728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

    Mengetahui Letak Kesalahan Itu Penting

    Ferry Timbuleng Lebih 20 Tahun Jadi Pengemudi Tram di Melbourne

    Tiba di Australia 35 tahun lalu, menggunakan visa turis, seorang warga asal Indonesia Ferry Timbuleng sekarang sudah lebih dari 20 tahun bekerja sebagai pengemudi tram di kota Melbourne.

    Ferry yang sekarang berusia 59 tahun, mulai bekerja sebagai supir tram sejak tahun 1991, dan sekarang depotnya berada di kawasan Malvern yang berisi tram jalur 5,6,8, 16 dan 72.

    "Ini mungkin salah satu depot tram terbesar di dunia, dan yang jelas terbesar di Melbourne." kata Ferry dalam percakapan dengan wartawan ABC Australia Plus Indonesia L. Sastra Wijaya lewat telepon.

    Perkenalan Timbuleng dengan tram ini dimulai di tahun 1990 ketika dia menjadi kondektur. Tram adalah salah satu sarana transportasi utama di Melbourne dan memiliki jaringan yang terbesar di dunia.

    "Saya sebelumnya bekerja di pabrik, namun saya tidak suka. Akhirnya saya melamar jadi kondektur, dan ketika itu tugasnya adalah menjual karcis kepada penumpang. Setahun bekerja jadi kondektur, kemudian saya naik menjadi kondektur dan pengemudi tram. Setelah itu, baru bekerja sebagai pengemudi," tambahnya.

    Ferry tiba di Australia tahun 1980-an. Ia datang dari Indonesia. Ia tidak menyelesaikan pendidikan SMA ketika pindah ke Melbourne.

    "Saya adalah orang Manado, namun lahir di Jakarta dan dibesarkan di Surabaya. Ketika itu saya masih kelas dua SMEA, ada yang menawarkan untuk bekerja di Kalimantan. Namun kemudian ada teman yang mengusulkan untuk pergi ke Australia. Kami tiba dengan visa turis dua minggu. Teman saya kemudian tidak betah tapi saya tetap tinggal di sini," kata Ferry.

    Setelah itu, dia bekerja serabutan dan karena tidak memiliki visa resmi, ia menjadi imigran gelap. "Kemudian saya menikah dengan istri saya, yang berasal dari Kupang, yang sudah mendapat status permanen resident. Kami ketemu di gereja. Dari situ saya mendapat status yang resmi," lanjutnya.

    Bagaimana suka duka menjadi pengemudi tram selama lebih dari 20 tahun?

    "Saya senang dengan pekerjaan saya ini. Tiap hari selalu berhadapan dengan suasana baru. Tidak ada hari yang sama. Saya orangnya suka bertemu dengan orang lain, jadi saya merasa cocok dengan pekerjaan ini," kata ayah dari tiga anak tersebut.

    "Senang kalau bertemu dengan warga Indonesia. Biasanya dimulai dari pertanyaan mereka kepada saya mengenai jalur tram. Dari logatnya saya biasanya tahu kalau mereka berasal dari Indonesia," tambahnya.

    Di Melbourne ada 25 rute yang dilewati oleh tram, dengan jalur sepanjang 250 km, dan di tahun 2014, ada 493 tram. Ada 8 depot tram di seantero kota ini dengan Depot Malvern, tempat Timbuleng bekerja menjadi pusat bagi 85 tram.

    Dalam pekerjaannya, Ferry tidak hanya menjadi pengemudi pada satu jalur tertentu saja dan satu jenis tram saja. "Tergantung kepada pengaturannya, jadi setiap hari  mengendarai berbagai tram yang berbeda. Menyupir tram sebenarnya tidak sulit setelah melewati berbagai pelatihan. Yang paling penting adalah bagaimana mengetahui adanya kesalahan bila tram mogok," katanya lagi.

    Mengetahui kesalahan itu sangat diperlukan karena bila tram mogok, diperlukan mekanik untuk datang. "Jadi kita harus tahu dimana letak kesalahannya, sehingga mekanik bisa membawa peralatan yang diperlukan untuk memperbaiki kerusakan," tambah Ferry.

    Selama karirnya apakah dia pernah mengalami kecelakaan?

    "Bagi setiap pengemudi tram itu seperti sudah harus diterima sebagai kenyataan bahwa pasti akan mengalami kecelakaan. Saya pernah mengalaminya 13 tahun lalu, ketika tram saya "mencium" bagian belakang sebuah mobil. Semula saya mengira mobil tersebut akan belok. Dengan tiap hari berada di jalan, dan tram yang memerlukan waktu untuk berhenti, jarak dengan kendaraan lain sangat penting," kata Ferry mengenai kiat untuk menjadi pengemudi tram yang aman.

    Tidak seperti di Indonesia, bekerja sebagai petugas layanan publik seperti supir tram ini memberikan penghasilan yang mencukupi bagi Ferry Timbuleng dan keluarganya.

    "Tapi tidaklah melebihi 100 ribu dolar (sekitar Rp 1 miliar) per tahun seperti yang pernah diberitakan. Lebih sedikit dari itu, namun bagi saya sudah mencukupilah," katanya.

    Di tahun 2015, Ferry mengatakan penghasilannya mencapai 86 ribu dolar, bayaran yang sama seperti manajer kelas menengah di Australia.

    "Namun itu karena saya bekerja enam hari dalam seminggu selama beberapa bulan. Juga karena adanya sistem penalti, artinya bagi mereka yang mau bekerja di akhir pekan atau di hari libur, mereka mendapat bayaran tambahan," tambahnya lagi.

    Ferry Timbuleng bukanlah satu-satunya warga asal Indonesia yang bekerja sebagai supir tram di Depot Malvern tersebut. "Ada sekitar 5 orang Indonesia lainnya. Secara keseluruhan di Depot saya ini mereka yang bekerja berasal dari sekitar 30 negara yang berbeda," demikian Ferry Timbuleng.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Item Reviewed: Mengetahui Letak Kesalahan Itu Penting Rating: 5 Reviewed By: Blogger
    Scroll to Top