728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

    Budaya Tionghoa

    BUDAYA CHINESE

    Kata "Imlek" berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti "penanggalan bulan" atau "yinli" dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan "ChunJie" (perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut "Guo nian" (memasuki tahun baru), sedangkan di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan "konyan". Di Indonesia mereka merayakan Tahun Baru Imlek sebagai perayaan hari lahirnya Khong Hu Chu yang lahir di tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan Masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2006, maka tahun Imleknya menjadi 2006 + 551 = 2557.
    Hanya sayangnya di kebanyakan negara lainnya di luar Indonesia, mereka merayakan Tahun Baru Imlek bukannya tahun 2557 melainkan tahun 4643, sebab dalam sejarah tercatat bahwa penanggalan Imlek dimulai sejak tanggal 8 Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Jadi tepatnya ialah 4643 tahun yang lampau, maklum bagi mereka Tahun Baru Imlek hanya berdasarkan perayaan budaya saja, jadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan Khong Hu Chu.
    Apabila orang ingat Imlek otomatis ingat angpau (Hokkian) atau Hong Bao (Mandarin) yang artinya amplop merah berisi uang. Angpau ini bukan hanya digemari oleh anak-anak saja bahkan para pejabat jaman sekarang ini juga senang sekali mendapatkan angpau.

    Konon angpau ini bukan hanya sekedar dapat membawa keberuntungan saja, bahkan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat, sebab uang (qian) secara harfiah berarti dapat "menekan kekuatan jahat" atau "ya sui qian", masalahnya ada roh jahat yang bernama Sui yang selalu hadir setahun sekali untuk mengganggu anak-anak kecil, maka dari itu diusulkan sebagai penangkal roh tersebut, sebaiknya ditaruh koin yang dibungkus dengan kertas merah sebagai tumbal di bawah bantalnya mereka. Maklum unsur api yang membakar pada warna merah dapat melindungi dari pengaruh jahat, sama seperti kalau Dracula lihat salib begitchu.
    Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilaturahmi di hari pertama Tahun Baru Imlek, hanya kaum pria saja, tetapi sekarang adat ini sudah tidak berlaku lagi. Dan yang kudu dikunjungi secara berturut-turut adalah orang tua suami, setelah itu barulah orang tua istri. Lalu ke sanak keluarga lainnya. Perlu diketahui bukan hanya orang Jawa saja yang melakukan adat sungkem, orang Tionghoa juga demikian yang disebut tee-pai.
    Tahun ini adalah tahun Anjing-Api. Budaya Cap Ji Shio/ Chinese Horoscopes adalah kebiasaan bangsa Cina yang menetapkan Tahun Baru Imlek dengan 12 jenis binatang. Untuk semua bayi yang dilahirkan pada tanggal 29 Januari 2006 hingga tahun berikutnya akan memiliki shio anjing. Kebiasaan bangsa China ini sudah bersejarah lebih dari 2000 tahun. Alkisah Sang Buddha memanggil binatang-binatang yang ada di hutan untuk menghadap. Dikisahkan secara berurutan ada 12 binatang yang datang menghadap Sang Buddha, yakni: tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi.

    Walaupun itu mungkin hanya sekedar dongengan belaka. Tetapi anehnya banyak sekali orang yang percaya bahwa nasib seseorang berhubungan erat dengan tahun kelahirannya. Oleh sebab itulah dalam soal mengambil keputusan untuk menikah, 'tahun kelahiran' ini mempunyai pengaruh yang berat. Sebagai contoh sebaiknya lelaki yang lahir pada tahun ayam tidak cocok dengan perempuan yang lahir pada tahun anjing, begitu juga dengan lelaki yang lahir pada tahun naga tidak cocok dengan perempuan yang lahir pada tahun harimau.
    Sedangkan makanan yang berkaitan erat dengan hari raya Tahun Baru Imlek adalah kue keranjang (nian gao). Kata "kue" atau gao memberikan makna yang sama dengan kata dan arti "tinggi", sedangkan kata nian berarti "tahun", jadi secara simbolis diharapkan jabatan maupun kemakmuran semakin tahun dapat naik semakin tinggi. Oleh sebab itulah juga di Kelenteng banyak kueh keranjang yang dijadikan sesajen disusun secara bertingkat.
    Kue keranjang mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang Tahun Baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek. Kue keranjang yang dijadikan sesaji sembahyang ini, biasanya dipertahankan tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15).
    Di malam Tahun Baru Imlek orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

    Disamping itu berdasarkan mitos atau dongeng Dewa yang paling bisa mengetahui keadaan kita di rumah adalah Dewa Dapur "Zao Wang Ye" (Ciao Ong Ya = Hokkian) sebab segala macam gosip banyak disebar-luaskan pada saat sedang kongkouw di dapur. Dari makanan yang disajikan kita bisa mengetahui keadaan keluarga tersebut, apakah mereka keluarga mampu ataukah miskin.
    Setahun sekali sang Dewa Dapur ini pulang mudik cuti untuk sekalian laporan ke Sorga. Sang Dewa Dapur ini terkesan reseh dan bawel, maka dari itu untuk menghindar agar ia tidak memberikan laporan yang ngawur, maka sebaiknya mulutnya disumpal terlebih dahulu dengan "kue keranjang" agar mulutnya jadi lengket dan akhirnya tidak bisa banyak bicara dan kalau bisa bicara sekalipun pasti hanya hal yang manis-manis saja.
    Oleh sebab itulah juga di atas altar dari Dewa Dapur sering diletakkan kertas yang bertuliskan: "Dewa yang mulia, ceritakanlah hanya kebaikan kami saja di langit dan bawalah berkat kembali apabila anda turun dari langit".

