Daftar

Jadi bagaimana dengan orang-orang di sekitar Anda? Akio Morita, founder Sony menyarankan bagi Anda untuk melihat siapa-siapa yang ada di sekitar Anda. Apabila mereka adalah orang-orang yang tidak menyukai kerja keras dan tak termotivasi, maka gantikan dengan orang-orang satu minat yang dapat Anda temui dengan mudah di seminar-seminar. Kemudian buat daftar sederhana berisi orang-orang yang akan meningkatkan hidup Anda, dan orang-orang yang akan menghambat Anda. Jika orang itu dapat meningkatkan hidup Anda, habiskan sebanyak mungkin waktu dengan mereka. Jika orang itu hanya menghambat Anda, habiskan hanya 5 menit dengannya.

Aturan 5 menit mungkin terlalu ekstrim. Namun orang-orang yang ada di sekeliling Anda lah yang akan memberikan dampak terhadap kehidupan Anda. Karena jaringan sahabat yang terdiri dari orang-orang yang termotivasi untuk sukses akan senantiasa memberikan Anda inspirasi dan kompetisi yang sehat. Sekali lagi mengutip ungkapan Jim Rohn: “Jangan bergabung dengan keramaian yang mudah. Pergilah kemana ekspektasi dan pencapaian sangat tinggi.”

sumber:

http://studentpreneur.co/resep-kesuksesan-kelilingi-diri-anda-dengan-orang-orang-sukses/#sthash.2S7wfRdp.dpuf

Kaya Dari Koleksi Barang-Barang Kuno

Kaya Berkat Koleksi Radio Kuno

MALANG - Hobi Muhammad Cholil mengoleksi barang-barang kuno mampu mendatangkan uang. Berawal dari merawat radio kuno peninggalan neneknya dia akhirnya keranjingan mengoleksi perangkat elektronik pemutar musik dan radio kuno.

Hasilnya, kini pemuda asal Malang, Jawa Timur tersebut menjadi jutawan. Sebanyak 118 unit radio dan pemutar musik kuno miliknya diburu kolektor dunia.

Hobi Cholil memang tidak murah. Namun berkat keuletannya berburu barang kuno hingga ke pelosok negeri akhirnya dia mampu memiliki koleksi benda-benda tersebut. Barang yang didapatnya memang tak selamanya dalam kondisi bagus, namun dengan sentuhan tangannya semua berubah menjadi barang bernilai jual tinggi.

Kini koleksi 118 unit radio kuno miliknya disimpan rapi di rumahnya di jalan Ir Rais, Kota Malang yang sudah berubah menjadi galeri barang antik bernama Bangho Antique Collection.

Radio dan pemutar musik kuno dan antik yang paling diburu milik Cholil adalah keluaran tahun 1800 hingga tahun 1900-an. Di antaranya radio tabung, original FM AM merek Philips Bi Ampli tahun 1942 buatan Belanda. Kemudian Radio Philips BX 569A tahun 1938, dan radio Zenith tahun 1938 buatan Amerika.

Selain radio antik, Cholil juga mengoleksi phonograph kuno merek Thomas Alfa Edison yang diproduksi di Amerika pada tahun 1827 dan phonograph merek Phate buatan Prancis yang diproduksi tahun 1885.

Barang-barang antik ini didapatkan Cholil dengan harga murah. Paling mahal dia beli Rp16 juta. Kini barang-barang ini ditaksir kolektor mencapai harga Rp75 juta-an. Pelanggan Cholil tak hanya dari kalangan dalam negeri. Para pembeli dari Eropa juga sudah beberapa kali menyambangi galerinya dan membeli beberapa barang koleksi.

Kecantikan Abadi Bangsawan Sadis

Kisah Bangsawan Sadis, 'Mandi Darah Perawan' Demi Cantik Abadi

Hari itu, 21 Agustus 1614, 400 tahun lalu, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed tamat. Ia meninggal dunia dalam sebuah kamar sempit di Kastil Cachtice, tempatnya dikurung. Pada usia 54 tahun.

