728x90 AdSpace

Saat Kau butuhkan tetesan air 'tuk segarkan relung jiwamu yang mulai mengering...

  • Latest News

    Bertahan Hidup Adalah Permainan Pikiran

    Bak Cerita Fiksi, Bertahan Hidup Setahun Terkatung-katung di Samudra Pasifik

    Kisah ini akan terasa akrab bagi pembaca novel atau film saduran novel Life of Pi. Terombang-ambing di lautan dalam jangka waktu lama, bertahan hidup, berhasil kembali ke daratan, dan ceritanya diragukan. Bedanya hanya ketiadaan hewan dalam kisah nyata ini seperti halnya cerita fiksi karangan Yann Martel tersebut.

    Adalah Jose Salvador Alvarenga (37) yang mengaku menghabiskan lebih dari satu tahun terombang-ambing di laut. Dia tiba di Majuro, ibu kota Kepulauan Marshal, terlihat seperti orang yang memang hilang selama setahun.

    Berambut panjang terburai dengan jenggot berantakan, Alvarenga tersenyum dan melambaikan tangan kepada kerumunan orang sembari menggenggam kaleng minuman ringan yang dia sebut sebagai minuman bersoda pertama yang dia nikmati setahun terakhir.

    Alvarenga berasal dari Meksiko. Kepulauan Marshall tempat dia terdampar berjarak sekitar 5.500 mil atau hampir 9.000 kilometer dari tempat asalnya. Meski mengaku baru lepas dari ujian hidup berat di samudra, Alvarenga masih tampil "chubby".

    Kisah Alvarenga pun ibarat versi kehidupan nyata dari cerita film Cast Away. Kali ini dengan pengecualian adegan voli pantai. Otoritas Kepulauan Marshall dengan hati-hati menyatakan keraguan atas penuturan Alvarenga dalam bertahan di lautan.

    Kisah Alvarenga

    Dalam penuturannya Alvarenga mengatakan dia tersesat setelah memancing hiu di lepas pantai Meksiko pada Desember 2012. Dia mengaku bertahan hidup di Samudra Pasifik dengan makan ikan, burung, dan kura-kura.

    Sebagaimana dituturkan Duta Besar Amerika Serikat untuk Republik Kepulauan Marshall, Thomas Armbruster, Alvarenga mengaku meraup ikan kecil yang berenang di samping perahunya dan memakan ikan itu mentah-mentah. Untuk mengatasi rasa haus, dia meminum darah burung yang bisa dia tangkap.

    Kepada petugas, Alvarenga mengaku berasal dari El Salvador tetapi telah lama tinggal dan bekerja di Meksiko sebagai nelayan selama 15 tahun sebelum hanyut. Pada Desember 2012, Alvarenga mengatakan dia meninggalkan Meksiko menggunakan perahu fiberglas bersama seorang rekan remaja bernama Yehezkiel.

    Hantaman badai menjadi awal "petualangannya" terkatung-katung di lautan. Menurut Alvarenga seperti ditirukan Armbruster, Yehezkiel meninggal sebulan sejak pertama kali perahu mereka dihantam badai.

    Lebih dari setahun di laut, Alvarenga mengatakan kepada petugas dia berenang ke daratan Ebon, daerah kecil yang masuk wilayah Kepulauan Marshall. Dengan cepat, cerita perjuangannya bertahan di laut menjadi buah bibir warga. Setelah menjalani pemeriksaan medis, Alvarenga ingin cepat kembali ke Meksiko.

    "Dia sangat ingin kembali berkomunikasi dengan majikannya, dan juga dengan keluarga Yehezkiel," ujar Armbruster mengutip Alvarenga. "Itulah motivasi dia sekarang."

    Benarkah Alvarenga Terkatung-katung 13 Bulan di Pasifik?

    Kisah petualangan Jose Salvador Alvarenga yang berhasil bertahan hidup setelah hanyut terkatung-katung selama setahun lebih di Lautan Pasifik terus menuai perdebatan. Banyak kalangan meragukan kebenaran kisah Alvarenga tersebut, tetapi sejumlah pakar di Australia menilai kisah itu masuk akal.