    Makanan lainnya yang sering disajikan menjelang Tahun Baru Imlek adalah ikan bandeng, sebab ikan ini melambangkan rejeki. Dalam logat Mandarin, kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti rejeki.
    Selain ikan bandeng yang juga kudu disuguhkan adalah jeruk kuning yang lazim disebut sebagai "jeruk emas" (jin ju). Kalau bisa dicarikan jeruk yang ada daunnya sebab itu melambangkan kekayaannya akan bertumbuh terus.
    Kata "jeruk" dalam bahasa Tionghoa bunyinya hampir sama dengan "Da Ji", sedangkan arti kata dari "Da Ji" itu sendiri berarti besar rejeki.
    Sedangkan untuk buah "apel" (pin guo) mempunyai arti "ping ping an an" sama artinya dengan " Da li" yang berarti besar kesehatannya dan keselamatannya dan untuk buah pear melambangkan kebahagiaan yang artinya " Sun Sun li li".
    Oleh sebab itu ketiga macam buah ini selalu menghiasi meja sembahyangan yang mengartikan " Da Ji Da Li Sun sun li li" = "Besar rejeki, besar kesehatan dan keselamatannya, dan besar pula kebahagiaannya"

    Begitu juga dalam memberikan entah itu uang ataupun barang maupun buah-buah sebaiknya dalam kelipatan dua, jadi angka genap begitu, sebab terdapat sebuah pepatah Tionghoa terkenal yang berbunyi "Hao Shi Cheng Shuang", yang secara harafiah dapat diartikan "semua yang baik harus datang secara berpasangan" .
    Dan agar rejekinya tidak tersapu habis keluar, maka diwajibkan menyembunyikan sapu, karena ada pantangan dimana tidak boleh menyapu dalam rumah pada hari Tahun Baru Imlek dan dua hari sesudahnya.
    Dan sudah barang tentu pada hari raya Imlek sebaiknya pasang petasan, karena ini bisa mendatangkan keberuntungan dan perdamaian sepanjang tahun. Petasan sudah ada sejak dinasti Tang (618-907). Konon menjelang Tahun Baru Imlek sering berkeliaran monster jahat yang bernama Guo Nien, hanya sayangnya monster ini masih kurang sakti, sehingga selalu ngacir ketakutan apabila mendengar bunyi mercon, apalagi kalau melihat cahaya kilat yang keluar dari ledakan mercon tersebut.

    SEJARAH PENANGGALAN IMLEK

    Penanggalan Imlek yang beda tahun! Tahun Baru Imlek ini seharusnya adalah tahun 4643 jadi bukannya tahun 2557
    seperti yang dicantumkan di mana-mana. Perayaan Tahun Baru Imlek (Sienci) atau Tahun Baru Kongfuzius 1 Cia Gwee 2557 menurut penanggalan Masehi jatuh pada tanggal 29 Januari 2006. Tahun Ayam 2005 akan berganti dengan tahun Anjing 2006. Dan Tahun Baru Imlek selalu jatuh antara tanggal 21 Januari sampai dengan 19 Pebruari.
    Dalam sejarah tercatat bahwa penanggalan Imlek dimulai sejak tanggal 8 Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Jadi tepatnya ialah 4643 tahun yang lampau, tetapi kenapa Tahun Baru Imlek sekarang ini disebut tahun 2557?
    Masalahnya sejak penanggalan Imlek dikeluarkan orang Tionghoa dahulu, mereka tidak pernah menghitung tahun, disamping itu Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari dinasti Han (206 SM-220) menetapkan ajaran Kongfuzius (Khong Hu Chu) sebagai agama resmi, dan penanggalan (He Lek) yang dianjurkan oleh Khong Hu Chu inilah yang akhirnya resmi untuk dipakai oleh semua orang, baik masyarakat maupun pemerintahan.

    Tahun pertamanya dihitung mulai dari tahun kelahiran Khong Hu Chu, yaitu tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan Masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun masehi saat ini 2006, maka tahun Imleknya menjadi 2006 + 551 = 2557. Karena dihitung sejak Khong Hu Chu lahir maka tahun Imlek lazim juga disebut sebagai Khongculek.
    Kalender Gregorian atau kalender penanggalan yang dipakai oleh kita pada saat ini berdasarkan hari lahir Tuhan Yesus, maka dari itu juga sering disebut sebagai penanggalan Masehi. Sedangkan tahun penanggalan Imlek berdasarkan hari lahirnya Khong Hu Chu.

    Tahun Baru Imlek muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok. Penanggalan ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut perhitungan musim, peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai iklim, maka penanggalan tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek (penanggalan petani). Hal inilah yang disyukuri petani, karena selain panen, masa itu baik untuk menanam kembali untuk musim berikutnya. Dengan demikian, selain suasana syukur, Imlek juga munculnya harapan baru untuk masa depan (musim) yang lebih baik.
    Oleh sebab itulah dahulu mereka saling mengucapkan selamat tahun baru tersebut dengan ucapan "Sin Cun Kiong Hie" (Xin Chun Gong Xi) yang berarti selamat menyambut musim semi, tetapi ucapan demikian sekarang udah kuno alias tidak trendi lagi, karena telah diganti dengan ucapan "Gong Xi Fa Cai" atau (Kiong Hie Hoat Tjay) yang berarti semoga sukses selalu atau selamat jadi kaya, maklum generasi sekarang lebih ke money oriented begitu.

    Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnam, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari tahun barunya sama. Bahkan di lingkungan agama Buddha sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaan mereka.
    Tahun Baru Khong Hu Chu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold - saat terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Suei) 19 Pebruari (spring showers - hujan musim semi).
    Hanya perlu diketahui, sejak tahun 1912 di Tiongkok sendiri secara resmi menggunakan penanggalan Gregorian seperti di Indonesia. Oleh sebab itu mereka menyebut penanggalan ini sebagai penanggalan Xi Li atau penanggalan dari barat.

    ANGPAU

    Ternyata masih banyak orang Tionghoa yang belum tahu bagaimana seharusnya melakukan soja yang benar. Cara soja yang benar berdasarkan pedoman seharusnya “YANG” memeluk “YIN” atau tangan kanan dikepal kemudian tangan kiri menutupi tangan kanan dan jari jempol harus berdiri lurus, dan menempel keduanya. Soja kepada yang lebih tua dengan mengangkat sejajar mulut, soja kepada yang seumuran sejajar dengan dada, soja kepada yang lebih muda sejajar dengan perut, sedangkan soja kepada para dewa harus sejajar dengan mata, dan kalau soja kepada Tuhan harus di atas kepala.
    Pada saat mang Ucup masih kecil di hari raya Tahun Baru Imlek, kami saling mengucapkan “Sin Cun Kiong Hie” (Xin Chun Gong Xi) yang berarti selamat menyambut musim semi atau selamat tahun baru, tetapi ucapan demikian sekarang udah kuno alias tidak trendi lagi, karena telah diganti dengan ucapan “Gong Xi Fa Cai” atau (Kiong Hie Hoat Tjay) yang berarti semoga sukses selalu atau selamat jadi kaya, maklum generasi sekarang lebih ke money-oriented begitu, dan bagi mereka yang ingin mengucapkan selamat Tahun Baru Imlek dengan kalimat yang lebih afdol lagi lihat text di bawah ini:
    “Gong Xi Fa Cai ­ Wan Shi Ru Yi - Shen Ti Jian Kang” Yang berarti: "Semoga sukses selama-lamanya dan selalu dalam keadaan sehat".