Elizabeth ditemukan dalam kondisi telungkup, di ruangan tertutup yang hanya menyisakan lubang kecil yang digunakan untuk memasukan makanan dan minuman.

Bangsawan tinggi Kerajaan Hungaria itu lekat dengan dengan imej sebagai 'Countess Berdarah', perempuan pembunuh berantai paling sadis sepanjang sejarah.

Ia dan 3 kaki tangannya dituduh menyiksa dan membantai ratusan gadis, jumlahnya antara 100 hingga 650 orang -- entah berapa pastinya -- antara tahun 1585 hingga 1610.

Kabar yang beredar menyebut, Elizabeth mandi dengan darah para korbannya. Ia meyakini, darah perawan akan membuatnya memiliki kecantikan abadi. 'Rahasia awet muda'.

Ia menyakini, darah gadis muda memancarkan cahaya kemudaan mereka. Sang countess masuk ke dalam bak mandi dan berendam dalam kubangan darah korbannya.

Hingga kini, reruntuhan kastil kuno di atas bukit, tempatnya menghembuskan nafas terakhir, sekaligus tempat menyiksa korbannya, membayangi Desa Cachtice, Slovakia. Menghembuskan hawa horor.

Penulis wisata, John Malathronas kepada CNN menulis, kisah hidup sang bangsawan menjadi inspirasi sejumlah film, buku, dan situs online. Sejumlah orang bahkan menduga, novel 'Dracula' karya Bram Stoker pada 1897 terinspirasi kisah sadis itu.

Pemuja Setan

Pada usia 15 tahun, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed menikah dengan bangsawan bernama Ferenc Nadasdy, pahlawan nasional Hungaria ketika berperang melawan Turki.

Kedua pasangan tersebut kemudian tinggal di Istana Cachtice, sebuah kastil perbukitan yang menaungi Desa Cachtice di lembah di bawahnya.

Setelah suaminya meninggal, perilaku Elizabeth menjadi-jadi. Ia mulai terpengaruh dengan satanisme atau aliran sesat. Pembunuhan pun merebak. Satu per satu gadis menghilang dari desa-desa sekitar kastil.

Awalnya perempuan sadis itu memburu gadis desa. Namun, darah para perawan itu kurang baginya.

Demi mendapat darah yang menurutnya lebih berkualitas, Elizabeth mengincar darah para gadis bangsawan rendahan, menculik mereka untuk dijadikan korban.

Namun hal tersebut menjadi bumerang baginya. Hilangnya gadis-gadis bangsawan dengan cepat mendapatkan perhatian di kalangan kaum darah biru. Kabar itu pun sampai ke telinga raja.

Tanggal 30 Desember 1610, pasukan tentara dibawah pimpinan Palatine Georgy Thurzo, yang merupakan sepupu Elizabeth sendiri, menyerbu kastil Cachtice di malam hari. Atas titah Raja Hungaria.

Sesampainya di sana, mereka semua terkejut melihat pemandangan yang mengerikan. Mayat seorang gadis yang pucat kehabisan darah tergeletak di atas meja makan, seorang lainnya yang masih hidup namun sekarat ditemukan terikat di tiang dengan kedua urat nadinya disayat hingga meneteskan darah.

Di bagian penjara ditemukan belasan gadis yang sedang ditahan menunggu giliran dibunuh. Kemudian di ruang basement ditemukan lebih dari 50 mayat yang sebagian besar sudah mulai membusuk.

Elizabeth kemudian ditangkap bersama 3 pelayannya. Namun ia sendiri tidak pernah diadili secara langsung. Sebagai bangsawan tinggi ia kebal hukum. Hanya ketiga pelayannya yang kemudian disiksa dan dibakar di tiang.

Cachtice saat ini adalah desa sejahtera dengan rumah-rumah besar, antena satelit di mana-mana, juga mobil-mobil SUV yang parkir di tepian jalan. Patung kayu Countess Elizabeth Bathory de Ecsed pun didirikan di alun-alun.

