728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

    Bukan Soal Kesempatan Tapi yang Ada Hanyalah Belajar dan Terus Berlatih

    Pebiliar dan Penjaga Gawang, Mereka yang Mencapai Kesempurnaan

    Gianluigi Buffon dan Iker Casillas merupakan dua di antara banyak nama penjaga gawang berusia di atas 30 tahun yang masih menjadi pilihan utama di bawah mistar. Fenomena ini mengingatkan penulis pada atlet biliar.

    Dalam ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) dua tahun silam, penulis melihat kalau jarang ada atlet biliar berusia muda yang bisa meraih medali. Umumnya, mereka kalah dari para atlet yang berusia lebih matang.

    Ayah penulis yang aktif di dunia per-biliar-an buka suara. Menurutnya, ada perbedaan jelas antara atlet biliar dengan atlet olahraga lainnya, termasuk sepakbola. Hal yang paling menonjol adalah soal usia. Semakin lama dan konsisten seorang atlet bermain biliar, ia akan semakin hebat.

    Proses menjadi hebat inilah yang membuat seorang pebiliar memiliki ciri yang sama dengan penjaga gawang.

    Konsistensi

    Jika bicara soal siapa kiper terbaik abad ke-21, pikiran kita mungkin mentok di dua nama: Buffon dan Casillas. Betul, ada nama-nama lain yang menyeruak seperti Thibaut Courtois, David de Gea hingga yang terbaru Gianluigi Donnarumma. Namun, penulis yakin mereka belum menjadi apa-apa saat Buffon dan Casillas sudah membela negaranya di Piala Dunia 2002.

    Tahun ini Buffon berusia 38 tahun, sementara Casillas 35 tahun. Di usia yang begitu matang, keduanya seperti tak mengalami penurunan dalam kualitas permainan. Selain itu, belum ada kabar kalau keduanya akan pensiun dalam waktu dekat.

    Apa yang terjadi pada Buffon dan Casillas mungkin juga terjadi pada kiper-kiper lainnya di dunia. Mereka masih belum merasakan kelelahan meski telah kepala tiga. Hal ini tentu berbeda dengan outfield player yang mulai memasuki usia 30-an tahun. Mereka sudah mulai membicarakan untuk berlaga di China, Qatar, atau liga Amerika Serikat sebagai hiburan jelang pensiun dari sepakbola.

    Dari fakta di atas, kita tahu bahwa Buffon dan Casillas sudah menjadi hebat ketika usianya masih muda. Casillas menjadi salah satu kiper termuda di Piala Dunia dengan usia 21 tahun; Pun dengan Buffon yang masih berusia 20 tahun saat diikutsertakan dalam skuat Italia di Piala Dunia 1998, meskipun tidak sekalipun ia bermain.

    Semenjak itu keduanya pun selalu menjadi pilihan utama di tim. Hanya faktor nonteknis seperti ketidaksukaan dari pelatih yang membuat mereka tersingkir.

    Hal serupa juga terjadi di biliar. Untuk menjadi pemain biliar, Anda tak bisa sekadar jago matematika dan perhitungan. Ayah penulis berani bertaruh kalau rata-rata atlet yang ada sekarang ini memang memiliki bakat yang susah dijelaskan dari mana asalnya.

    Bakat tersebut kemudian dipoles lewat latihan secara intensif. Maka, kalau ada pemain muda yang mampu juara di sana-sini, ia biasanya menjadi rebutan untuk memperkuat daerah tertentu di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).

    Hal ini juga diakui pebiliar yang mewakili Indonesia di ajang World Cup of Pool 2015, M. Bewi Simanjuntak, yang memberi saran kepada penulis. "Sudah, main band saja. Susah sekarang jadi pebiliar, ada mereka semua," kata Bewi sembari menunjuk dua pebiliar nasional, M. Zulfikri (34 tahun), serta Irsal Afrinez Nasuiton (29 tahun) yang menjadi kompatriotnya di Piala Dunia Biliar. (Di biliar, usia 30-an tahun masih jauh dari kata pensiun. Anda hanya akan pensiun kalau meninggal atau tak bisa berpikir lagi).