    Tradisi Tahun Baru Imlek selalu dikaitkan pula dengan pemberian angpau. Kata angpau itu sendiri berasal dari dialek Hokkian yang arti harfiahnya adalah bungkusan atau amplop merah. Warna merah itu dalam budaya Tionghoa berarti lambang warna pembawa hokie maupun kegembiraan. Angpau bukan hanya diberikan pada saat Tahun Baru Imlek saja, melainkan lazim juga diberikan pada saat pesta pernikahan, masuk rumah baru, ulang tahun, maupun acara-acara pesta lainnya.
    Yang berkewajiban memberi angpau pada umumnya orang yang telah berkeluarga, sebab dalam budaya Tionghoa, pernikahan itu merupakan batasan antara masa kanak-kanak dan dewasa. Disamping itu orang yang telah menikah, kebanyakan secara ekonomi pasti sudah jauh lebih mapan. Walaupun demikian bagi mereka yang belum menikah, tetapi ingin juga turut memberikan angpau, maka sebaiknya uang tersebut diberikan dengan tanpa menggunakan amplop merah.
    Kewajiban memberi angpau bukan terhadap anak-anak saja, melainkan juga kepada orang yang dituakan. Pemberian angpau pada hari Tahun Baru Imlek itu sendiri sebenarnya mempunyai makna yang lebih dikenal dengan sebutan “Ya Sui” yang berarti hadiah untuk anak-anak dalam rangka pergantian tahun maupun pertambahan usia. Tradisi Ya Sui ini sudah dikenal sejak jaman Ming dan Qing.

    Karakter Sui dalam Ya Sui berarti “umur”, dan ini sebenarnya mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui lainnya yang berarti “bencana”. Jadi, Ya Sui ini bisa juga diartikan sebagai simbol atau lambang untuk penangkal bencana, dengan harapan anak-anak yang mendapatkan hadiah Ya Sui tersebut akan terlindungi selama setahun mendatang dengan tanpa adanya gangguan penyakit maupun bencana.
    Sebenarnya kalau ditelusuri dengan benar, pemberian angpau ini belum dikenal ketika jaman dahulu, sebab mereka baru mengenal dan baru menggunakan uang kertas pada pada jaman dinasti Song dan uang kertas tersebut baru benar-benar menyebar luas secara resmi pada jaman dinasti Ming.
    Nominal uang kecil yang beredar di Tiongkok pada saat itu masih dalam bentuk koin perunggu yang diberi lubang segi empat di tengahnya dan ini lebih dikenal dengan nama Wen atau Tongbao. Koin-koin yang akan dihadiahkan tersebut sebelumnya diikat terlebih dahulu menjadi untaian uang dengan menggunakan tali merah. Orang-orang kaya memberikan untaian uang sampai 100 koin, sebab ini juga melambangkan umur panjang.

    MAKNA SIMBOLIK HIDANGAN IMLEK

    Hari Raya Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar ritual tahunan biasa dan budaya saja, tetapi juga merupakan budaya yang sekaligus menyatu dengan kepercayaan, walaupun demikian bagi mereka yang berbeda agama, maka mereka bisa turut merayakan hanya dari sudut budayanya saja. Disamping itu tidak ada salahnya untuk menambah wawasan pengetahuan kita mengetahui makna simbolik dari hidangan makanan yang disajikan pada hari raya tersebut. Sama seperti makanan untuk upacara adat atau keagamaan lainnya, makanan khas Tahun Baru Imlek juga sarat dengan berbagai macam makna simbolik.
    Berdasarkan kepercayaan orang-orang Tionghoa yang kaya pada umumnya selalu menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti yang berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan. Walaupun demikian bagi mereka yang tidak mampu, maka cukup dengan makan mie panjang umur (siu mie).

    Saat merayakan Tahun Baru Imlek kebanyakan orang Tionghoa membuat Samseng (artinya: tiga macam daging kurban) yang terdiri dari tiga jenis macam binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi. Pada dasarnya samseng ini melambangkan tiga unsur alam yaitu: langit, bumi, dan air, karena adanya tiga unsur alam inilah kita bisa hidup.
    Tetapi akhirnya tujuan samseng ini juga dikembangkan sebagai perlambang sifat hewan, agar kita sebagai manusia tidak meniru tabiat yang dilakukan oleh ketiga jenis hewan tersebut. Babi pemalas, karena kerjanya hanya makan dan tidur. Ayam yang suka pindah-pindah pada saat makan, sehingga ketika makanan yang ada di depan matanya belum habispun sudah mau pindah lagi ke tempat lain atau melambangkan sifat yang serakah. Lain halnya dengan ikan bandeng, karena kulit ikan itu bersisik maka hal ini bisa diumpamakan seperti seekor ular, dengan pengertian agar kita jangan berlaku jahat pada orang lain seperti ular.

    Namun ada juga yang menghubungkan ikan sebagai perlambang rejeki, karena dalam logat Mandarin kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti rejeki. Oleh sebab itu di banyak restoran Tionghoa terutama di Holland selalu ada akuarium ikan mas yang melambangkan rejeki yang dilumuri dengan emas yang berjibun.
    Disamping itu seperti juga pada saat merayakan pesta hari ulang tahun, mie juga merupakan satu makanan wajib, sebab mie itu melambangkan panjang umur terutama Siu Mie / Shou Mian = "Mie panjang umur". Mie ini harus disajikan tanpa putus dari ujung awal ke ujung akhir, jadi benar-benar merupakan satu untaian mie, sebab dengan demikian diharapkan umur kita pun tidak akan putus-putusnya alias manjang terus. Walaupun demikian pada saat mau disantap, mie tersebut boleh dipotong, maklum apabila saatnya tiba toh akhirnya usia manusia tersebut akan putus juga.
    Kueh keranjang atau Nian Gao atau lebih sering disebut kue keranjang (tii kwee) adalah kue wajib Imlek. Kue ini mendapat nama dari cetakannya yang terbuat dari keranjang. Nian sendiri berarti tahun dan Gao berarti kue, juga terdengar seperti kata tinggi. Oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rejeki atau kemakmuran. Pada jaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

