728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

    Jatuhnya Sang Raja Bundesliga

    Kejatuhan Sang Raja Bundesliga

    Sepanjang hidupnya Uli Hoeness dikenal sebagai figur yang tegas dan bertangan besi. Mau tak mau ia dituntut untuk seperti itu. Membangun satu dinasti di negara seperti Jerman memang butuh orang yang tak lembek, tak menye-menye, dan tak kenal kompromi. Butuh orang seperti Hoeness.

    Tapi malam itu, di sebuah kota kecil 70 km dari Munich, ia mendadak lesu. Raut wajahnya pun teramat kuyu. Kegarangannya seolah lenyap, menguap bersama udara malam Tegesse, kota kediamannya dan istrinya, Susi.

    Bagaimana tidak. Malam itu Hoeness, yang dikenal sebagai jiwa dan hatinya Bayern Munich, ditetapkan sebagai tersangka. Akal bulusnya untuk mengelabui otoritas pajak ternyata ketahuan. Hoeness pun digiring setelah pengadilan menghukumnya 3,5 tahun mendekam di bui.

    Tepat sehari setelah ia ditetapkan sebagai terdakwa, digelarlah pesta perpisahan antara dirinya dengan Bayern Munich, karena Hoeness memang telah memilih mundur sebagai presiden. Pesta tragis pertanda putusnya hubungan antara Bayern dan Hoeness yang sudah terjalin hampir 44 tahun lamanya.

    Ini waktu yang teramat lama bukan? Maka wajar saja jika ketika sayonara diucapkan, Hoeness pun menangis tersedu-sedu. Sosok yang garang ini menjadi seperti bocah bayi yang merengek-rengek. Bak seorang remaja yang tak mampu untuk menahan haru.

    Meroket Sebelum Usia Emas

    Kecintaan Uli Hoeness pada Bayern sesungguhnya amat tak terkira. Sama seperti kecintaannya pada sepakbola Jerman. Sepakbola pula yang telah membesarkan namanya dan menambah jumlah pundi-pundi kekayaanya. Sepakbola juga yang mengubahnya, dari anak tukang daging menjadi jutawan yang berpengaruh di Jerman.

    Semua itu diawali tahun 1970, saat pelatih Bayern kala itu, Udo Latek, tertarik dengan bakat seorang pemuda berumur 18 tahun. Udo tak segan memainkan Uli muda dengan bintang-bintang tenar lainnya macam Franz Beckenbauer, Gerd Mueller dan Sepp Maier.

    Selain dengan sepakbola, pada masa-masa mudanya Uli terobsesi untuk menjadi seorang pakar ekonomi dan bergelut dalam dunia bisnis. Ia juga sempat mencoba mendaftar sebagai mahasiswa bisnis di Ludwig-Maximilians-Universitaat Muenchen.

    Sayang, Hoeness gagal karena nilainya tak memenuhi batas passing grade yang ditetapkan. Hoeness pun lalu memilih jurusan keguruan dengan fokus pada sejarah. Tapi minatnya setengah-setengah. Ketika semester dua Uli memilih drop out dan berkarir sebagai pesepakbola.

    Apa yang dipilihnya tepat. Hoeness muda sedang tenar dan dipuja-puja. Pada usia 20 tahun, bersama Gerd Mueller, keduanya menjadi penyerang terproduktif di Bundesliga sepanjang masa. Total 53 gol dicetak oleh mereka sepanjang musim 1971/1972.

    Karirenya mungkin lebih beruntung dibandingkan Pele, Maradona, atau Messi sekalipun. Uli pernah membawa timnya menyabet semua kejuaraan lokal, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, Piala Eropa, dan Piala Dunia. Hanya satu medali saja yang tak dipunyai Hoeness dalam lemari tropi: gelar pemain terbaik dunia.

    Ajaibnya, semua prestasi itu disabetnya hanya dalam waktu 9 tahun, saat dia belum mencapai usia emas. Ya, akibat cedera yang dialaminya, Uli memutuskan gantung sepatu pada usia 27 tahun. Ini tentu usia yang teramat muda mengingat masa-masa emas sebagai pemain bola biasanya terjadi pada usia 25-30 tahun.