Reruntuhan Kastil Cachtice kini berdiri di tengah-tengah cagar alam yang lebat. Setelah 2 renovasi besar-besaran yang makan waktu 2 tahun, istana tersebut dibuka kembali pada Juni 2014. Satu menara runtuh pada 1980-an hanya menyisakan dua yang lain, ruang kamar penjara sang countess masih utuh.

"Generasi tua malu dengan apa yang dilakukan countess. Ada sejumlah protes ketika patung Bathory didirikan di alun-alun," kata Adam Pisca (18) yang bekerja paruh waktu sebagai penjaga kastil, seperti di kutip dari CNN.

Sementara, kata dia, generasi muda lebih cuek dengan masa lalu. "Kami tahu dia adalah seorang pembunuh, tapi bodo amat, dia tidak penting bagi kami," kata Pisca. "Sebelum kastil itu direkonstruksi, kami sering bakar-bakaran daging di dalamnya atau berkemping di halamannya.

Elizabeth Bathory konon dikubur di Gereja St. Ladislav, yang masih kokoh berdiri sejak Abad ke-14. Namun tak ada satu pun yang pernah menemukan kuburnya. Bisa jadi, jasadnya dipindahkan ke Nagyesced, lokasi asal-usul nenek moyangnya yang kini berada di Hungaria.

Sementara, manor tua di mana sang countess juga kerap menyiksa korbannya masih berdiri. Di dekatnya ada sebuah perusahaan minuman anggur.

Dinding luar manor masih bersisa, sementara ruang bawah tanah yang menjadi saksi bisu penyiksaan dan penderitaan korban sekarang digunakan untuk menyimpan beberapa barel anggur.

Beberapa anggur dilabeli "Bathory Blood". Tapi merek itu dihentikan 2010 menyusul protes pembeli. Namun, pada tahun ini, dalam rangka perayaan peringatan 400 kematian sang countess sadis, wine itu kembali dijual.

Saat dituang, cairan merah keluar dari botol. Sewarna darah.

Kalau Mau Terkenal Harus Ekspansi

Milyuner yang Membuat Ban Asli Indonesia Mendunia

Pusaran kasus BLBI menjerat nama seorang taipan bisnis Indonesia: Sjamsul Nursalim. Mungkin, ada benarnya kata pepatah yang menyebut bahwa semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang angin menerjang. Akan tetapi, di luar kasus yang membelitnya, mari kita tengok pelajaran apa yang bisa kita dapat dari seorang pebisnis yang mengawali perjalanan bisnisnya dari Gajah Tunggal, industri ban yang jaman dulu tidak banyak dilirik orang lain, hingga kini telah membuka 13 ribu (2012) lapangan kerja bagi masyarakat dengan tingkat loyalitas pekerja yang tinggi, yakni 15-20 tahun.

Kadang, barang komplementer menyimpan potensi besar. Pebisnis harus terampil melihat celah ini.

Sjamsul memulai bisnis ban sepeda pada tahun 1951. Kemudian, ia mengambil alih NV Hok  Thay Hin, sebuah pabrik ban di Jakarta Utara. Di sinilah, Nursalim mempraktekkan ilmu ekonomi bisnis yang didapatnya dari Watford College of Technology, London. NV Hok Thay Hin berganti nama menjadi PT Gajah Tunggal. Memang, pada awal tahun 1950-an sampai tahun 1970-an, sepeda adalah mode transportasi yang paling populer di masyarakat. Namun, pada tahun tersebut, bisa dibilang cukup terlambat ketika ingin memproduksi sepeda sendiri. Karena di Eropa, sepeda sudah populer sejak seabad lalu. Maka logikanya, ban adalah barang komplementer dengan potensi yang besar. Selain masih sedikit kompetisi, seiring dengan semakin banyaknya barang utama digunakan, maka akan semakin meningkat permintaan barang komplementer.

sjamsul nursalim Milyuner yang Membuat Ban Asli Indonesia Mendunia studentpreneur entrepreneur startupMilyuner yang Membuat Ban Asli Indonesia Mendunia [Studentpreneur]

Pasar juga akan selamanya berubah. Pebisnis juga harus piawai melihat tren.