    Kue-kue yang disajikan pada hari raya Tahun Baru Imlek pada umumnya ada jauh lebih manis daripada biasanya, sebab dengan demikian diharapkan di tahun mendatang jalan hidup kita bisa menjadi lebih manis lagi daripada di tahun-tahun sebelumnya.
    Kue wajib lainnya adalah kue lapis legit (spekkoek) sebagai perlambang datangnya rejeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang akan datang, sehingga dengan demikian bisa dapat merasakan kehidupan yang lebih manis dan lebih legit lagi. Kue lapis legit yang sering juga disebut sebagai "Thousand Layer Cake", walaupun memang benar menggunakan mentega dari Belanda (roomboter), tetapi orang-orang di Belanda sendiri tidak mengenal kue itu. Mungkin perkataan "spek" ini diambil dari bahasa Belanda yang berarti lapisan lemak babi (bacon = bahasa Inggris), karena bentuknya mirip spek.
    Buah-buahan wajib yang sudah pasti adalah pisang raja atau pisang mas yang melambangkan emas atau kemakmuran. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya sebab ini melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. Sedangkan tebu melambangkan kehidupan manis yang panjang. Walaupun demikian harus dihindari buah-buahan yang berduri seperti salak atau durian, terkecuali nanas karena namanya Wang Li yang ucapannya mirip dengan kata Wang (berjaya), disamping itu nanas juga bisa dilambangkan sebagai mahkota raja.

    Selain buah-buahan, dianjurkan juga untuk makan manisan seperti kolang kaling agar pikiran bisa menjadi jernih terus dan juga agar agar yang sebaiknya disajikan dalam bentuk bintang agar kehidupan maupun jabatannya di masa yang akan datang bisa menjadi lebih terang dan bersinar.
    Selain makanan yang wajib disajikan, ada juga makanan yang sebaiknya dihindari atau dipantangkan seperti bubur, sebab ini melambangkan kemiskinan atau kesusahan. Maklum pada saat musim kelaparan di Tiongkok, mereka tidak bisa menyajikan nasi. Disamping itu makanan-makanan yang berasa pahit seperti pare dan fumak sebaiknya ini juga dihindari sebab makanan tersebut melambangkan kepahitan hidup.

    ASAL MUASAL CAPGOME

    Capgome adalah lafal dialek Tio Ciu dan Hokkian. Artinya malam ke limabelas, sedangkan lafal dialek Hakka "Cang Njiat Pan" artinya pertengahan bulan satu. Di daratan Tiongkok dinamakan "Yuan Xiau Jie" dalam bahasa Mandarin, artinya "Festival malam bulan satu". Capgome mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Semasa dinasti Han, pada malam Capgome tersebut, raja sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dengan rakyatnya.
    Setiap hari raya baik relijius maupun tradisi budaya ada asal-usulnya. Pada saat dinasti Zhou (770 - 256 SM) setiap tanggal lima belas malam bulan satu Imlek, para petani memasang lampion-lampion yang dinamakan "Chau Tian Can" di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakuti binatang-binatang perusak tanaman.
    Memasang lampion-lampion selain bermanfaat mengusir hama, kini tercipta pemandangan yang indah di malam hari tanggal lima belas bulan satu. Dan untuk menakuti atau mengusir binatang-binatang perusak tanaman, mereka menambah dengan segala macam bunyi-bunyian serta bermain barongsai, agar lebih ramai dan bermanfaat bagi petani. Kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun temurun, baik di daratan Tiongkok maupun di perantauan di seluruh dunia. Ini adalah salah satu versi dari mana asal muasalnya Capgome.

    Di negara barat sendiri Capgome dinilai sebagai pesta karnavalnya etnis Tionghoa, karena adanya pawai yang pada umumnya dimulai dari kelenteng. Kelenteng adalah penyebutan secara keseluruhan untuk tempat ibadah "Tri Dharma" (Buddhism, Taoism, dan Confuciusm). Nama kelenteng sekarang ini sudah diubah menjadi Vihara yang sebenarnya merupakan sebutan bagi rumah ibadah agama Buddha. Hal ini terjadi sejak pemerintah tidak mengakui keberadaan agama Khong Hu Chu sebagai agama.
    Sedangkan sebutan nama kelenteng itu sendiri bukannya berasal dari bahasa Tionghoa, melainkan berasal dari bahasa Jawa, yang diambil dari perkataan "kelintingan" - lonceng kecil. Karena bunyi-bunyian inilah yang sering keluar dari kelenteng, sehingga mereka menamakannya kelenteng. Orang Tionghoa sendiri menamakan kelenteng itu, sebagai Bio baca Miao. Wen Miao adalah bio untuk menghormati Confucius dan Wu Miao adalah untuk menghormati Guan Gong.

    Capgome juga dikenal sebagai acara pawai menggotong joli Toapekong untuk diarak keluar dari kelenteng. Toapekong (Hakka = Taipakkung, Mandarin = Dabogong) berarti secara harfiah eyang buyut untuk makna kiasan bagi dewa yang pada umumnya merupakan seorang kakek yang udah tua. "Da Bo Gong" ini sebenarnya adalah sebutan untuk para leluhur yang merantau atau para pioneer dalam mengembangkan komunitas Tionghoa. Jadi istilah Da Bo Gong atau Toapekong itu sendiri tidak dikenal di Tiongkok.
    Capgome tanpa adanya barongsai dan liong (naga) rasanya tidaklah komplit. Tarian barongsai atau tarian singa biasanya disebut "Nong Shi".
    Sedangkan nama "barongsai" adalah gabungan dari kata Barong dalam bahasa Jawa dan Sai = Singa dalam bahasa dialek Hokkian. Singa menurut orang Tionghoa ini melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan.