    Jose Salvador Alvarenga (37), nelayan asal El Salvador, mengaku dirinya berlayar dari Meksiko untuk berburu ikan hiu dengan kapal fiberglass-nya pada 21 Desember 2012.

    Lebih dari setahun kemudian, pria ini ditemukan dalam keadaan kebingungan di salah satu pulau terumbu karang di Kepulauan Marshall. Pria ini mengaku selama terapung di lautan, dia mampu bertahan hidup dengan menangkap burung dan ikan dengan tangan kosong dan meminum darah penyu.

    Banyak kalangan meragukan kebenaran cerita petualangan Alvarenga ini, termasuk pejabat sementara Kementerian Luar Negeri Kepulauan Marshall sendiri, Gee Bing.

    "Pengakuan Alvarenga memang kisah yang luar biasa, tetapi saya sendiri tidak yakin dengan kebenaran kisah itu," kata Gee Bing kepada media.

    "Ketika saya melihatnya, dia tidak terlalu kurus dibandingkan dengan dua penyintas lain yang pernah kita temui sebelumnya. Jadi, saya sedikit ragu," tegasnya.

    Kepada media The Telegraph, Alvarenga mengatakan, dia baru saja menangkap burung untuk dimakan ketika dia melihat pohon di kejauhan.

    "Saya menangis, Ya Tuhan, saya harus tiba di daratan dan tidur dalam waktu lama. Lalu, pagi harinya saya mendengar suara kokok ayam dan melihat ayam dan sebuah rumah kecil," dikutip dari The Telegraph.

    Alvarenga mengatakan, dia berhasil bertahan hidup dalam perjalanan selama 13 bulan tersebut dengan memakan ikan dan burung serta minum air hujan, darah penyu, dan air seninya sendiri.

    Nick Vroomans, Direktur Lembaga Layanan Seni Bertahan Hidup—Staying Alive Survival Services— di Queensland kepada ABC mengatakan, kisah bertahan hidup yang diklaim Alvarenga sangat masuk akal.

    Menurutnya, Alvarenga bisa jadi diuntungkan dengan faktor lingkungan di Lautan Pasifik yang dikenal tinggi kadar air hujan segar dan satwanya.

    "Dia dan orang lain yang pernah terapung di Lautan Pasifik punya kesempatan yang lebih baik untuk mampu bertahan hidup dalam waktu yang lama," kata Vroomans.

    "Kondisi lingkungan di bagian Pasifik (di Meksiko), terutama di sebelah Selatan Amerika dan Amerika Tengah memang agak kondusif bagi orang untuk mendapat air segar dan makanan," tambah Vroomans.

    "Pastinya Anda bisa menampung air hujan karena tampaknya Alvarenga tidak punya metode untuk mengolah air laut agar aman diminum," katanya.

    Begitu juga dengan menangkap ikan dan burung, mengingat di lautan kedua satwa tersebut memang diketahui sering berada di dekat kapal yang mereka jadikan tempat berteduh dan mencari makanan.

    "Ikan kecil senang  berada dibawah perahu karena teduh dan lebih dingin, dan biasanya kalau ada ikan kecil pasti ikan besar ikut berdatangan," kata Vroomans.

    Vroomans juga menilai klaim Alvarenga soal bertahan hidup dengan minum darah penyu juga masuk akal.

    "Saya juga pernah minum darah penyu dan itu sangat kaya protein. Darah penyu akan memberi dampak sangat signifikan buatnya. Protein sangat penting dalam situasi bertahan hidup karena dapat memperbaiki sel tubuh," paparnya lagi.

    Selain itu, pakar kelautan juga memandang kisah Alvarenga juga sangat mungkin terjadi, mengingat arah permukaan arus memungkinkan kapal itu hanyut dari arah Barat Meksiko dan akhirnya terdampar di Kepulauan Marshall.