    Tahun 1979, sebagai penanda perpisahan Uli dan sepakbola, digelarlah satu pertandingan persahabatan. Sebagaimana minggu lalu, Hoeness pun menangis tersedu-sedu di depan ribuan fans. Perpisahan pertama antara Uli dan Bayern.

    Manajer Termuda di Bundesliga

    Beberapa hari kemudian, 1 Mei 1979, secara mengejutkan Bayern mengangkat Uli sebagai seorang manajer. Ia pun mencatatkan rekor lagi. Uli didapuk sebagai manajer termuda di Bundesliga dalam usianya yang kala itu baru 27 tahun.

    Dengan memberlakukan sistem 51% kepemilikan oleh fans, kebanyakan klub Jerman memang memilih eks-pemain masuk dalam jajaran pengurus klub. Di Bayern, budaya itu mengakar amat kuat. Mereka tak hanya merekrut Hoeness saja tapi juga pemain-pemain macam Paul Breitner, Beckenbauer, Karl-Heinz Rummenigge dan masih banyak lainnya.

    Tugas Hoeness waktu itu amatlah berat. Pada usianya yang tidak muda, ia bukan dibebani untuk bertarung habis-habisan di lapangan, tapi harus memutar otak untuk menstabilkan keuangan klub. Pada masa itu Bayern sendiri sedang mengalami krisis utang yang mencapai belasan juta marks. Siapa sangka, Uli yang tak lulus jadi mahasiswa bisnis itu ternyata bisa jadi juru selamat Bayern. Masalah Bayern perlahan diatasi.

    Salah satu dari sekian banyak inovasi keuangan yang ia lakukan adalah dengan serius menggarap merchandise klub dan memulai invasi pasar ke Amerika Serikat. Hasilnya jutaan dolar masuk ke kas Bayern.

    Salah satu yang membuat orang kagum pada Uli adalah kesuksesannya mengajak Bayern hengkang dari Stadion Olimpia milik pemerintah daerah, dan beralih ke stadion milik klub. Ide itu datang dari Hoeness. Ia juga yang sukses merealisasikannya.

    Pada mulanya, Bayern memang patungan bersama TSV 1860 Munich untuk membangun Allianz Arena, ditambah dengan dana bantuan pemerintah karena Jerman akan menggelar Piala Dunia 2006. Namun karena 1860 Munich bangkrut, Uli pun mengambil semua saham kepemilikan Allianz Arena untuk jadi sepenuhnya hak milik Bayern.

    Sukses dalam ekonomi, sukses juga dalam soal gelar. Total 34 piala lokal dan 1 piala Liga Champions telah ia berikan pada Bayern. Kariernya sebagai manajer Bayern amatlah lama dan berlangsung hampir lebih 30 tahun.

    Akhirnya, pada tahun 2009, Uli pun terpilih dalam rapat tahunan untuk menjadi presiden klub. Sungguh cerita yang sangat manis. Menjadi raja dari dinasti yang ia bangun dengan tangannya sendiri semenjak jadi pemain.

    Tergoda Meja Judi

    Duduk di jajaran direksi sebenarnya bukan hal baru bagi Uli. Pada tahun 2002, saat Bayern membentuk sebuah konsorsium untuk mengelola saham bersama Adidas, Allianz, dan Audi, Uli masuk pada tim itu dan jadi wakil ketua. Dia bertanggung jawab untuk mengelola kontrak pemain asing, tim junior, sponsorship , perizinan, dan pengelolaan stadion Allianz Arena.

    Siapa sangka, jabatan itulah yang membuatnya merana hari ini.

    Dari tim itu ia menjalin pertemanan dengan bos Adidas, Robert Louis Dreyfus. Dan Dreyfus-lah yang jadi orang yang pertama kali memberikan modal untuk Hoeness berjudi di bursa saham. Ketika Hoeness membutuhkan dana lebih, Dreyfus pula yang meminjamkan namanya sendiri agar Hoeness bisa diberikan pinjaman oleh bank.

    Tak sulit untuk mengerti kenapa Hoeness sampai terjebak pada kebiasaan yang membuatnya harus menongkrongi berbagai laporan saham siang dan malam. Bertaruh pada yang tak pasti, serta merasakan adrenalin yang terus meningkat saat kekalahan dalam jumlah besar terus mengintai, memang bisa jadi candu.