    Ada dua macam jenis macam tarian barongsai yang satu lebih dikenal sebagai Singa Utara yang penampilannya lebih natural sebab tanpa tanduk, sedangkan Singa Selatan memiliki tanduk dan sisik jadi mirip dengan binatang Qilin (kuda naga yang bertanduk).
    Seperti layaknya binatang-binatang lainnya juga, maka barongsai juga harus diberi makan berupa angpau yang ditempeli dengan sayuran selada air yang lazim disebut "Lay See". Untuk melakukan tarian makan laysee (Chai Qing) ini para pemain harus mampu melakukan loncatan tinggi, sehingga ketika dahulu para pemain barongsai, hanya dimainkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan silat - "Hokkian = kun tao" yang berasal dari bahasa Mandarin Quan Dao (kepala kepalan atau tinju), tetapi sekarang lebih dikenal dengan kata "Wu Shu", padahal artinya Wu Shu sendiri itu adalah seni menghentikan kekerasan.
    Di depan barongsai selalu terdapat seorang penari lainnya yang menggunakan topeng sambil membawa kipas. Biasanya disebut Shi Zi Lang dan penari inilah yang menggiring barongsai untuk meloncat atau bermain atraksi serta memetik sayuran. Sedangkan penari dengan topeng Buddha tertawa disebut Xiao Mian Fo.
    Pada awalnya tarian barongsai ini tidak pernah dikaitkan dengan ritual keagamaan manapun juga, tetapi akhirnya karena rakyat percaya, bahwa barongsai itu dapat mengusir hawa-hawa buruk dan roh-roh jahat. Jadi budaya atau kepercayaan rakyat itulah yang akhirnya dimanfaatkan atau bersinergi dengan lembaga keagamaan.

    Walaupun demikian pada saat sekarang ini sudah ada aliran modern lainnya yang tidak mengkaitkan dengan upacara keagamaan sama sekali, karena mereka menilai barongsai hanya sekedar asesories untuk nari atau media entertainment saja, seperti juga halnya dengan payung untuk tari payung, atau topeng dalam tarian topeng.
    Barongsai sebenarnya sudah populer sejak jaman periode tiga kerajaan (Wu, Wei dan Shu Han) tahun 220 - 280 SM. Pada saat itu ketika raja Song Wen sedang kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Panglimanya yang bernama Zhing Que mempunyai ide yang jenius dengan membuat boneka-boneka singa tiruan untuk mengusir pasukan gajah raja Fan. Ternyata usahanya itu berhasil sehingga sejak saat itu mulailah melegenda tarian barongsai tersebut hingga kini.
    Tarian naga (liong) disebut "Nong Long". Binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala unta, bertaring serigala dan bertanduk menjangan.

    Naga di Tiongkok dianggap sebagai dewa pelindung, yang bisa memberikan rejeki, kekuatan, kesuburan dan juga air. Air di Tiongkok merupakan lambang rejeki, karena kebanyakan dari mereka hidup dari bercocok tanam, maka dari itu mereka sangat menggantungkan hidupnya dari air. Semua kaisar di Tiongkok menggunakan lambang naga, maka dari itu mereka duduk di singgasana naga, tempat tidur naga, dan memakai pakaian kemahkotaan naga. Orang Tionghoa akan merasa bahagia apabila mendapatkan seorang putera yang lahir di tahun naga.
    Kita bisa melihat apakah ini naga lambang dari seorang kaisar ataukah bukan dari jumlah jari di cakarnya. Hanya kaisar yang diperkenankan menggunakan gambar naga dengan lima jari di cakarnya, sedangkan untuk para pejabat lainnya hanya empat jari. Bagi rakyat biasa yang menggunakan lambang naga cakarnya hanya boleh memiliki tiga jari saja. Naga itu memiliki tiga macam warna, hijau, biru dan merah. Dari warna naga tersebut kita bisa melihat kesaktiannya, naga warna kuning adalah naga yang melambangkan raja.
    Naga juga dijadikan lambang untuk mencapai sukses, diperlukan keuletan, kegigihan dan kesabaran. Laksana seekor naga yang mengejar mutiara tak pernah lelah dan tak pernah menyerah. Adapun kepala seekor naga melambangkan seorang pemimpin sementara badannya adalah aparatur atau pembantu, dan ekor melambangkan rakyat atau pengikutnya.

    Pada umumnya untuk tarian naga ini dibuatkan naga yang panjangnya sekitar 35 Masehi dan dibagi dalam sembilan bagian, tetapi ketika mereka menyambut tahun baru millennium di Tiongkok pernah dibuat naga yang panjangnya 3.500 meter dan dimainkannya di atas Tembok Besar Tiongkok.
    Naga tidak selalu dihormati, sebab apabila ada musim kemarau berkepanjangan, maka para petani mengadakan upacara menjemur naga yang dibuat dari tanah liat untuk membalas dendam atau mendemo sang Naga yang tidak mau menurunkan hujan, seakan-akan kaum tani tersebut ingin menyatakan "rasain lho kering dan panasnya musim kemarau ini!".
    Terutama di Jakarta dan sekitarnya rasanya kurang komplit apabila pawai Capgome ini tanpa di iringi oleh para pemain musik "Tanjidor" yang menggunakan instrumen musik trompet, tambur dan bajidor (bedug). Orkes ini sudah dikenal sejak abad ke 18. Konon Valckenier gubenur Belanda pada saat itu sudah memiliki rombongan orkes tanjidor yang terdiri dari 15 orang pemain musik. Tanjidor biasanya hanya dimainkan oleh para budak-budak, oleh sebab itulah musik Tanjidor ini juga sering disebut sebagai "Sklaven Orkest".
    Masyarakat Tionghoa di Semarang merayakan Capgome dengan menyajikan makanan "lontong capgome" yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate dan sambal. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai.

    SEMBAHYANG UNTUK ARWAH

    Bagi Chinese, ada tradisi menyembahyangi kerabat yang sudah meninggal pada bulan tertentu, atau lebih dikenal dengan sebutan "ceng beng".
    Hari Ceng Beng tanggal 5 April ­ hari raya mengunjungi kuburan. Tradisi besuk orang mati ini bukan hanya berlaku bagi orang Tionghoa saja, tetapi saudara kita juga melakukan hal yang sama setidaknya pada hari-hari menjelang bulan Ramadan, tradisi bersih-bersih makam atau nyadran dengan diikuti laku "nyekar" (tabur bunga) atau ziarah kubur, masih menjadi bagian tradisi spiritual.
    Di Eropa juga mereka melakukan hal yg sama sebagai contoh di Jerman hari Ceng Beng mereka itu disebut Totensonntag (Minggu orang mati), karena selalu dirayakan pada hari Minggu terakhir sebelum Minggu Advent pertama (21 Nopember 2004). Mereka melakukan ini bukannya merupakan tradisi Kristen, melainkan berdasarkan amanat dari Raja Friedrich Wilhelm III pada tahun 1816.