    Peneliti dari Universitas Teknos, Sydney, Martina Doblin, mengatakan arah umum dari arus permukaan di Samudra Pasifik konsisten dengan gerakan kapal Alvarenga ke arah barat.

    Studi yang pernah dilakukan oleh pakar kelautan Amerika tahun 1953 yang melacak material terapung dari muntahan letusan gunung berapi di pantai barat Meksiko juga berhasil menemukan material terapung itu mampu hanyut sampai Kepulauan Marshall.

    Material terapung itu bergerak 18 cm per detik dan butuh waktu sekitar 560 hari untuk mencapai bagian terpencil dari kepulauan tersebut.

    Permainan alam pikiran

    Sementara itu, sejumlah pakar seni bertahan hidup mengatakan, kondisi psikologis Alvarenga dalam menghadapi situasi yang dialaminya menjadi faktor utama yang membuatnya mampu bertahan hidup meski terapung di lautan selama 13 bulan.

    Pakar seni bertahan hidup, Bob Cooper, mengatakan bertahan hidup adalah permainan pikiran.

    "Jadi, kuncinya jangan pernah menyerah," katanya.

    Vroomans sepakat dengan hal ini, menurutnya, dalam situasi bertahan hidup perasaan menerima situasi yang kita hadapi bisa mendorong kita untuk lebih mampu mengambil keputusan yang logis.

    "Sejumlah orang ada yang larut dalam keputusasaan dan mereka berakhir dengan lebih cepat meninggal," katanya.

    Alvarenga saat ini sedang dirawat di ibu kota Kepulauan Marshal Majuro karena menderita dehidrasi dan sejumlah rasa nyeri. Namun, pria itu dalam kondisi stabil.

    Otoritas Kepulauan Marshall mengatakan, sidik jari Alvarenga telah mengonfirmasikan identitasnya dan pemerintahnya telah menghubungi otoritas Meksiko dan El Savador mengenai mekanisme pemulangan Alvarenga

    Alvarenga, yang 13 Bulan Terkatung di Pasifik, Siap Pulang
             
    MAJURO — Jose Salvador Alvarenga, yang terdampar di Kepulauan Marshall setelah 13 bulan terkatung-katung dalam sebuah kapal nelayan kecil di Pasifik, Rabu (5/2/2014), mempersiapkan perjalanan pulang yang lebih cepat. Sementara itu, ibunya di El Salvador menyebut selamatnya Alvarenga sebagai "sebuah keajaiban ilahi".

    Para pejabat di Kepulauan Marshall mengatakan, Alvarenga akan berangkat dari negara kecil di Pasifik itu pada hari Jumat menuju Hawaii, sebelum menuju ke El Salvador atau Meksiko. "Kemungkinan besar dia akan dipulangkan ke El Salvador," kata pejabat urusan luar negeri kepulauan itu, Anjanette Kattil, kepada AFP. "Awalnya kami pikir dia orang Meksiko tetapi walaupun dia bukan warga Meksiko, Kepulauan Marshall akan memberikan bantuan kepada siapa saja yang terdampar di pantai kami."

    Alvarenga lahir di El Salvador, tetapi telah lama tinggal di Meksiko. Dari sanalah, berdasarkan pengakuannya, dia berangkat mencari ikan pada akhir 2012 sebelum kemudian tersesat dan hanyut dalam sebuah kapal kecil hingga sejauh sekitar 12.500 kilometer hingga mencapai Marshall.

    Pria 37 tahun itu mengatakan, dirinya bertahan hidup dengan memakan ikan mentah dan burung serta minum darah penyu, urinenya sendiri serta air hujan selama 13 bulan. Namun temannya, seorang remaja bernama Xiguel, meninggal karena kelaparan dalam peristiwa itu.

    Keluarganya, termasuk seorang anak perempuan usia 14 tahun bernama Fatima yang tidak punya ingatan tentang ayahnya yang berangkat ke Meksiko sebelum dia dilahirkan, mengatakan, mereka sedang menunggu kedatangan Alvarenga.