    Mungkin Bayern sudah tak lagi menjadi tantangan bagi orang seperti Hoeness yang hasrat untuk menangnya sangat tinggi. Bayern sudah jadi dinasti yang menguasai Bundesliga. Tanpa Hoeness harus bersusah-payah lagi pun Bayern akan menang dan menang. Berjudi besar-besaran di meja saham pun terlihat sangat menggoda.

    "Pada tahun-tahun 2002 hingga 2006, saya melakukan perjudian. Tapi saya berjudi dengan benar. Saya melakukannya siang dan malam dengan jumlah uang yang terlalu sulit untuk dipahami bagi saya hari ini, jumlah yang amat ekstrim," keluh Hoeness. Lama kelamaan, Hoeness mulai rakus. Ia butuh bertaruh dalam jumlah yang lebih besar lagi.

    Hingga akhirnya majalah Focus memberitakan liputan investigasi tentang Hoeness yang melakukan penggelapan pajak lewat rekening gelap di Bank Swiss. Selama bertahun-tahun, Hoeness memang merahasiakan satu rekening bank dan tidak melaporkannya kepada kantor pajak Jerman.

    Pengadilan pun melakukan investigasi. Secara mengejutkan Houness mengakui bahwa ia melakukan penggelapan pajak senilai 3,5 juta euro. Namun, setelah diselidik lebih dalam, kejujuran Hoeness itu nyatanya bohong. Terhitung minimal total 18,5 juta euro kerugian negara diakibatkan oleh Hoeness.

    Tak ayal pria tambun itu mendapat cacian seantero negeri. Pasalnya, ia kerap mencitrakan diri sebagai sosok yang bersih. Kritik kerasnya terhadap Barcelona dan Real Madrid yang tidak mau membayar pajak membuat dia dipuji seluruh Eropa. Ternyata yang mengkritik sama saja liciknya dengan yang dikritik. Itu yang membuat Hoeness semakin dibenci di tanah airnya sendiri.

    Politisi Joachim Poss dari partai SPD pun mengkritiknya dengan amat pedas. "Ketidakpedulian manajer terhadap hukum dan moral tidak bisa dimaafkan. Hoeness telah menjadi simbol kriminalitas orang kaya," ucapnya pada kantor berita Deustch Welle.

    “Kisah Uli Hoeness dan Bayern Munich adalah sejarah kecil tentang kapitalisme, dengan segala hiasannya, dengan segala persaingannya, dengan ketiadaan rasa hormat, dengan pembangkangan pada negara, dengan kebebasan, dengan permainan, dan tentu saja dengan kerakusan, dengan nafsu tak berujung menginginkan lebih dan lebih. Dan itu adalah versi kapitalisme Jerman meski masih memiliki unsur-unsur sosialisme. Semua tadi cukup digambarkan lewat Uli Hoeness," cela majalah Der Spiegel.

    Apa yang dikatakan Der Spiegel memang ada benarnya. Di balik sifatnya yang tamak, Houness adalah pria yang memiliki kepekaan sosial cukup tinggi.

    Orang tak akan pernah lupa saat Hoeness memutuskan untuk membantu klub paling proletar di dunia, yang selalu memposisikan diri sebagai musuh bagi Bayern Munich, St Pauli. Jutaan euro digelontorkan Bayern pada St. Pauli agar mereka bisa terus eksis. Aksinya ini bahkan membuat Hoeness mendapat penghargaan kehormatan dari pemerintah lokal Hamburg atas usahanya dalam menyelamatkan St Pauli.

    Tak berhenti sampai di St Pauli, Hoeness pun tak segan membantu klub rival Borrusia Dormund, Hertha Berlin, dan Hansa Rostock.

    Tapi cerita baik tinggal cerita. Semua kejayaan yang dibangun selama 44 tahun kini hanya jadi sejarah yang bisa diingat Hoeness dari balik jeruji penjara. Reputasi dan kebanggaan yang telah ia pertaruhkan dalam lembaran-lembaran saham dan mata uang asing itu pun kini harus melayang. Patron Di Roten itu kalah bertaruh. Dan kini sang raja Bundesliga hanya bisa menangis tersedu-sedu.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Item Reviewed: Jatuhnya Sang Raja Bundesliga Rating: 5 Reviewed By: Blogger
    Scroll to Top