    Ceng Beng itu adalah ungkapan dalam dialek Hokkian, sedangkan dalam bahasa resminya disebut Ching Ming (bersih - terang) jadi Ceng Beng itu mengandung makna Bersih dan Terang. Maklum suasana di kuburan pada umumnya angker menyeramkan, sepi dan suram bahkan terkesan menakutkan, tetapi di hari raya Ceng Beng mereka merubah menjadi bersih dan terang. Sebab hari-hari tersebut mereka melakukan pembersihan dan perbaikan di makam sanak keluarga mereka.
    Setelah bersih di atas kuburan batu bongpai (nisan), mereka meletakkan lembaran kertas perak yang lazim disebut Gin Chua dan kertas-kertas kecil lainnya yang berwarna putih dan kuning. Upacara ini disebut Tek Chua atau peletakan kertas, setelah itu dilanjutkan dengan upacara sembahyang sederhana untuk menghormati, mengenang sanak keluarga mereka yang telah meninggal sebelumnya.

    Tradisi Ceng Beng ini timbul atas perintah dari kaisar Chu Goan Chiang, masalahnya ortu dari kaisar tersebut sebenarnya adalah petani miskin. Karena kemiskinannya sehingga mereka terpaksa harus memberikan anaknya ke sebuah vihara (kelenteng), sehingga akibatnya sang kaisar tidak tahu lagi dimana letak kuburan maupun asal usul dari orang tuanya. Untuk memudahkan mencari makam orangtuanya maka sang kaisar memerintahkan seluruh rakyatnya untuk membersihkan kuburan sanak keluarganya. Apabila makam tersebut telah dibersihkan, maka mereka diwajibkan memberi tanda di atas bongpainya (batu nisan) dengan meletakkan lembaran kertas kecil yang warna-warni. Jadi sebenarnya menyebarkan kertas warna-warni itu bukannya demi kebaikan sang arwah ataupun berdasarkan kepercayaan tertentu, melainkan berdasarkan perintah dari sang kaisar.
    Setelah perintah membersihkan kuburan tersebut selesai dilaksanakan, kaisar Chu tinggal melihat dan mencari makam mana yang belum dibersihkan dan belum diberi tanda dengan lembaran kertas warna-warni. Akhirnya ditemukanlah dua buah kuburan yang saling berdekatan dan belum dibersihkan, dan kaisar Chu Goan Chiang yakin bahwa itulah makam dari kedua orangtuanya. Dari situlah dimulainya tradisi ceng-beng itu turun temurun sampai dengan saat ini. Apalagi ini sesuai dengan ajaran Sang Buddha Gautama yang mewajibkan setiap anak untuk selalu memperingati dan mengadakan upacara bagi leluhur untuk menghormati mereka yang telah meninggal.

    Banyak orang Kristen mengharamkan budaya Tionghoa yang dianggap menyembah leluhur (orang mati), tetapi di lain pihak mereka tetap saja munafik dengan mengadakan doa sembahyangan pada hari ke 40, seratus hari, setahun atau seribu hari. Kalau tidak percaya bacalah iklan-iklan di berbagai macam koran, berapa banyak orang Kristen yang pasang iklan dengan istilah “In Memoriam” dengan ditambah berbagai macam ayat-ayat dari Alkitab, apakah ini bukannya sama seperti mengenang dan menghormati leluhur yang telah meninggal?
    Berziarah ke kuburan bukan hanya dilakukan oleh umat agama tertentu saja, hampir semua agama menghalalkan berziarah ke kuburan. Umat Kristen juga banyak yang berziarah ke kuburan orang-orang kudus. Salah satu kuburan beken tempat berziarah yang telah ditentukan oleh para uskup ialah Santiago Compostella (Makam Santo Yakobus).
    Dan berapa banyak sudah umat Katolik yang pergi berziarah ke makam Rasul Petrus di Vatikan. Perlu diketahui meskipun Rasul Petrus meninggal di Roma, tetapi tidak diketahui dimana tepatnya letak makamnya. Pada tahun 315, kaisar Romawi, Konstantinus, membangun gereja yang altarnya konon tepat berada di atas makam Santo Petrus yang akhirnya menjadi Basilika Santo Petrus, seperti yang kita kenal sekarang ini.

    Pada awalnya mereka tidak yakin 100% apakah benar di sini letak makam dari Rasul Petrus, tetapi sekitar 1500 tahun kemudian, dengan diawali oleh sebuah peristiwa kecelakaan seorang pekerja tahun 1939, mereka mulai mencari dan menggalinya kembali, dan baru pada tahun 1958 makam Rasul Petrus akhirnya ditemukan di salah satu Catakombe (Catacomb) dan letaknya persis di bawah altar yang terletak di bawah kubah Santo Petrus, Vatikan. Salah satu tulisan yang diukirkan di sana berbunyi: "Petrus berbaring di dalam sini". Tidak bisa tidak, kita pasti akan teringat akan kata-kata Yesus pada Matius 16:18 yang berbunyi: Dan Akupun berkata kepadamu: "Engkau adalah Petrus (bahasa Aram: Kefas), dan di atas batu karang (bahasa Aram: Kefas) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku. Disamping itu berapa puluh juta sudah umat Kristen yang khusus pergi berziarah ke makam Tuhan Yesus di Yerusalem.

    CHINA BANANA

    Perkenalkan nama saya Nana Kasna, tapi kalo di kampung saya lebih dikenal dengan nama Bah Nana, maklum saya sudah tidak memiliki nama Tionghoa lagi, begitu juga dengan anak-anak saya. Satu-satunya yang mungkin masih berbau Tionghoa adalah nama keluarga saya Kasna yang berarti „beKAS chiNA“. Dari segi penampilan jelas tidak mungkin bagi saya untuk bisa mengakui sebagai pribumi asli, sehingga dengan setiap orang juga tahu bahwa saya ini adalah peranakan Tionghoa. Tetapi kalau saya jujur, itu hanya dari segi penampilan kulit luarnya saja, dimana saya layak disebut Tionghoa, selebihnya dari itu tidak ada!
    Sehingga dengan mana bukan namanya saja „Bah Nana“, melainkan perasaan saya pun sudah seperti Banana alias pisang tulen, dimana hanya kulit luarnya saja yang kuning, tetapi dalamnya putih atau kosong tidak memiliki identitas maupun pengetahuan tentang bahasa maupun budaya Tionghoa. Memang harus diakui bahwa saya ini keturunan Tionghoa, sayangnya hanya sebagai bangsa „China Banana“ saja.