    "Ini keajaiban ilahi, tanda bahwa Tuhan penuh kasih terhadap kehidupan putra kami," kata ibunya, Maria Julia, dari rumahnya di pantai Pasifik di El Salvador dengan air mata sukacita mengalir di wajahnya. "Saya terus berpikir bahwa suatu hari dia akan kembali kepada kami, bahwa Tuhan ingin dia kembali ke rumah kami."

    Dehidrasi parah

    Alvarenga dikeluarkan dari rumah sakit di ibu kota Marshall, Majuro, pada Selasa malam, setelah sebuah pemeriksaan medis menemukan dia menderita dehidrasi parah dan efek pola makan yang buruk, tetapi sehat. Jenggot lebat yang tumbuh selama berbulan-bulan dia terkatung-katung di laut telah dicukur. Hari Rabu ini dia tinggal di sebuah hotel lokal dan dijaga dua orang polisi.

    Alvarenga telah menjadi semacam selebriti di Kepulauan Marshall, dan Kattil mengatakan penduduk setempat menyayanginya. "Orang-orang tak dikenal datang ke rumah sakit untuk membawa makanan, pakaian, perlengkapan mandi, dan selimut buat dia," katanya.

    Alvarenga dijadwalkan akan mengadakan konferensi pers sebelum meninggalkan Kepulauan Marshall.

    Nelayan itu tampak sangat sehat hanya beberapa hari setelah ditemukan berkeliaran dalam keadaan kebingungan dan hanya mengenakan celana compang-camping di atol karang di mana perahunya terdampar.

    Ada sejumlah kontradiksi tentang tanggal yang dia sampaikan kepada media dalam berbagai wawancara sejak diselamatkan. Namun, pihak berwenang di Meksiko menegaskan, mereka melancarkan pencarian udara dan laut buat dia dan seorang anak laki-laki yang hilang pada November 2012. Para nelayan di negara bagian Chiapas, Meksiko selatan, juga mengatakan mereka ingat Alvarenga, yang dikenal dengan julukan "La Chanca" atau "Si Gemuk". "Kami terkejut, tetapi tidak ada keraguan bahwa itu dia," kata nelayan William Uscanga setelah melihat foto pria yang terdampar itu.

    Walau beberapa orang telah menyatakan keraguan tentang kisah Alvarenga, para ahli tentang ketahanan hidup seperti Hilmar Snorrason dari Asosiasi Internasional Inggris untuk Keselamatan dan Survival Training mengatakan prestasi yang luar biasa itu, secara teori, mungkin saja. "Saya bisa membayangkan ada banyak orang yang berpikir cerita ini tidak bisa dipercaya. (Tetapi) secara teoritis, jawaban saya adalah ya, sangat mungkin," kata Snorrason kepada AFP.

    El Salvador tidak punya hubungan diplomatik dengan Kepulauan Marshall, tetapi Meksiko punya. Seorang pejabat Meksiko dijadwalkan berada di Majuro pada Rabu malam ini untuk mengoordinasikan pemulangan Alvarenga.

    Dalam sebuah wawancara dengan AFP dari rumah sakit pada Selasa, Alvarenga mengatakan dia pernah punya pikiran untuk bunuh diri selama terkatung-katung di laut, tetapi dia bertahan karena mimpi untuk bisa bersatu kembali dengan keluarganya dan menyantap tortilla serta ayam.

    Ibunya sangat ingin memenuhi keinginannya itu. "Kami akan menyediakan makan besar baginya, tetapi kami tidak akan memberinya ikan karena dia pasti sudah bosan makan ikan," katanya. "Kami akan menyediakan baginya daging, kacang-kacangan, dan keju dalam piring besar untuk membantunya pulih."
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Item Reviewed: Bertahan Hidup Adalah Permainan Pikiran Rating: 5 Reviewed By: Blogger
    Scroll to Top