PT Astra Honda Motor (AHM) adalah pelopor industri sepeda motor di Indonesia. Ia berdiri pada 11 Juni 1971, dan sejak saat itu, mulailah peredaran motor di Indonesia. Melihat tren ini, 2 tahun kemudian, Gajah Tunggal melebarkan sayapnya dengan menggandeng IRC atau Inoue Rubber Company, sebuah perusahaan asal Jepang yang telah lebih dulu memproduksi ban motor sejak tahun 1952.

Meningkatkan kualitas dengan membandingkan diri pada tingkat kompetisi yang lebih tinggi.

“Terus terang, saya kagum  dengan cara bisnis Jepang,” kata Nursalim. Bukan hanya Jepang, Nursalim kerap membandingkan kualitas produksinya dengan buatan luar negeri. Di bawah kendali Nursalim, GT Radial berkembang pesat dan menjadi pesaing utama Goodyear dan Bridgestone. Gajah Tunggal masuk dalam 20 produsen ban terbesar di dunia. Budaya ini yang tampaknya kemudian terus diserap oleh Gajah Tunggal. Sekarang, produksinya telah menjangkau ke 90 negara. Bahkan, Catharina Widjaja, direktur Gajah Tunggal menyebut bahwa banyak warga Filipina yang menduga kalau GT Radial adalah brand mereka, sejak Anda dapat dengan mudah menemukannya di sana. Tahun 2010 silam, mereka meluncurkan Champiro Eco, ban ramah lingkungan pertama di Indonesia.

“Kami mendesain ban ini (Champiro Eco) untuk pasar Eropa, khususnya untuk memenuhi standar lingkungan di sana,” ungkap Christopher Siew Choong Chan, presiden direktur Gajah Tunggal. “Kami ingin masyarakat Indonesia tahu bahwa barang-barang buatan Indonesia bisa setara dengan kualitas dunia.”

Ekspansi.

“Kalau kita mau terkenal, ya, harus ekspansif,” kiat Nursalim. Seperti taipan pada umumnya, Nursalim sangat agresif memburu peluang. Pada 1977, Gajah Tunggal mulai berekspansi. Nursalim juga mempunyai pabrik cat, industri kabel, properti, pabrik kimia, tambak udang, perkebunan, tambang batu bara. Nursalim mulai menapaki bisnis perbankan dengan mengambil alih Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang hampir sekarat karena terlilit utang besar dan banyak nasabahnya yang kabur. Ia juga mendirikan bisnis patungan dengan nama PT Rajawali Wira Bhakti Utama. Kala itu, perusahaan ini memegang 20 persen saham RCTI. Pada 1991, Grup Rajawali mengambil alih pengelolaan PT Bentoel, yang sedang mengalami kesulitan likuiditas. Selain itu, Nursalim juga disebut-sebut memiliki saham di perusahaan milik keponakannya, yaitu Mitra Adiperkasa, sebuah perusahaan ritel untuk merek kelas menengah atas seperti Starbucks, Zara, Burger King, Reebok, Calvin Klein, Mark and Spencer, dan Kidz Station. Meski Ratih D. Gianda, Kepala Grup Hubungan Investor Mitra Adi Perkasa, membantah adanya kaitan antara Mitra Adi Perkasa dengan Sjamsul Nursalim.

Begitu pula dengan Gajah Tunggal. Perusahaan produsen ban terbesar di Asia Tenggara dengan omset penjualan melebihi $1,3 milyar ini menyanggah bahwa mereka masih memiliki hubungan dengan Sjamsul Nursalim. Mungkin hal ini terkait dengan kasus yang melilitnya. Namun apalah artinya pengakuan bagi seorang Nursalim yang telah sukses membuat ban asli indonesia melanglang buana ke dunia.

sumber: https://id.berita.yahoo.com/milyuner-yang-membuat-ban-asli-070017452.html

Popular Posts