    Saya tidak mengerti bahasa Tionghoa, boro-boro nulis, ngomong saja tidak bisa. Beberapa kata yang saya ketahui itupun saya pelajari dari buku cersilnya Kho Ping Hoo. Tokoh-tokoh Tionghoa yang saya kenalpun hanya sebatas Jacky Chan dan Bruce Lee saja. Memang saya pengagum berat budaya Tionghoa, tetapi hanya sebatas pencinta film-film cersil saja. Jadi tokoh seperti Yoko atau Siauw Liong Lie bagi saya tidaklah asing. Begitu juga dengan jenis makanan Tionghoa, seperti Ku Lu Yuk maupun Puyonghai. Begitu juga dengan hari raya penting yang tak pernah terlupakan seperti Imlek dan Capgome, berikut tradisi angpao dan kue keranjangnya.

    Mungkin banyak yang menilai bahwa tokoh fiktif saya ini, Babah Nana itu sih „Wong Kam Pung“ tulen yang tidak berpendidikan. Jadi wajarlah kalau pengetahuannya jongkok, tetapi bagaimana dengan diri anda sendiri, berapa banyak yang anda ketahui tentang tradisi maupun budaya Tionghoa.
    Mang Ucup sendiri menguasai bermacam-macam bahasa asing mulai dari Inggris, Belanda sampai dengan Jerman. Bahkan pernah mempelajari bahasa Ibrani maupun Yunani, tetapi sayangnya bahasa Mandarin atau bahasa leluhur sendiri tidak pernah saya pelajari, walaupun nama saya sebenarnya adalah Nio Tjoe Siang. Jadi keturunan Tionghoa tulen bahkan putera-putera maupun cucu-cucu saya semuanya memakai nama Tionghoa.

    Kita mengenal banyak sekali pujangga Barat mulai William Shakespeare sampai dengan Victor Hugo. Bahkan para pemenang Nobel Sastra mulai dari Ernest Miller Hemingway sampai dengan Guenter Grass, tetapi kalau ditanya tentang pujangga atau penulis Tionghoa jarang ada yang tahu, mungkin hanya sebatas Khong Hu Chu atau Lao Tze saja, sedangkan bagi mereka yang tinggal di negara barat mungkin juga pernah membaca buku karangannya dari Amy Tan (Tan En Mei).
    Pernahkan anda membaca buku „Soul Mountain“ karangan dari Guo Xingjian, sastrawan Tionghoa yang telah memenangkah Hadiah Sastra Nobel di tahun 2000 dan juga mendapatkan penghargaan „Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres” dari pemerintah Perancis? Atau buku „The Family“ karangan dari almarhum Ba Jin salah satu pujangga Tionghoa yang bukunya banyak sekali dibaca, bahkan ia juga adalah pengarang buku anak-anak seperti „The Immortality Pagoda“.

    Tetapi kebalikannya, saya yakin banyak dari kita sudah pernah membaca hasil karyanya atau minimum melihat filmnya dari Chin Yung seperti Sin Tiauw Hiap Lu ( Memanah Burung Rajawali) atau To Liong Too (Golok Pembunuh Naga).

    Begitu juga kita mengenal banyak sekali pelukis maupun hasil karyanya, mulai dari Basuki Abdullah, Rembrandt, Dalli sampai dengan Piccaso, tetapi sayangnya tidak tidak pernah mengenal pelukis Tionghoa seperti Qí Báishí yang hasil karyanya bisa dilihat di  www.chinapage. com/qibai/ qibai.html
    Orang Tionghoa itu harus seperti jeruk; kulitnya kuning, isinyapun seharusnya tetap kuning juga. Bahkan jeruk merupakan lambang kekayaan sebagai emas, dimana pada setiap hari raya Tahun Baru Imlek orang saling memberikan jeruk, dan kalau bisa yang masih ada daunnya dengan mengharapkan hokie dan rejeki di tahun mendatang akan tumbuh. Dan “Kuning” adalah warna simbolik juga bagi bangsa Tionghoa, karena mereka mendiami tanah air Huang Tu Di = tanah kuning seluas hampir 10.000 km.

    Kaisar negara Tiongkok pertama lebih dikenal dengan nama Huang Di = Kaiser Kuning menurut para sejarawan, karena ia berasal dari tanah kuning tersebut. Bagi orang awam yang tidak mendalami Sinologi, penjiwaan budaya “tanah kuning” masih jelas tampak pada istilah-istilah bahasa Mandarin, yang memadukan “kuning” untuk mempertegas arti kata seperti tanah kuning, sungai kuning, kulit kuning, beras kuning, kacang kuning, jubah kuning (jubah kebesaran kerajaan), istana kuning bahkan alam bakapun disebut sebagai “alam kuning”.

    Maka tidaklah salah kalau saya mengharapkan bangsa Tionghoa dimanapun ia berada agar tetap seperti jeruk, dimana kulitnya kuning dan isinyapun tetap kuning dan tidak berubah menjadi buah pisang, kulitnya kuning, tetapi isinya telah berubah menjadi putih semuanya menjadi bangsa China Banana!

    FATWA HARAM IMLEK


    Pada saat menjelang hari raya Tahun Baru Imlek, bermunculan "badut-badut Kristen", yang memberikan fatwa, bahwa turut merayakan hari Tahun Baru Imlek itu haram bahkan dosa! Dan lucunya para "badut-badut Kristen" tersebut kebanyakan datangnya dari golongan etnis Tionghoa sendiri. Oleh sebab itulah mang Ucup menilai bahwa mereka ini memiliki berkepribadian ganda atawa kepribadian terpecah (split personality) ala Dr. Jekyl & Mr. Hyde, atau dalam bahasa Inggris disebut - Golongan "Christian Go-Block"! Kenapa demikian?

    Sejak brol lahir sampai dengan masuk liang lahat sekalipun, mang Ucup tetap azah keturunan Tionghoa, padahal sudah puluhan tahun bermukim di Eropa dan jadi WN Jerman, tetapi tetap azah tidak bisa berubah jadi bule tuh, begitu juga dengan selera! Perut owe menuntut harus ketemu nasi setiap hari. Disamping itu, warna kulit maupun mata owe juga tidak pernah bisa robah tuh, walaupun di paspor udah dinyatakan jadi WN Jerman tulen sejak 30 tahun. Mungkin karena dari sononya bukan Shio Ular ngkali!
    Begitu juga dengan agama yang saya anut adalah Kristen, walaupun sudah dimandi celup bahkan dibilas berkali-kali, tetap azah warna kulit saya tidak pernah bisa berubah sedikit pun juga, begitu juga dengan nama di paspor tetap azah sama Nio Tjoe Siang.

