728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

    Menghitung Hari

     “Pelakunya ini perampok yang sangat cerdas dan bertampang santun”, demikian Abraham Samad, Ketua KPK, seperti dirilis KOMPAS dalam berita di halaman-3 Kamis 4 Oktober 2012, yang berjudul "KPK Bidik Pelaku Utama".

    Publik pun tahu, partai mana yang ditengarai berprestasi merampok uang negara, yang memang top pimpinannya mempunyai ‘indikasi’ demikian. Cerdas, dapat dimaksudkan mempunyai predikat akademis yang tinggi. Santun, cara bertutur-katanya rapi sekalipun terkadang disisipi istilah asing yang belum tentu difahami oleh rakyat kebanyakan, terutama anak-anak. Justru karena sering memakai istilah yang tiada dapat dimengerti itulah mungkin publik menganggap yang bersangkutan sebagai orang yang cerdas.

    Besar kemungkinan, salah seorang dari yang berkriteria di atas sedang menyanyikan lagu Kris Dayanti, ‘Menghitung Hari’. Sekaligus menyanyikan lagu ‘Ku Yakin Sampai di Sana’, namun diplesetkan sebagai ‘Ku Yakin Sampai di MONAS’. Ini akibat supata-nya sendiri, yang sesumbar dengan jumawa: “satu rupiah saya memakan uang negara, saya bersedia digantung di Monas”. Bisa jadi dia sangat PD (seperti akronim partai yang dikomandaninya), sebagai Petinggi partai penguasa negeri, mana berani KPK menelusuri kasusnya. Terlebih lagi, dia sempat lolos dari jeratan kasus KPU beberapa tahun silam, karena cepat-cepat masuk ke dalam bunker partai penguasa.

     Langkah-langkah pelemahan KPK pun telah dirancang dengan seksama, mengingat lembaga ini sudah berani kurang-ajar mengayunkan pedang terhadap jajaran perampok tinggi tinggi. Mulai dari kriminalisasi Ketuanya, kasus ‘cicak vs buaya’, pembintangan anggaran gedung instansi ini, sampai dengan yang terakhir rencana pengibirian KPK lewat perubahan Undang-Undang.

     Namun para Jemaah Perampok ini lupa, bahwa era SANTUN, yang pernah HIT satu dekade lalu telah usang. Masyarakat telah capai menunggu janji-janji kesejahteraan yang dijanjikan oleh pesantun yang tiada kunjung tiba, malahan mereka disuguhi tontonan ‘hedonism’ para penjarah uang negara yang seakan tak kenal kenyang. PILKADA DKI baru-baru ini telah menjungkir-balikkan elite politik negeri ini.

     Sekarang adalah era-nya pemimpin yang NYATA atau REAL, bukan seperti yang tersedia saat ini yang seakan MAYA, sekalipun ada bentuknya namun seakan tiada berwujud, karena hanya mewujudkan keinginannya sendiri sebagai pemimpin untuk mengeruk sebanyak-banyaknya kekayaan negara demi kepentingan diri serta begundalnya. Bandingkan dengan ‘pasal-33 UUD’45’, yang intinya mengatakan bahwa “segala kekayaan seperti: air, tanah, hasil Bumi Indonesia dikuasai oleh Negara untuk Kesejahteraan Masyarakat.”
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Item Reviewed: Menghitung Hari Rating: 5 Reviewed By: Blogger
    Scroll to Top