    Pun dengan kiper. Kita tentu sadar, nama-nama seperti De Gea, Courtois, ataupun Donnarumma, masih akan bermain lebih dari satu dekade ke depan. Mereka merajut karier sejak usia muda. Masa keemasan mereka pun kemungkinan masih akan panjang seiring dengan pengalaman yang mereka dapatkan.

    Fisik

    Anda yang menonton pertandingan biliar mungkin berpikir, mengapa mereka yang cuma keliling-keliling meja ukuran sembilan kaki, dimasukkan ke dalam olahraga.

    Dalam sebuah perbincangan, Dex Glenniza, yang mengambil master di bidang sains olahraga menuturkan olahraga berasal dari kata "Disport" (Prancis Kuno) yang artinya "to amuse self" alias "untuk menyenangkan diri". Percayalah, meskipun cuma kelihatan jalan-jalan di pinggir meja, tapi melakukan kegiatan itu untuk satu jam cukup melelahkan dan membikin berkeringat.

    Di sepakbola, satu-satunya pemain yang lebih "hemat" staminanya ya penjaga gawang. Anda tak perlu bisa berlari kencang atau sanggup mengejar lawan selama 90 menit untuk bisa menjadi penjaga gawang.

    Ini pula yang mungkin menjadi alasan kenapa banyak kiper yang masih bermain prima di penghujung rata-rata karier seorang pesepakbola. Berdasarkan The Guardian, di A-League ada pasangan penjaga gawang yang jika dijumlahkan usia keduanya mencapai 79 tahun. Mereka adalah kiper Melbourne City, Thomas Sorensen (39 tahun) dan Ante Covic (40 tahun).The Guardian menjelaskan kalau mereka bukan pasangan kiper dalam satu tim tertua. Yang paling tua adalah kiper di Dagenham and Redbridge pada 2010, Tony Roberts (41) dan Kevin Poole (46) yang kalau dijumlahkan usianya mencapai 87 tahun!

    Mampu Membaca Pertandingan

    Saat menonton pertandingan biliar, penulis selalu terkagum-kagum karena betapa mudahnya para pebiliar memasukkan bola. Padahal, di balik itu semua ada perencanaan dalam sebuah kesempurnaan.

    Dalam hal ini, biliar hampir tak ubahnya seperti pertandingan catur. Misalnya, dalam sebuah pertandingan nomor "9 Ball", Anda semestinya sudah bisa memperkirakan ke mana arah bola dari mulai break, hingga bola "9" dimasukkan.

    Biliar jelas tidak cocok bagi orang yang memiliki prinsip "Bagaimana nanti", atau "Hidup sudah ada yang atur". Dalam biliar, segalanya adalah tentang perencanaan. Saat pebiliar memukul bola "1", sebenarnya para pebiliar tengah berpikir ke mana bola mesti diarahkan agar bisa dengan tepat memasukkan bola "2". Sebab, buat pebiliar tingkat daerah sekalipun, memasukkan bola dari posisi bagaimanapun bukanlah sebuah kesulitan. Yang paling sulit justru menyetel bola putih agar berhenti di tempat yang dikehendaki. Buat pebiliar terlatih, tentu tidak akan sulit buat mereka memasukkan bola "1" sampai bola "9" secara beruntun tanpa kesalahan.

    Hal serupa juga dialami penjaga gawang. Mereka berdiri di paling belakang, sekaligus menjadi pengawal terakhir gawang mereka dari kebobolan. Sepanjang pertandingan, ia memiliki pandangan yang paling luas. Selama itu pula ia mesti memiliki perencanaan yang baik. Saat lawan menyerang, kiper biasanya berteriak kepada bek di depannya untuk melakukan pergerakan untuk menutup peluang lawan mencetak gol.

    Bola-bola umpan silang tentu bukan hal yang terlampau sulit. Pilihannya paling cuma dua: diam di tempat atau maju menghalau bola. Kalau maju menghalau bola pilihannya juga dua; ditangkap atau ditinju.