    Padahal pendeta saya udah menyatakan dan mem-brain washing saya, bahwa sebenarnya saya ini udah lahir baru, hanya sayangnya wajah maupun warna kulit saya tidak pernah bisa berubah jadi mirip seperti Oom Yudas, padahal ia itu adalah rasul idolanya mang Ucup tuh.

    Apakah kalau saya sudah jadi Kristen, berarti saya diwajibkan untuk mengingkari leluhur saya? No Way!
    Apakah karena saya sudah jadi orang Kristen berarti saya diwajibkan untuk melupakan tradisi maupun kebudayaan saya, dimana Tahun Baru Imlek diganti oleh Hari Tahun Baru Yahudi Rosh Hashanah pada tanggal 23 September yang akan datang? Tidak! Kalo kagak percaya, kudu baca tuh Alkitab, jangan hanya sekedar dijadikan buat pengganjel pintu doang.

    Hai Yudas, lu boleh dimandiin, dicelup dan di bilas ribuan kali, bahkan dimasukin ke mesin cuci dengan rinso Anti Noda sekalipun, warna kulit lu jangan harap bisa berobah, terkecuali kalo kulit lu mo dibeset jadi bangkong suikeh eh maksud saya seperti si ireng Mikel Jekson.

    Agama itu mirip pakaian, semua orang dilahirkan dalam keadaan telanjang, tidak ada satu manusiapun yang dilahirkan sebagai pemeluk agama tertentu. Mang Ucup dilahirkan bukan sebagai Kristen, melainkan sebagai seorang keturunan etnis Tionghoa, setelah lewat setengah abad baru jadi penganut agama Kristen.
    Dan agama apapun yang mereka anut, setiap saat apabila kurang cocok bisa azah dilepas dan diganti seperti juga dengan pakaian, tetapi warna kulit maupun orang tua kita tidak akan bisa diganti, sampai kita modyaaar sekalipun, ini akan tetap sama terus.

    Tapi mang, kata Pendeta Gw, kalo merayakan Tahun Baru Imlek, itu sama azah seperti juga main mata ato berselingkuh dengan si setan sehingga nantinya bisa-bisa lu dikirim ke Giam Lo Ong untuk dipanggang sampai gosong dan dijadikan Samseng di sana.

    Itu namanya monapik tingkat 12 alias udah 'nggak ketulungan lagi geblek-nya, renungkanlah dengan akal sehat anda, lebih dari 80% manusia di kolong langit ini merayakan pesta tahun baru pada tanggal 1 Januari 2006, tanpa pernah ada yang mo mikirin pake jidatnya, bahwa tanggal 1 bulan 1 itu adalah kalender Masehi atau kalendernya umat Kristen, sampai komplit dibubuhkan perkataan Masehi segala macam!
    Tetapi kenyataannya, tidak ada penganut agama di dunia ini yang mengharamkan atau merasa ketakutan umatnya menjadi Kristen, karena turut merayakan Tahun Baru Masehi, entah mereka itu penganut agama Hindu, Buddha maupun Islam Fundamentalis sekalipun juga, kok wong Kristen ketakutan banget sih? Bahkan di Tiongkok yang anti Kristen sekalipun sejak tahun 1912, mereka secara resmi sudah menggunakan penanggalan Masehi, tanpa adanya phobie dikristenisasikan!

    Apakah Allah-nya umat Kristen kurang pe-de ato kurang sakti sehingga ketakutan umatNya digaet oleh aliran agama lain, gara-gara hanya mo merayakan Tahun Baru Imlek? Apakah para sesepuh Kristen itu wong Paranoid semua yang sudah saatnya harus dipindahkan ke RS Jiwa Grogol?
    Kita jangan bicara juta lagi, sebab perkataan juta itu udah ora laku lagi Mas, terutama bagi para koruptor, kita bicara nilai M azah ato Milyar. Berapa milyar manusia di kolong langit ini, yang setiap tahunnya turut merayakan Tahun Baru Masehi tanpa mempunyai praduga secuil pun juga untuk dikristenisasikan, karena mereka turut merayakan pesta Tahun Baru Masehi tersebut.

    Tidak pernah tersirat sedikit pun juga di dalam benak mereka, bahwa pada saat merayakan tahun baru tanggal 1 Januari 2006, bahwa ini ada kaitannya dengan Yesus, termasuk orang Kristen-nya sendiri! Tetapi kok aneh bin lucu, begitu kita mau merayakan Tahun Baru Imlek ato tahun kelahirannya Khong Hu Chu ini menjadi satu polemik ato permasalahan berat?
    Setelah kita lahir baru menjadi orang Kristen, apakah identitas saya sebagai orang Tionghoa kudu turut dihapus, dilupakan bahkan dikubur? Apakah sebagai orang Kristen kita harus melupakan budaya maupun leluhur kita?
    Apakah sesudah menjadi wong Kristen saya harus menjadi wong Londo yang berbudaya kebaratan ato menjadi wong Yahudi untuk mengikuti budaya dan tradisi mereka, sehingga semua yang berbau budaya Tionghoa seperti Imlek harus di delete dan tidak boleh dirayakan lagi, sebab sudah difatwa haram, sehingga boro-boro merayakan Imlek, makan bacang dan ronde azah udah difatwa haram.

    Aneh bin nyata banyak orang Kristen Tionghoa yang menilai hari Raya Imlek itu haram, tetapi kebalikannya kenapa mereka mo turut merayakan "Valentine-day" , "Thanksgiving Day", bahkan "Halloween". Mereka merasa untuk menjadi seorang Kristen yang baik diwajibkan untuk melupakan budaya leluhurnya yang sudah ribuan tahun turun temurun usianya, tetapi tanpa ada rasa canggung sedikitpun juga mereka turut merayakan budayanya wong bule. Malu atuh euuuuy!

    Hitler telah berusaha untuk menghancurkan budaya dan etnis Yahudi dengan membantai lebih dari enam juta orang Yahudi. Apakah mungkin ada baiknya bagi para Kristen Bodor ini, perkataan Haleluyah dirubah saja menjadi Heil Hitler? Dan daripada pergi berziarah ke Yerusalem sebaiknya pergi ke Auschwitz sono? Haiyaaa..... .......

    * Wang U Chup (Mang Ucup) - By Race I am Chinese and By Grace I am Christian
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Item Reviewed: Budaya Tionghoa Rating: 5 Reviewed By: Blogger
    Scroll to Top