    Salah satu yang sulit justru menghalau tendangan. Anda tentu tahu "tendangan bayangan" Cristiano Ronaldo yang mirip seperti dalam film kartun. Bola yang melengkung ke kiri, tiba-tiba berubah arah menjadi ke kanan. Sialnya, teknik seperti itu bisa dicontoh pesepakbola mana saja. Ini yang membuat kiper pun akan lebih sulit menebak arah bola.

    Hal paling sulit bisa jadi adalah menahan tendangan penalti. Untuk itu, seringkali tim pelatih atau kiper itu sendiri berinisiatif meriset para penendang: Ke mana biasanya para penendang menempatkan bola. Hal ini jelas bukan sesuatu yang mudah dan mesti ada perencanaan yang matang.

    Mengapa Buffon dan Casillas disebut-sebut sebagai kiper hebat? Apakah karena mereka bermain di tim kuat sehingga jarang mendapat ancaman? Ah, tidak juga. Kesalahan (baca: kebobolan) adalah hal yang paling mungkin dihadapi oleh seorang penjaga gawang. Yang bisa mereka lakukan adalah meminimalisasi hal tersebut agar tak terjadi.

    Bukan Soal Kesempatan

    Menjadi pebiliar hebat bukan seperti bagaimana pelatih menempatkan pemain muda di depan gawang, lalu mempersilakannya mencetak gol debutnya dari titik penalti. Di sepakbola, segalanya terlihat menjadi mungkin. Namun, tidak demikian di biliar.

    Pebiliar muda yang namanya masih asing, kerap jarang membuat kejutan, meskipun mereka selalu mengikuti turnamen. Seperti yang sudah dijabarkan pada poin pertama, diperlukan konsistensi dalam berlatih. Mereka yang paling giat berlatih, berpeluang besar untuk menang. Pasalnya, level satu pebiliar dengan pebiliar lain di tingkat atlet pelatda atau pelatnas umumnya tak berbeda jauh.

    Kalau pelatih menurunkan pemain muda kelas klub dan bertanding dengan atlet pelatda, itu hampir sama saja dengan bunuh diri. Tidak ada yang namanya kesempatan; yang ada adalah belajar dan terus berlatih.

    Saat ditanya siapa pebiliar terbaik untuk tingkat daerah, ayah penulis berpikir sejenak. Ia tidak memberikan satu nama, tapi beberapa; lebih dari lima.

    "Atlet yang mewakili daerah dan berlaga di tingkat PON, tidak cuma harus jago, tetapi mesti siap. Mereka yang turun nanti adalah mereka yang siap untuk meraih medali," begitu kata ayah penulis.

    Di sepakbola, Anda tentu jarang melihat pelatih tiba-tiba mengganti kipernya di tengah pertandingan. Selain itu, pelatih pun umumnya menurunkan penjaga gawang yang itu-itu saja sepanjang hayat.

    Kiper-kiper mesti bekerja keras agar tidak terlalu lama duduk di bangku cadangan. Pasalnya, amat jarang kiper yang mirip seperti Jamie Vardy: tiba-tiba bersinar di usianya yang ke-28 setelah bekerja keras di non-league.

    Anda tentu yakin kalau Casillas lebih hebat dan berpengalaman ketimbang Diego Lopez. Namun, mengapa Jose Mourinho kala itu lebih senang menurunkan Lopez ketimbang Casillas? Bisa jadi ini karena kemampuan keduanya yang tak berbeda jauh. Namun, Mou menganggap kalau Lopez lebih siap untuk bertanding. Atau mungkin juga kalau Mou merasa bahwa gaya bermain Casillas bukanlah seleranya.

    Jarang bermain hingga akhir usia 20-an bisa jadi menjadi akhir karier seorang penjaga gawang. Pun dengan pebiliar, kalau hingga akhir 30-an belum pernah menjadi juara satu turnamen pun, mungkin Anda hanya menjadikan biliar sebagai hiburan dan memang tidak berbakat menjadi atlet. Atau, mending kita sama-sama buat grup band saja?

    sumber
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Item Reviewed: Bukan Soal Kesempatan Tapi yang Ada Hanyalah Belajar dan Terus Berlatih Rating: 5 Reviewed By: Blogger
    Scroll to Top